Market Hari Ini 27 Jun 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Jejak AKRA: Dari Perdagangan Kimia Dasar hingga Jadi 'Rebutan' Investor Global

Mengutip situs resmi perusahaan, AKR memulai bisnis usaha perdagangan bahan kimia dasar di Surabaya

Intip sejarah perjalanan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dari perdagangan kimia dasar hingga jadi raksasa logistik BBM nasional

Fasilitas kerja milik PT AKR Corporindo Tbk (Foto: AKRA)
Fasilitas kerja milik PT AKR Corporindo Tbk (Foto: AKRA)

Daftar Isi

  1. 01 Kepemilikan Saham AKRA
  2. 02 Kinerja Kuartal I 2026

KABARBURSA.COM - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) memiliki peran besar di industri nasional karena mengalirkan energi dan bahan baku ke penjuru Nusantara. Jika melihat ke belakang, perusahaan ini ternyata mengawali langkahnya dari usaha perdagangan bahan kimia dasar.

Mengutip situs resmi perusahaan, AKR memulai bisnis usaha perdagangan bahan kimia dasar di Surabaya. Bisnis ini dirintis pada 1960-an oleh Soegiarto Adikoesoemo, seorang wiraswasta dan pengusaha dari Surabaya. 
 

Soegiarto kemudian membentuk PT Aneka Kimia Raya pada 28 November 1977 dan memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta pada tahun 1985.

AKR membuka babak baru setelah menjadi perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta) pada tahun 1994 dengan harga saham perdana sebesar Rp4.000.

Dana yang dihimpun saat itu digunakan untuk mengembangkan infrastruktur Perseroan serta membangun terminal-terminal penyimpanan baru dan aset lainnya di pulau Jawa dan Sumatra.

AKR terus mengepakan sayapnya dengan mengembangkan area bisnisnya untuk distribusi produk bahan bakar minyak (BBM) pada awal dekade milenium.

Seiring dengan berkembangnya portofolio bisnis AKR, nama perseroan yang awalnya PT Aneka Kimia Raya Tbk pun diubah menjadi PT AKR Corporindo Tbk.

AKR kemudian menasbihkan diri sebagai perusahaan pertama yang beroperasi di bisnis BBM non subsidi.

"Pengalaman dan juga infrastruktur yang dimiliki Perseroan dalam mendistribusikan BBM non subsidi pada akhirnya mengantarkan Perseroan dalam memperoleh kepercayaan dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) untuk mendistribusikan BBM bersubsidi sejak tahun 2010," tulis manajemen.

AKR terus melaju, setelah perusahaan terus memperluas jaringan. Terbukti, kini mereka telah memiliki tangki penyimpanan dan terminal di 15 pelabuhan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Tak sampai di situ, AKR merambah investasi ke fasilitas pelabuhan dan infrastruktur di Indonesia guna mengembangkan jasa perdagangan, distribusi dan bisnis logistik.

AKR bersama mitra usahanya, Royal Vopak resmi membangun terminal independen penyimpanan BBM dengan nama PT Jakarta Tank Terminal (JTT) di Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 2011.
 

"JTT kini merupakan penyedia jasa penyimpanan yang modern dan efisien untuk perusahaan minyak Internasional maupun perusahaan Indonesia," tulis manajemen.

Tidak hanya berinvestasi di infrastruktur logistik, AKR juga fokus terhadap teknologi penyediaan rantai pasokan yang efisien dan pengendalian operasional di seluruh Indonesia.

Terkait ini, AKR  telah memperkenalkan sistem teknologi inovatif yang mampu memonitor dan mengendalikan pergerakan kargo, persediaan, serta distribusi BBM industri dan bersubsidi.

Adapun, AKR telah memasok bahan kimia dasar dari produsen di dunia, seperti Asahimas kimia (bagian dari Asahi Glass, Jepang), Solvay Eropa, dan Amerika Serikat.

Berpindah ke segmen BBM, hingga kini, AKR memasok produk olahan BBM dari pemasok minyak global yang ditujukan untuk industri pertambangan dan perkebunan, pembangkit Listrik, industri, komersial, serta sektor ritel melalui SPBUnya.

Kepemilikan Saham AKRA

Berdasarkan data dari Stockbit  per 17 Juni 2026, PT Arthakencana Rayatama masih berdiri kokoh sebagai pemegang saham mayoritas dan pengendali utama AKR.

Perusahaan tersebut menggenggam kepemilikan sebesar 64,61 persen atau setara dengan 12,97 miliar lembar saham.

​Daya tarik AKRA di mata investor global terlihat dari masuknya beberapa pengelola dana raksasa asing ke dalam daftar pemegang saham di atas 1 persen.

​Lembaga dana pensiun asal Malaysia, Employees Provident Fund Board, tercatat mengempit kepemilikan sebesar 3,23 persen (647,50 juta lembar saham).

Menariknya, pemerintah Norwegia melalui Government of Norway juga ikut mengoleksi saham AKRA dengan porsi kepemilikan sebesar 2,87 persen atau sebanyak 576 juta lembar saham.

Selain itu, beberapa manajemen investasi global lain yang masuk dalam jajaran pemegang saham jumbo di atas 1 persen meliputi CIM Investment Fund ICAV yang mendekap porsi sebesar 2,11 persen atau setara 424,35 juta lembar saham.

Disusul oleh Aberdeen Asia Focus PLC dengan kepemilikan 1,24 persen atau sebanyak 248,94 juta lembar saham, serta Prudential Life Assurance yang mengempit porsi 1,04 persen atau setara dengan 209,47 juta lembar saham.

Kinerja Kuartal I 2026

AKR membukukan kinerja gemilang pada kuartal I 2026 setelah mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp656,49 miliar. Angka ini naik dibanding periode serupa tahun sebelumnya senilai Rp565,21 miliar.

Kebaikan laba tersebut tidak lepas dari pendapatan usaha AKR yang tumbuh menjadi Rp12,94 triliun pada kuartal I 2026, atau meningkat dari Rp10,26 triliun secara year ini year.

Tak hanya itu, laba bruto emiten ini ikut meningkat menjadi Rp1,11 triliun, dibandingkan tiga bulan pertama 2025 yang sebesat Rp926,61 miliar.

Berpindah ke neraca, AKR memiliki total aset sebanyak Rp37,06 triliun per 31 Maret 2026. Catatan ini meningkat dari akhir 2025 yang sebanyak Rp36,56 triliun.

Kenaikan itu ditopang oleh bertumbuhnya kas dan setara kas yang menjadi Rp7,28 triliun dari Rp6,40 triliun.

Adapun totak ekuitas AKR pada kuartal I 2026 mencapai Rp16,19 triliun dari Rp15,61 triliun pada akhir tahun lalu. Di sisi lain, total liabilitas tercatat relatif stabil di level Rp20,88 triliun. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait