Market Hari Ini 27 May 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Laba 2025 AMRT Tembus Rp3,4 Triliun, Saham Terkoreksi 21 Persen

Fundamental AMRT masih tumbuh solid sepanjang 2025, namun sahamnya justru terkoreksi lebih dari 21 persen akibat tekanan foreign sell besar pada Mei 2026.

AMRT mencatat laba Rp3,41 triliun pada 2025, namun saham Alfamart terkoreksi 21 persen setelah asing melepas Rp510 miliar sepanjang Mei.

Hingga akhir 2025, AMRT dan entitas anak mengoperasikan 24.434 gerai retail serta 400 gerai stock point yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. (Foto: dok AMRT)
Hingga akhir 2025, AMRT dan entitas anak mengoperasikan 24.434 gerai retail serta 400 gerai stock point yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. (Foto: dok AMRT)

Daftar Isi

  1. 01 Asing Lepas Lebih dari Rp500 Miliar

KABARBURSA.COM – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) memaparkan kinerja keuangan tahunan 2025 dengan pertumbuhan yang masih solid di tengah perlambatan industri ritel modern nasional. Namun, saham AMRT justru mengalami tekanan besar sepanjang Mei 2026 setelah dihantam aksi jual asing ratusan miliar rupiah.

Dalam paparan publik 2026, AMRT membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp126,74 triliun pada 2025. Angka tersebut naik sekitar 7,2 persen dibanding 2024 yang sebesar Rp118,23 triliun.

Pertumbuhan tersebut terjadi ketika industri modern trade nasional sebenarnya hanya tumbuh sekitar 1,5 persen secara tahunan. Bahkan wilayah Jawa tercatat mengalami kontraksi pertumbuhan minimarket modern sebesar 0,1 persen berdasarkan data Nielsen Retail Audit.

Di tengah perlambatan itu, AMRT justru berhasil memperbesar pangsa pasar. Market share Alfamart naik menjadi 36,2 persen pada 2025 dari sebelumnya 34,5 persen pada 2024.

Secara grup bersama Alfamidi, pangsa pasar AMRT mencapai 42,2 persen. Kenaikan market share itu berjalan seiring ekspansi jaringan gerai yang terus agresif.

Hingga akhir 2025, AMRT dan entitas anak mengoperasikan 24.434 gerai retail serta 400 gerai stock point yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, ekspansi juga mulai bergeser lebih agresif ke luar Pulau Jawa.

Jika pada 2021 kontribusi gerai luar Jawa masih sekitar 32,3 persen, maka pada 2025 porsinya naik menjadi 36,6 persen. Sebaliknya, kontribusi Jabodetabek turun dari 27,4 persen menjadi 24 persen.

Dari sisi profitabilitas, laba bruto AMRT naik menjadi Rp27,76 triliun pada 2025 dari Rp25,37 triliun pada 2024. Margin laba bruto juga meningkat menjadi 21,9 persen dari sebelumnya 21,45 persen.

Laba operasional AMRT tercatat Rp4,56 triliun atau naik sekitar 11,86 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp4,08 triliun. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp3,41 triliun atau tumbuh sekitar 8,35 persen dibanding 2024 sebesar Rp3,15 triliun.

Dari sisi neraca, total aset AMRT meningkat menjadi Rp42,58 triliun pada akhir 2025 dibanding Rp38,8 triliun pada 2024. Ekuitas juga naik menjadi Rp19,38 triliun dari sebelumnya Rp17,7 triliun.

Meski liabilitas naik menjadi Rp23,2 triliun, posisi utang berbunga AMRT masih relatif rendah dibanding ukuran bisnisnya. Interest bearing debt pada 2025 tercatat sekitar Rp760 miliar, jauh di bawah posisi 2020 yang sempat mencapai Rp3,05 triliun.

Rasio leverage juga masih terjaga dengan DER bruto hanya 0,04 kali dan net gearing ratio negatif 0,22 kali. Namun dari sisi pengembalian modal, pasar mulai melihat adanya normalisasi profitabilitas.

ROAA turun menjadi 8,33 persen pada 2025 dari 8,62 persen pada 2024. Sementara ROAE turun menjadi 19,83 persen dari sebelumnya 20,41 persen.

Asing Lepas Lebih dari Rp500 Miliar 

Menariknya, di tengah fundamental yang masih kuat tersebut, saham AMRT justru mulai mengalami tekanan besar di pasar. Pada perdagangan 26 Mei 2026, saham AMRT ditutup di level 1.190 atau turun 8,11 persen dalam sehari.

Tekanan itu melanjutkan pelemahan besar sehari sebelumnya ketika saham anjlok 9,12 persen ke level 1.295. Jika ditarik sejak awal Mei, saham AMRT telah terkoreksi sekitar 21,7 persen dari level tertinggi penutupan 1.520 pada 6 Mei 2026.

Tekanan harga tersebut terjadi seiring derasnya aksi jual asing. Berdasarkan data perdagangan 5 Mei hingga 26 Mei 2026, total net foreign sell AMRT mencapai sekitar Rp510 miliar.

Padahal pada awal Mei, asing sebenarnya masih sempat melakukan akumulasi. Net foreign buy tercatat mencapai Rp31,11 miliar pada 6 Mei, Rp13,02 miliar pada 7 Mei, dan Rp12,12 miliar pada 8 Mei.

Namun arah transaksi berubah drastis memasuki pertengahan Mei. Foreign sell mulai membesar pada 13 Mei sebesar Rp34 miliar dan terus berlanjut hingga akhir bulan.

Puncaknya terjadi pada 25 Mei ketika asing melepas Rp157,82 miliar saham AMRT dalam sehari. Tekanan berlanjut pada 26 Mei dengan net foreign sell Rp112,96 miliar.

Lonjakan volume transaksi pada akhir Mei memperlihatkan adanya perpindahan saham besar di area bawah. Pada 26 Mei saja, volume perdagangan mencapai 3,69 juta lot dengan nilai transaksi Rp445,83 miliar.

Kondisi ini membuat pasar mulai berada di persimpangan antara fundamental kuat dan tekanan teknikal jangka pendek. Di satu sisi, AMRT masih mencatat pertumbuhan laba dan ekspansi yang solid.

Namun di sisi lain, aksi distribusi asing besar membuat saham ritel defensif ini ikut terseret tekanan pasar. Area 1.150 hingga 1.180 kini menjadi support penting setelah menjadi titik pantulan terakhir, sementara area 1.300 hingga 1.400 berubah menjadi resistance jangka pendek yang mulai dipenuhi tekanan jual.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait