Market Hari Ini 11 Nov 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Investor Lokal Ambil Alih DEWA, Tren Kenaikan Masih akan Berlanjut?

BRI Danareksa Sekuritas mencatat saat ini DEWA diperdagangkan pada valuasi PER 101x dan PBV 3,61x

BRI Danareksa Sekuritas mencatat saat ini DEWA diperdagangkan pada valuasi PER 101x dan PBV 3,61x

Aktivitas tambang PT Darma Henwa Tbk. Foto: Dok DEWA.
Aktivitas tambang PT Darma Henwa Tbk. Foto: Dok DEWA.

KABARBURSA.COM - Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tengah dalam tren yang menanjak. Pada perdagangan, Selasa, 11 November 2025, saham ini dibuka menguat 3,52 persen ke level 412.

Bahkan sepanjang sesi I, saham emiten kontraktor pertambangan ini sempat menyentuh ke level 444 atau meningkat 11,46 persen.

BRI Danareksa Sekuritas mencatat saat ini DEWA diperdagangkan pada valuasi PER 101x dan PBV 3,61x, yang tergolong tinggi dibanding rata-rata industri (overvalued). Namun, dengan potensi pertumbuhan laba yang kuat, valuasi tersebut masih memiliki ruang kenaikan.

"Berdasarkan skenario +1 Standard Deviation PER di level 135x, estimasi fair value saham DEWA berada di sekitar Rp580 per saham," tulis BRI Danareksa dalam risetnya, Selasa, 11 November 2025.

Merujuk data Stcokbit, broker summary DEWA dalam rentang sebulan periode 10 Oktober-10 November 2025, memperlihatkan broker lokal seperti SQ, dan PD menjadi pembeli utama dengan nilai akumulasi masing-masing Rp42,3 miliar, dan Rp37,5 miliar.

Selain uda itu, broker lokal terbanyak yang mengakumulasi DEWA dalam sebulan yakni MG, DH, dan XL.
Sementara broker asing yakni YP memimpin akumulasi terbesar di saham ini sebesar  Rp52,8 miliar.

Dari sisi jual, broker II mencatat nilai jual tertinggi dalam sebulan sebesar Rp188,6 miliar dengan rata-rata harga Rp344 per saham, disusul YU (Rp81,1 miliar) dan AZ (Rp71,8 miliar).

Dari pantauan orderbook hari ini, antrean beli (bid) tebal muncul di kisaran Rp410–Rp428 dengan volume besar, sementara antrean jual (ask) menumpuk di area Rp440–Rp450. Struktur ini menandakan demand kuat di bawah harga 430, menjadikannya area support penting dalam waktu dekat.

BRI Danareksa menyebut, prospek DEWA tetap positif didorong oleh ekspansi armada, elektrifikasi operasional, serta diversifikasi ke tambang tembaga melalui GMR.

Dengan dukungan pendanaan yang kuat, target EBITDA Rp1,7 triliun, dan laba bersih Rp490 miliar di 2025, valuasi saham dinilai masih menarik.

"Potensi kenaikan didukung oleh efisiensi yang berkelanjutan serta prospek pertumbuhan jangka panjang," tulis BRI Danareksa.

Adapun dalam waktu sepekan terakhir, DEWA sudah melonjak 28,14 persen, dari Rp320 menjadi Rp428 per saham. Dalam sebulan terakhir kenaikannya mencapai 20,22 persen, dan dalam tiga bulan terakhir bahkan menembus +92,79 persen.

Kinerja jangka menengah juga tak kalah mencolok. Dalam enam bulan terakhir, saham DEWA melesat 183,44 persen, sementara sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD) sudah naik 285,59 persen dari level Rp83 di awal tahun menjadi Rp428 saat ini.

Dalam laman analisis Stockbit, seluruh 9 analis yang memantau saham DEWA memberikan rekomendasi buy (beli). Tidak satu pun yang menyarankan hold ataupun sell.

Rata-rata target harga yang ditetapkan analis berada di 465 per saham, dengan estimasi tertinggi mencapai 600, sementara target terendah dipatok di 350.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait