Market Hari Ini 21 Dec 2023 Penulis: KabarBursa.com Editor: Tim Editorial

Kinerja Ekspor Indonesia Rentan. Ini Strategi Pemerintah

Kinerja Ekspor Indonesia Rentan. Ini Strategi Pemerintah
Kinerja Ekspor Indonesia Rentan. Ini Strategi Pemerintah

KABARBURSA.COM - Kinerja ekspor Indonesia berada di ambang tekanan yang signifikan pada tahun mendatang. Penurunan harga komoditas dan lesunya ekonomi negara mitra dagang utama menjadi ancaman nyata bagi perekonomian Indonesia.

Kenaikan harga komoditas dalam dua tahun terakhir, seperti durian runtuh, telah memberikan dampak luar biasa pada Indonesia, mulai dari peningkatan penerimaan ekspor hingga pertumbuhan di daerah-daerah penghasil komoditas tersebut.

Beberapa negara mitra dagang utama Indonesia, seperti China (25.49 persen ekspor total), Amerika Serikat (9.54 persen), dan Eropa (6.84 persen), menjadi penerima utama produk ekspor Indonesia hingga November 2023.

Lembaga internasional, seperti IMF, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan melambat menjadi 1.5 persen pada tahun 2024 dari proyeksi tahun 2023 yang mencapai 2.1 persen. China, yang tumbuh 5 persen pada 2023, diperkirakan hanya akan tumbuh 4.2 persen, sementara Eropa diproyeksikan hanya tumbuh 1.2 persen dari proyeksi tahun ini yang mencapai 0.7 persen.

World Bank memberikan proyeksi yang lebih pesimis, dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat hanya sekitar 0.8 persen pada 2024 dari angka 1.1 persen tahun ini, Eropa 1.3 persen dari 0.4 persen, dan China sekitar 4.6 persen dari proyeksi pertumbuhan tahun 2023 yang mencapai 5.6 persen.

Melemahnya perekonomian negara mitra dagang utama Indonesia sudah mulai memberikan dampak nyata pada ekonomi nasional. Ekspor kumulatif Indonesia pada Januari-November 2023 hanya mencapai US$236.41 miliar, mengalami penurunan signifikan sebesar US$11.38 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini terasa sangat tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2022, yang mencatatkan nilai ekspor sebesar US$268.18 miliar, naik sebesar US$28.16 miliar.

Dampaknya terlihat pula pada surplus neraca perdagangan Indonesia yang terus merosot. Pada November 2023, nilai surplus hanya mencapai US$2.41 miliar, menurun dari Oktober yang sebesar US$3.48 miliar. Secara kumulatif pada Januari-November 2023, surplus hanya mencapai US$33.63 miliar, turun drastis sebesar US$16.91 miliar dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$50.54 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui bahwa tekanan ekonomi global mulai masuk ke Indonesia melalui sektor perdagangan. Pelemahan ekonomi China, yang diakibatkan oleh melonjaknya utang publik dan perlambatan sektor manufaktur, telah berdampak pada berbagai negara, termasuk Indonesia.

Faktor-faktor struktural seperti penuaan tenaga kerja dan krisis properti di Tiongkok masih menjadi beban bagi ekonomi Indonesia.

Senior Ekonom BCA Barra Kukuh Mamia mengungkapkan bahwa penurunan aktivitas di Tiongkok mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Perlambatan manufaktur dengan Purchasing Managers' Index (PMI) pada 23 November sebesar 49.4 berdampak negatif pada ekspor baja dan nikel Indonesia, sementara peningkatan ekspor timah hanya mencerminkan larangan penambangan timah di Myanmar yang mengalihkan permintaan ke Indonesia.

Data BPS menunjukkan bahwa barang besi dan baja mengalami penurunan sebesar 6.82 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), nikel dan barang daripadanya turun sebesar 17.16 persen mtm, sementara ampas dan sisa industri makanan turun 2.78 persen mtm.

Dampak dari Amerika Serikat juga terasa, terutama karena aktivitas ekonominya yang masih ditopang oleh sektor jasa. Meskipun ekonomi AS sedang mengalami tren positif, impor AS dari global secara keseluruhan masih mengalami kontraksi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyatakan bahwa nilai ekspor Indonesia ke AS terkontraksi sebesar -0.51 persen mtm.

Perlambatan aktivitas ekonomi di kawasan ASEAN juga berdampak negatif pada ekspor Indonesia, terutama ke Singapura dan Malaysia yang terkontraksi masing-masing sebesar 47.3 persen dan 22.8 persen mtm.

Ekonom Senior Bambang Brodjonegoro menyoroti bahwa pelemahan ekonomi global menjadi tantangan bagi kinerja perdagangan Indonesia ke depan. Meskipun surplus masih dapat dipertahankan hingga Desember 2023, Bambang mengingatkan bahwa pelemahan ekonomi global diprediksi akan berlanjut hingga 2024.

Oleh karena itu, perhatian khusus harus diberikan pada negara tujuan ekspor, terutama China, India, dan Amerika Serikat.

Dalam upaya mengatasi tekanan ekspor pada 2024, pemerintah berencana menggelar acara "Outlook Perekonomian Indonesia 2024" pada akhir pekan ini, Jumat, 22 Desember 2023. Acara ini akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri ekonomi.

Para pakar dan ahli di bidang ekonomi juga diundang untuk turut serta membahas proyeksi ekonomi global dan domestik tahun depan, strategi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, termasuk di sektor perdagangan, hingga sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait