Market Hari Ini 31 Dec 2025 Penulis: Harun Rasyid Editor: Moh. Alpin Pulungan

Kenaikan Emas di 2025, Cermin Rupiah yang Melemah?

Kenaikan harga emas domestik sepanjang 2025 bukan semata kekuatan emas, tapi juga akibat pelemahan rupiah yang membuat harga tampak makin mahal.

Kenaikan harga emas dalam negeri 2025 sebagian besar disebabkan pelemahan rupiah, bukan hanya kekuatan komoditas emas. Simak penjelasan analis.

Ilustrasi kenaikan harga emas sepanjang 2025. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi kenaikan harga emas sepanjang 2025. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan harga emas yang terjadi sepanjang 2025 tidak bisa dibaca semata-mata sebagai kekuatan komoditi emas semata. 

Ia menilai, kenaikan tersebut juga merefleksikan nilai rupiah yang tergerus, sehingga harga emas dalam denominasi domestik tampak melonjak. Kondisi ini menunjukkan dua sisi mata uang yang berjalan beriringan di tengah ketidakpastian global.

Ibrahim menjelaskan, emas kerap menjadi tujuan penyimpanan nilai ketika tekanan ekonomi meningkat. Dalam situasi seperti ini, kata dia, pergerakan harga emas bukan hanya dipengaruhi faktor komoditas, tetapi juga dinamika nilai tukar.

“Nah, ini lindung nilai dari inflasi. Inflasinya tinggi, harga emas dunia akan diatas inflasi,” ujar Ibrahim kepada KabarBursa.com, Selasa, 30 Desember 2025.

Ia menjelaskan, ketika rupiah melemah, harga emas yang berbasis dolar AS otomatis terlihat lebih mahal di dalam negeri. Artinya, penguatan emas yang dirasakan masyarakat sebagian merupakan refleksi dari pelemahan mata uang, bukan semata lonjakan nilai intrinsik emas itu sendiri.

Dalam konteks global, Ibrahim menilai arus modal asing dan ketidakpastian ekonomi dunia turut memengaruhi pola tersebut. Emas kembali dipilih sebagai aset aman, sementara mata uang negara berkembang menghadapi tekanan.

Di sisi lain, ia menyoroti perbedaan dampak kondisi ini bagi masyarakat. Kelompok yang memiliki dana lebih besar dapat mengalihkan asetnya ke emas dan memanfaatkan kenaikan nilai tersebut. Sebaliknya, masyarakat yang bertahan dengan simpanan rupiah tidak memperoleh perlindungan yang sama.

“Kalau rupiah, stagnan segitu. Kita nabung rupiah, kena administrasi (bank) atau potongan pajak. Ujungnya segitu saja, tidak ada perubahan,” kata Ibrahim.

Ia menambahkan, pilihan terhadap emas juga dipengaruhi oleh persepsi stabilitas. “Terutama masyarakat kelas bawah itu paling senang membeli logam mulia, emas, perhiasan. Karenam mereka tahu bahwa harga emas ini tidak akan pernah turun,” ujarnya.

Dengan demikian, penguatan emas dan pelemahan rupiah menjadi dua sisi yang saling berkaitan. Di tengah ketidakpastian global dan pergerakan arus modal, kenaikan harga emas di dalam negeri tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan seiring dengan dinamika nilai tukar dan sentimen pasar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait