Market Hari Ini 27 May 2024 Penulis: Syahrianto Editor: Tim Editorial

Kredit Properti Tumbuh 7,8 Persen, KPR-KPA jadi Penopang

Kredit Properti Tumbuh 7,8 Persen, KPR-KPA jadi Penopang
Kredit Properti Tumbuh 7,8 Persen, KPR-KPA jadi Penopang

Daftar Isi

  1. 01 Kredit Tumbuh Tinggi
  2. 02 Faktor Daya Beli Masyarakat

KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pertumbuhan kredit properti pada April 2024 mengalami peningkatan yang cukup stabil, hanya mencapai sekitar 7,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini hampir sama dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 7,7 persen yoy.

Nilai kredit properti yang disalurkan pada bulan tersebut mencapai Rp1.351 triliun, mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya yang mencapai sekitar Rp1.348 triliun.

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) tetap menjadi kontributor terbesar sekitar 55 persen dari total kredit properti, senilai Rp743,7 triliun. Pertumbuhan kredit ini juga stabil, tumbuh sebesar 14,2 persen yoy seperti bulan sebelumnya.

Di sisi lain, kredit real estate mengalami pertumbuhan yang sedikit lebih pesat sekitar 8,9 persen yoy, sedikit meningkat dari bulan sebelumnya yang tumbuh sekitar 8,6 persen yoy. Namun, kredit konstruksi mengalami perlambatan dengan penurunan laju pertumbuhan menjadi 3,3 persen yoy di bulan April 2024, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,2 persen yoy.

Sebelumnya, Direktur Konsumer CIMB Niaga Noviady Wahyudi mengakui bahwa kredit konsumer saat ini memiliki tantangannya sendiri, salah satunya adalah kredit properti. Oleh karenanya, ia melihat perlu ada strategi khusus yang bisa dilakukan.

Pria yang akrab disapa Dede ini pun mengungkapkan saat ini kredit properti menjadi yang paling tertekan di segmen konsumer ini. Di mana, ada pergeseran kebutuhan nasabah KPR yang dulunya investor, tetapi sekarang kebanyakan nasabah yang memiliki kebutuhan untuk rumah pertama.

“Para investor ini susah mendapat penyewa juga kan dan akhirnya nasabah model ini lebih suka berinvestasi yang lebih likuid di wealth management products,” ujarnya.

Sebagai informasi, kredit konsumer CIMB Niaga per kuartal I 2024 tercatat tumbuh 6,9 persen yoy menjadi Rp72,87 triliun. Jika dibandingkan dengan periode kuartal I 2023, CIMB Niaga masih mampu mencatat pertumbuhan kredit konsumer mencapai 9,4 persen yoy.

Sementara itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) juga tercatat ada perlambatan pertumbuhan di segmen konsumsi. Per kuartal I 2024, pembiayaan konsumsi di BSI tercatat tumbuh 14,89 persen menjadi Rp135 triliun, sementara pada kuartal I 2023, pertumbuhannya bisa mencapai 24 persen yoy.

Meski demikian, Direktur Penjualan dan Distribusi BSI Anton Sukarna melihat sejatinya permintaan atau daya beli masyarakat masih berpotensi bisa mendongkrak pertumbuhan pembiayaan konsumer. Ia hanya melihat yang terjadi di beberapa bulan belakang ialah banyaknya hari libur yang menjadi tantangan.

“Kendala kami yang utama itu hanya waktu processing-nya saja, kan bulan lalu itu libur hampir setengah bulan, jadi kapasitas kami pun berkurang,” ujar Anton.

Kredit Tumbuh Tinggi

Dalam laporan yang sama, BI mengungkapkan kredit yang disalurkan oleh perbankan tumbuh lebih tinggi pada April 2024.

Penyaluran kredit pada April 2024 tumbuh sebesar 12,3 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,9 persen yoy. Penyaluran kredit ini dipengaruhi oleh perkembangan kredit modal kerja, kredit investasi dan kredit konsumsi.

Kredit modal kerja (KMK) per April 2024 tumbuh 12,4 persen yoy, setelah tumbuh sebesar 11,8 persen yoy pada bulan sebelumnya. "Perkembangan kredit modal kerja bersumber dari pertumbuhan sektor industri pengolahan dan sejenisnya, serta sektor keuangan, real estat dan perusahaan," ujarnya.

Kredit investasi pada April 2024 tumbuh sebesar 14,6 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan bulan Sebelumnya yang tumbuh 14 persen, terutama bersumber dari sektor industri pengolahan dan sejenisnya, serta sektor listrik gas, dan air bersih.

Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh sebesar 10 persen per April 2024. Pertumbuhan ini relatif stabil dengan pertumbuhan Maret 2024, terutama didorong oleh perkembangan KPR, kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kredit multiguna.

Faktor Daya Beli Masyarakat

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan faktor daya beli masyarakat terlebih masyarakat kelas menengah ke bawah bisa menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Menurutnya, ada tanda-tanda faktor daya beli masyarakat yang turun sehingga berdampak pada kredit konsumer.

Ia melihat pelemahan daya beli masyarakat terlihat di segmen kelas bawah dan menengah yang konsumsinya tergerus inflasi bahan pangan bergejolak yang sudah tembus 9,63 persen yoy per April 2024, jauh di atas angka inflasi umum 3 persen.

Hal tersebut juga tercermin dari data Mandiri Spending Index per Mei 2024 yang menunjukkan kelas menengah angka indeks belanjanya turun ke level 122 dengan indeks tabungan yang juga merosot ke level 94,2 dari posisi Mei 2023 di level kisaran 100.

Menurutnya, perbankan perlu memikirkan strategi-strategi khusus untuk menghadapi tantangan yang terakhir ini. Setidaknya, tantangan tersebut tidak berdampak lebih buruk bagi industri perbankan.

”Strategi utama yang perlu dilakukan perbankan adalah benar-benar melihat sektor mana yang memiliki potensi pertumbuhan yang baik sehingga mitigasi risiko juga bisa dilakukan dengan mudah,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret juga mencatat kredit konsumsi tercatat mengalami pertumbuhan yang paling lambat di antara segmen lainnya yaitu hanya tumbuh 10,22 persen yoy. Padahal, secara total kredit masih mampu tumbuh 12,4 persen.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait