Market Hari Ini 08 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com Editor: Tim Editorial

Investor Gathering Bahas Strategi 2026: RHB Sekuritas Soroti Peluang di Industri Migas

Equity Research Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Arandi Nugraha, menilai tahun 2026 menuntut investor lebih selektif

Equity Research Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Arandi Nugraha, menilai tahun 2026 menuntut investor lebih selektif

Ilustrasi aktivitas pekerja (Foto: Dok. REC)
Ilustrasi aktivitas pekerja (Foto: Dok. REC)

KABARBURSA.COM - Dinamika pasar saham serta strategi investasi 2026 menjadi pembahasan utama dalam kegiatan Investor Gathering yang digelar di Jakarta, Jumat, 7 Februari 2026. Acara ini mengupas dasar pasar saham sekaligus outlook investasi bersama para praktisi pasar modal.

Equity Research Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Arandi Nugraha, menilai tahun 2026 menuntut investor lebih selektif, khususnya pada sektor berbasis komoditas seperti CPO (crude palm oil) serta minyak & gas (migas).

Untuk sektor perkebunan, Arandi melihat ruang penguatan harga CPO relatif terbatas. Ia menyebut proyeksi harga CPO tahun 2026 berada di kisaran 4.250 ringgit Malaysia per ton.

Menurutnya, kenaikan pungutan ekspor membuat harga jual CPO Indonesia terdiskon dibanding Malaysia. Jika harga CPO Malaysia di level tertentu, maka ekspor Indonesia hanya bisa menikmati sekitar 87,5 persen dari harga tersebut.

Berbeda dengan sawit, Arandi justru melihat industri migas lebih menarik untuk strategi 2026. Ia menilai harga minyak sangat dipengaruhi tiga faktor utama, yakni supply-demand, persediaan, dan sentimen geopolitik.

Ia menjelaskan, produksi minyak Amerika Serikat berpotensi melambat karena harga saat ini belum cukup menarik bagi perusahaan migas untuk agresif melakukan eksplorasi.

“Jumlah sumur produksi di AS sudah turun sekitar 12–14 persen secara tahunan. Kalau harga minyak tidak favorable, produksi AS bisa turun lebih cepat dari perkiraan,” jelasnya.

Sementara dari sisi permintaan, konsumsi global bahan bakar cair diperkirakan tetap meningkat seiring perbaikan ekonomi, termasuk dari China sebagai importir minyak terbesar dunia.

Arandi memperkirakan harga minyak global 2026 akan bergerak di atas USD60 per barel, karena di bawah level tersebut tidak ekonomis bagi banyak perusahaan migas, terutama di Amerika Serikat.

“Kalau terlalu murah, eksplorasi berhenti. Itu sebabnya banyak kepentingan global menjaga harga minyak tetap di atas USD60,” katanya.

Ia juga menyinggung target ambisius Indonesia untuk meningkatkan produksi migas menuju 1 juta barel minyak per hari dan 12 BSCFD gas pada 2030. Hal ini membuka peluang investasi besar di sektor energi nasional.

“Indonesia menarik karena masih punya cadangan gas besar dan proyek seperti Andaman serta optimalisasi lapangan tua lewat EOR. Ini bisa jadi motor pertumbuhan sektor migas ke depan,” ujar Arandi.  (Nade) (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait