KABARBURSA.COM-Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan jumlah pengguna jasa karbon mencapai 46 partisipan hingga saat ini (YtD). Mayoritas partisipan berasal dari entitas publik yang terdaftar (listed companies) dan anak perusahaan dengan andil mencapai 26 persen.
"Pada sisi lain, BUMN dan anak perusahaan non-listed menyumbang 15 persen, diikuti oleh anggota bursa sebesar 9 persen, dan segmen lain mencapai 50 persen," ungkap Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, dalam konferensi di Gedung BEI, pada hari Senin
Upaya sosialisasi dan diskusi masih terus dilakukan oleh BEI kepada perusahaan terdaftar. Pendekatan ini sesuai dengan strategi perusahaan terdaftar dalam meraih target emisi bersih (net zero emission).
"Kami mengharapkan setiap perusahaan terdaftar dan emiten untuk mulai merancang road map mereka sendiri," tambahnya.
Tak luput dari perhatian, BEI memiliki optimisme bahwa jumlah peserta pengguna jasa bursa karbon dapat meningkat lebih dari 96 pada tahun 2024. Proyeksi ini mempertimbangkan integrasi sistem Apple Gatrik dengan sistem registrasi nasional pengendalian perubahan iklim (SRN-PPI) yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Dengan demikian, BEI menetapkan target penambahan 50 peserta pengguna jasa karbon pada tahun 2024.
"Pada akhir tahun 2024, kami menargetkan setidaknya 96 peserta, bahkan lebih dari 100 kami anggap masih memungkinkan," jelas Jeffrey pada hari Rabu (10/1) lalu.
Jeffrey juga menyoroti rencana BEI untuk meningkatkan volume transaksi di pasar karbon dengan mengintensifkan sosialisasi kepada perusahaan terdaftar di bursa.
"Kami juga sedang mempertimbangkan keterlibatan anggota bursa sebagai perantara di pasar karbon," tambahnya.
Namun demikian, BEI masih menunggu koordinasi lebih lanjut dengan KLHK terkait suplai unit karbon, mengingat pencatatan karbon terintegrasi dalam SRN PPI.