KABARBURSA.COM - PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) akan memasuki masa cum dividen pada 17 Juni 2026 dengan nilai dividen tunai Rp20 per saham. Pada harga saham Rp392, dividend yield yang ditawarkan mencapai sekitar 5,1 persen.
ISSP telah berdiri selama puluhan tahun ini dan merupakan salah satu produsen pipa baja terbesar di Indonesia yang produknya digunakan di berbagai sektor, mulai dari konstruksi, energi, infrastruktur hingga industri manufaktur.
Produk-produknya telah memenuhi berbagai standar internasional seperti ASTM, BS, JIS, ISO, API hingga SNI, sehingga mampu menembus pasar ekspor ke Jepang, Singapura, Taiwan, Amerika Serikat hingga Australia.
Perjalanan IPO dan Fundamental ISSP
ISSP resmi melantai di Bursa pada 22 Februari 2013 melalui penawaran umum perdana saham atau IPO dengan harga Rp295 per saham.
Saat itu perusahaan melepas 2,9 miliar saham dan berhasil menghimpun dana sekitar Rp856 miliar. Hingga saat ini jumlah saham beredar mencapai sekitar 7,19 miliar lembar dengan porsi free float sebesar 33,65 persen, memberikan likuiditas yang cukup baik bagi investor publik.
Dari sisi fundamental, ISSP memang sedang menghadapi fase konsolidasi setelah mencatatkan kinerja yang sangat baik beberapa tahun terakhir. Pendapatan perseroan pada 2025 mencapai Rp5,93 triliun dan pada kuartal pertama 2026 masih berada di level Rp1,22 triliun.
Jika dihitung secara annualised, pendapatan tahun ini diperkirakan berada di kisaran Rp4,89 triliun dengan TTM mencapai Rp5,87 triliun. Angka tersebut memang sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, namun masih menunjukkan skala bisnis yang sangat besar untuk emiten manufaktur domestik.
Hal yang sama juga terlihat pada laba bersih. Setelah membukukan laba Rp534 miliar pada 2025, ISSP mencatatkan laba Rp77 miliar pada kuartal pertama 2026. Secara annualised laba diperkirakan mencapai Rp308 miliar, sedangkan laba TTM masih berada di level Rp527 miliar.
Penurunan ini turut tercermin pada EPS yang turun dari 74,35 menjadi annualised sekitar 42,90, meski EPS TTM masih berada di level 73,31.
Meski laba mengalami normalisasi, kondisi keuangan ISSP tetap terlihat sehat. Current Ratio mencapai 2,99 yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek masih sangat baik.
Debt to Equity Ratio berada di level 0,36 dengan Long Term Debt to Equity hanya 0,19, sementara Altman Z-Score mencapai 6,15 yang mengindikasikan kondisi keuangan berada pada zona aman. Interest Coverage sebesar 4,28 kali juga menunjukkan kemampuan perusahaan membayar beban bunga masih cukup kuat.
Satu catatan yang perlu diperhatikan adalah free cash flow kuartalan yang masih negatif Rp105 miliar, namun angka tersebut relatif masih dapat ditoleransi untuk perusahaan manufaktur yang memiliki kebutuhan modal kerja cukup besar.
Harga Relatif Stabil
Menjelang cum dividen, pergerakan harga saham ISSP juga relatif stabil. Dalam beberapa hari terakhir saham bergerak di rentang Rp388 hingga Rp400 dan pada perdagangan terakhir ditutup di level Rp392 atau turun tipis 1,51 persen.
Nilai transaksi memang tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp16,5 miliar dengan volume 42 ribu lot, tetapi volatilitas yang rendah menunjukkan investor cenderung memilih menahan posisi menjelang pembagian dividen.
Dari sisi historis arus dana asing, terlihat pola yang cukup menarik. Pada 9 dan 10 Juni investor asing sempat membukukan pembelian bersih masing-masing Rp246,11 miliar dan Rp188,49 miliar. Namun setelah itu terjadi aksi jual bertahap dengan net foreign sell Rp137,75 miliar pada 11 Juni dan Rp167,17 miliar pada 12 Juni.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian investor asing mulai melakukan profit taking setelah penguatan yang terjadi sebelumnya, sementara investor domestik masih menjadi penopang utama pergerakan harga.
Pemegang Saham ISSP
Broker summary memperlihatkan gambaran yang lebih optimistis. Broker Stockbit Sekuritas Digital (XL) menjadi pembeli terbesar dengan nilai akumulasi mencapai Rp557,4 juta pada harga rata-rata Rp396.
Diikuti broker MNC Sekuritas (EP) sebesar Rp351 juta dan broker Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) Rp60,9 juta.
Sementara di sisi penjual, broker KB Valbury Sekuritas (CP) mencatatkan nilai jual Rp157,3 juta dengan rata-rata harga Rp395, disusul broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan Mandiri Sekuritas (CC).
Orderbook juga memberikan sinyal yang cukup menarik. Antrean beli terbesar berada di level Rp380 dengan lebih dari 11 ribu lot, disusul Rp384 sekitar 5 ribu lot dan Rp388 hampir 4.800 lot. Di sisi penawaran, tekanan jual terbesar berada di level Rp396 sebanyak 5.876 lot dan Rp400 sekitar 4.956 lot.
Total antrean beli mencapai sekitar 51.762 lot, lebih besar dibandingkan antrean jual sekitar 30.729 lot. Rasio tersebut menunjukkan minat beli masih lebih dominan dan area Rp388 hingga Rp392 berpotensi menjadi support jangka pendek.
Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp2,8 triliun, dividend yield lebih dari 5 persen, fundamental yang masih sehat serta struktur orderbook yang cukup kuat, ISSP menawarkan kombinasi menarik antara saham dividen dan saham value.
Tantangan utama memang berasal dari perlambatan laba pada 2026, namun selama permintaan pipa baja dari proyek infrastruktur dan sektor industri kembali meningkat, ISSP masih memiliki peluang untuk mempertahankan kinerja dan menjadi salah satu pilihan investor yang mencari pendapatan dividen sekaligus potensi apresiasi harga dalam jangka menengah.(*)