Market Hari Ini 29 Aug 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Ketersediaan Batu Bara Menipis, GEMS Yakin Capai Target

Ketersediaan Batu Bara Menipis, GEMS Yakin Capai Target
Ketersediaan Batu Bara Menipis, GEMS Yakin Capai Target

Daftar Isi

  1. 01 Naik Enam Persen

KABARBURSA.COM - PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) tetap optimis dapat mencapai target produksi batubara sebesar 50 juta ton pada tahun ini. Sekretaris Perusahaan GEMS, Sudin Sudiman, menyatakan bahwa pada semester pertama 2024, perusahaan telah memproduksi dan menjual batubara sebanyak 24,8 juta ton.

"Kami masih berusaha untuk memenuhi target tahunan kami, yaitu produksi 50 juta ton dan penjualan 51 juta ton," kata Sudin, Rabu, 28 Agustus 2024.

Sudin juga mengungkapkan bahwa kondisi cuaca akan menjadi faktor kunci dalam mencapai target produksi tahun ini. Namun, ia tetap yakin dapat mencapai kinerja operasional yang diinginkan.

"Kami percaya dengan kemampuan kontraktor dan fasilitas pendukung yang sudah tersedia dengan baik," tambahnya.

Di sisi keuangan, GEMS mengalami sedikit penurunan pada semester pertama 2024. Pendapatan perusahaan mencapai USD1,36 miliar, turun 5,26 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD1,44 miliar.

Laba bersih GEMS juga menurun 4,96 persen dari USD333,48 juta menjadi USD316,91 juta. Sudin menyebutkan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh faktor harga batubara serta volume produksi dan penjualan.

Pendapatan GEMS pada semester pertama 2024 terdiri dari penjualan ekspor sebesar USD917,35 juta dan penjualan domestik sebesar USD449,85 juta.

Naik Enam Persen

Harga batu bara dunia diperkirakan akan berada di kisaran USD136 hingga USD150 per ton pada Kuartal III 2024. Rata-rata harga batu bara Newcastle selama tujuh bulan pertama 2024 tercatat sebesar USD134 per ton, yang 6 persen lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal sebesar USD126 per ton.

Total ekspor batu bara Indonesia diprediksi mencapai 418 juta ton pada 2024, meningkat 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumsi domestik batu bara dari Januari hingga Juli 2024 mencapai 208 juta ton, naik 13 persen dibandingkan tahun lalu. Konsumsi tahunan diperkirakan akan mencapai 387 juta ton, atau naik 12 persen.

Dari sisi ekspor, Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 4 persen dibandingkan tahun lalu, mencapai 235 juta ton. Pada Juli 2024, ekspor batubara meningkat 11 persen dari bulan sebelumnya menjadi 37 juta ton, terutama didorong oleh permintaan dari Tiongkok. Hingga Juli 2024, produksi batu bara Indonesia mencapai 451 juta ton, naik 6 persen dibandingkan tahun lalu dan mencapai 52 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 920 juta ton.

Produksi batu bara pada Juli 2024 meningkat 10,5 persen dari bulan sebelumnya menjadi 72 juta ton. Diperkirakan, produksi pada Kuartal III 2024 akan tumbuh 6 persen dibandingkan Kuartal II menjadi 213 juta ton. Namun, diperkirakan akan ada penurunan produksi sebesar 5 persen pada Kuartal IV 2024 menjadi 203 juta ton akibat musim hujan.

Rizkia Darmawan dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyatakan bahwa mereka tetap netral terhadap sektor batubara, dengan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sebagai pilihan utama karena kinerjanya yang kuat dan biaya operasional yang lebih terkelola.

Harga batu bara melanjutkan penguatan pada Selasa, 27 Agustus 2024, didorong oleh beberapa faktor positif. Peningkatan impor batu bara di Asia, kenaikan harga gas alam, serta ketegangan geopolitik yang meningkat telah mendorong lonjakan harga batu bara di pasar global.

Pada perdagangan tersebut, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2024 naik sebesar USD0,3 menjadi USD146 per ton. Harga untuk kontrak September 2024 naik lebih tajam sebesar USD2,2 menjadi USD147,5 per ton. Sementara itu, harga batu bara untuk pengiriman Oktober 2024 juga mengalami kenaikan, dengan tambahan USD1,25 menjadi USD149,15 per ton.

Di sisi lain, harga batu bara Rotterdam juga menguat. Untuk kontrak Agustus 2024, harga naik USD0,6 menjadi USD121 per ton. Kontrak September 2024 meningkat USD1 menjadi USD119,75 per ton, dan kontrak Oktober 2024 naik USD0,65 menjadi USD122,35 per ton.

Menurut laporan Reuters, impor batu bara termal yang diangkut melalui laut di Asia meningkat pada bulan Agustus, mencapai level tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Peningkatan ini didorong terutama oleh permintaan dari negara-negara maju di Asia Utara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, daripada dari negara-negara dengan konsumsi besar seperti China dan India.

Data dari analis komoditas Kpler menunjukkan bahwa sekitar 79,87 juta metrik ton batu bara, yang sebagian besar digunakan untuk pembangkit listrik, diperkirakan tiba di pelabuhan-pelabuhan Asia pada bulan Agustus. Angka ini naik dari 77,1 juta ton pada bulan Juli dan merupakan yang tertinggi sejak Desember lalu, ketika volume mencapai 80,54 juta ton.

Permintaan untuk batu bara termal di Asia mengalami lonjakan dalam beberapa bulan terakhir, terutama disebabkan oleh cuaca musim panas yang lebih panas dari biasanya, yang meningkatkan penggunaan pendingin udara. Peningkatan ini paling terasa di negara-negara ekonomi maju di Asia Utara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, di mana kebutuhan energi untuk pendingin udara melonjak signifikan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait