Market Hari Ini 06 Jun 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Yunila Wati

Laba MORA Naik, Perluas Jaringan Fiber Optic di 2025

PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) targetkan ekspansi jaringan dan digitalisasi operasional, setelah mencetak EBITDA Rp1,82 triliun dan laba bersih Rp262 miliar di 2024.

MORA perluas jaringan fiber optic dan FTTH pada 2025. Perseroan bukukan pendapatan Rp1,11 triliun dari segmen retail dan EBITDA Rp1,82 triliun di 2024.

Ilustrasi: Salah satu gedung yang dimiliki dan dikelola oleh MORA. (Foto: Dok. Moratelindo)
Ilustrasi: Salah satu gedung yang dimiliki dan dikelola oleh MORA. (Foto: Dok. Moratelindo)

KABARBURSA.COM - PT Mora Telematika Indonesia Tbk atau Moratelindo (IDX: MORA) menyampaikan optimisme terhadap arah bisnis di tahun 2025. Perusahaan menyiapkan strategi ekspansi jaringan backbone dan last mile fiber optic. Selain itu, penguatan kapasitas dan digitalisasi menjadi prioritas utama.

“Lalu kemudian kami melakukan perluasan pada jaringan FTTH (Fiber To The Home),” kata Resi Bramani, Chief Strategic Business Officer MORA dalam public expose, Kamis, 5 Juni 2025. 

Resi menyebut ekspansi ini menyasar peningkatan konektivitas di wilayah strategis. Ia menambahkan bahwa pengembangan kapasitas dilakukan secara simultan dengan efisiensi operasional.

Resi menjelaskan bahwa digitalisasi operasional akan diikuti dengan inovasi produk. Menurutnya, langkah ini diambil untuk mendorong efektivitas dan daya saing usaha. “Dan terus bergerak maju di masa yang akan datang dan memastikan pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pencapaian kinerja MORA pada 2024 juga mendukung langkah ekspansi tahun ini. Wakil Direktur Utama MORA, Genta Andhika Putra menyampaikan peningkatan kapasitas bandwidth sebesar delapan persen menjadi 32 TB. Hal ini mendorong kenaikan pendapatan dari segmen wholesale menjadi Rp804 miliar atau naik tiga puluh satu persen dibanding tahun sebelumnya.

“Berdasarkan kontribusi kenaikan pendapatan tersebut, Perseroan berhasil membukukan EBITDA sebesar Rp1,82 triliun atau EBITDA Margin sebesar empat puluh enam persen jika dibandingkan dengan pendapatan di 2024,” ujar Genta. Ia juga mengungkapkan bahwa laba bersih MORA mencapai Rp262 miliar per akhir tahun lalu. Peningkatan kinerja tersebut mencerminkan permintaan yang tumbuh pada layanan konektivitas skala besar.

Segmen ritel juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Homepass FTTH meningkat empat belas persen menjadi lebih dari 788 ribu titik per akhir 2024. Jumlah pelanggan atau subscribers FTTH tumbuh tiga puluh tujuh persen menjadi lebih dari 227 ribu pengguna, sedangkan pelanggan enterprise bertambah enam belas persen menjadi lebih dari 12 ribu.

“Dari pencapaian tersebut, Perseroan berhasil mencatat kenaikan pendapatan sebesar tujuh belas persen dari segmen retail menjadi Rp1,11 triliun,” jelas manajemen. Pertumbuhan yang merata di dua segmen ini memperkuat posisi MORA di pasar layanan internet nasional. Meningkatnya basis pelanggan juga mendorong skala ekonomi dan utilisasi jaringan.

Sementara itu, saham MORA ditutup menguat ke level 428 pada Kamis, 5 Juni 2025. Harga tersebut naik tiga koma tiga delapan persen dibanding hari sebelumnya, menurut data dari Stockbit. Dalam enam bulan terakhir, saham MORA menguat dua belas koma nol empat persen, namun secara tahunan masih terkoreksi minus empat koma delapan sembilan persen.

Secara year-to-date, harga saham tercatat turun delapan koma sembilan empat persen. Level tertinggi saham MORA dalam 52 minggu terakhir berada di Rp565. Adapun posisi terendahnya tercatat di Rp290.

Dari sisi profitabilitas, MORA mencatat gross profit margin sebesar enam puluh tiga koma empat dua persen dan operating profit margin sebesar dua puluh sembilan koma delapan lima persen. Angka ini menunjukkan efisiensi operasional perusahaan masih solid. Namun, net profit margin sebesar sebelas koma enam delapan persen menunjukkan margin akhir masih tergerus oleh beban bunga dan pajak.

Return on Assets (ROA) MORA tercatat sebesar satu koma nol lima persen, sedangkan Return on Equity (ROE) hanya dua koma nol satu persen. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembalian terhadap pemilik modal masih relatif terbatas.

Kondisi solvabilitas MORA tetap stabil sepanjang tahun lalu. Current ratio dan quick ratio masing-masing berada di angka satu koma lima satu. Struktur permodalan dinilai sehat dengan rasio debt to equity sebesar nol koma tujuh satu. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait