Market Hari Ini 14 Oct 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Kurs Rupiah Hari ini Naik 0,04 Persen: Pasar Optimistis Setelah Sinyal Dovish The Fed

Mayoritas mata uang Asia juga terapresiasi terhadap dolar AS. Sentimen positif tumbuh di tengah harapan baru

Nilai tukar rupiah berpeluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 14 Oktober 2025.

Ilustrasi Mata Uang Garuda. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Mata Uang Garuda. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah berpeluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 14 Oktober 2025. Optimisme pasar menguat setelah salah satu pejabat Federal Reserve memberi isyarat bernada dovish dalam pidatonya semalam.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.15 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp16.566 per dolar AS, menguat 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan Senin di Rp16.573 per dolar AS.

Di saat bersamaan, Trading View melaporkan mayoritas mata uang Asia juga terapresiasi terhadap dolar AS. Sentimen positif tumbuh di tengah harapan baru terkait lanjutan negosiasi dagang antara Washington dan Beijing.

Analis NAB, Rodrigo Catril, menuturkan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menunjukkan optimisme terhadap kesinambungan dialog dengan China. Namun ia menegaskan, “semua opsi tetap terbuka” sebagai respons terhadap pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earths) yang diberlakukan Beijing.

Kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu disebut masih membuka kemungkinan berlangsungnya pertemuan puncak Trump–Xi pada akhir bulan ini. “Ekspektasi terhadap KTT tersebut memberi dorongan psikologis bagi pelaku pasar,” ujar Catril.

Data LSEG memperlihatkan USD/KRW naik tipis 0,1 persen ke 1.427,20, USD/CNH stabil di 7,1358, sementara AUD/USD bergerak datar di 0,6512.

Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur The Fed Bank of Philadelphia, Anna Paulson, menegaskan dukungannya terhadap dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 0,25 persen hingga akhir tahun. Ia menilai kebijakan moneter semestinya tidak terguncang oleh efek sementara tarif terhadap inflasi konsumen.

“Bagi saya, poin utamanya adalah tidak ada indikasi bahwa tekanan harga akibat tarif akan bertransformasi menjadi inflasi yang berkelanjutan,” ujar Paulson dalam forum tahunan National Association for Business Economics di Philadelphia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait