Market Hari Ini 07 Mar 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Laba Bersih AADI Turun 37 Persen, Ekspor Batu Bara Melemah

Laba bersih AADI turun menjadi USD760,18 juta pada 2025 seiring melemahnya pendapatan dan penurunan ekspor batu bara, sementara saham ditutup di Rp10.300 dengan volume perdagangan di bawah rata-rata harian.

Laba bersih AADI turun 37 persen pada 2025 menjadi USD760 juta seiring melemahnya ekspor batu bara. Saham AADI ditutup di Rp10.300 pada perdagangan terbaru.

Lemahnya penjualan batu bara membuat laba bersih AADI ikut turun. (Foto: Dok Adaro Andalan Indonesia)
Lemahnya penjualan batu bara membuat laba bersih AADI ikut turun. (Foto: Dok Adaro Andalan Indonesia)

Daftar Isi

  1. 01 Penjualan Batu Bara Turun 10,05 Persen
  2. 02 Saham Melemah Tipis, Volume di Bawah Rata-rata

KABARBURSA.COM – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan penurunan kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025 dengan turunnya laba bersih, pendapatan, serta laba operasional dibandingkan tahun sebelumnya. 

Tekanan kinerja tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan pendapatan dari penjualan ekspor batu bara.

Berdasarkan laporan keuangan yang diumumkan Jumat, 6 Maret 2026, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD760,18 juta atau setara USD0,09762 per saham pada 2025. 

Angka ini turun 37,21 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai USD1,21 miliar atau USD0,17126 per saham.

Penurunan laba bersih ini juga terjadi seiring melemahnya pendapatan perseroan. Sepanjang 2025, pendapatan bersih AADI tercatat sebesar USD4,91 miliar, turun 7,69 persen dibandingkan pendapatan tahun 2024 yang mencapai USD5,31 miliar.

Penjualan Batu Bara Turun 10,05 Persen

Kontraksi pendapatan terbesar berasal dari penjualan ekspor batu bara kepada pihak ketiga. Nilai penjualan ekspor tercatat sebesar USD3,76 miliar pada 2025, turun 10,05 persen dibandingkan USD4,18 miliar pada tahun sebelumnya.

Walau begitu, di sisi biaya, manajemen berhasil menurunkan beban pokok pendapatan menjadi USD3,64 miliar pada 2025 dari USD3,85 miliar pada 2024, atau turun 5,32 persen. Namun penurunan tersebut belum mampu menahan pelemahan laba kotor perseroan.

Sementara itu, laba kotor AADI tercatat sebesar USD1,26 miliar pada 2025, turun 13,93 persen dibandingkan laba kotor tahun 2024 yang mencapai USD1,46 miliar.

Pada saat yang sama, beban usaha juga mengalami penurunan signifikan. Sepanjang 2025 beban usaha tercatat sebesar USD247,08 juta, turun 21,49 persen dibandingkan USD315,50 juta pada tahun sebelumnya.

Namun penurunan beban usaha tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan tajam pada pos pendapatan lain-lain. Pendapatan lain-lain tercatat hanya sebesar USD28,07 juta pada 2025, merosot 91,51 persen dibandingkan USD330,77 juta pada tahun 2024.

Kombinasi penurunan pendapatan dan berkurangnya kontribusi pendapatan lain-lain menyebabkan laba usaha AADI turun 29,6 persen menjadi USD1,04 miliar pada 2025, dibandingkan USD1,48 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Desember 2025 tercatat sebesar US$5,70 miliar. Nilai tersebut turun 4,77 persen dibandingkan posisi aset pada akhir 2024 yang mencapai US$5,99 miliar.

Struktur permodalan menunjukkan total liabilitas sebesar USD2,05 miliar dan total ekuitas sebesar USD3,64 miliar pada akhir 2025.

Saham Melemah Tipis, Volume di Bawah Rata-rata

Di pasar saham, pergerakan harga saham AADI pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026 ditutup melemah tipis. Saham AADI berada di level Rp10.300 per saham atau turun 25 poin setara 0,24 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sepanjang perdagangan hari tersebut, saham AADI dibuka di level Rp10.325 per saham dan sempat bergerak hingga level tertinggi Rp10.575. Harga terendah tercatat di posisi Rp10.050.

Kapitalisasi pasar AADI tercatat sekitar Rp80,20 triliun dengan rasio price to earnings sebesar 6,58. Saham ini memiliki dividend yield sekitar 5,22 persen dengan nilai dividen kuartalan sebesar 134,42.

Dari sisi likuiditas perdagangan, volume transaksi saham AADI pada sesi tersebut mencapai sekitar 13,37 juta saham. Angka ini berada di bawah rata-rata volume perdagangan hariannya yang berada di kisaran 20,22 juta saham.

Secara historis, saham AADI sempat menyentuh level tertinggi 52 pekan di posisi Rp10.900, sementara level terendah dalam periode yang sama tercatat di Rp5.575 per saham.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait