Market Hari Ini 01 May 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Laba Naik 22 Persen, BRMS Masuk Radar Analis

Harga emas dan perak melonjak saat produksi melemah, pasar mulai melirik fase baru BRMS setelah pushback rampung.

Laba BRMS naik 22 persen di Q1 2026 meski produksi turun. Harga emas dan perak jadi penopang, analis mulai soroti fase akumulasi.

Fase pusback BRMS membuat produksi emas dan perak menurun drastis. (Foto: dok Bumi Resources Minerals)
Fase pusback BRMS membuat produksi emas dan perak menurun drastis. (Foto: dok Bumi Resources Minerals)

Daftar Isi

  1. 01 Ekspansi BRMS
  2. 02 Analisis Pengamat

KABARBURSA.COM – Di tengah aktivitas tambang yang belum sepenuhnya pulih, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berhasil membukukan kinerja yang bertumbuh di kuartal I 2026. Laba bersihnya tercatat naik 22 persen.

Dalam laporan kinerjanya, laba bersih BRNS secara tahunan naik menjadi USD18,05 juta dari sebelumnya USD14,85 juta. Kenaikan tersebut terjadi justru saat produksi emas dan perak perusahaan mengalami penurunan tajam.

Direktur & Chief Financial Officer BRMS Charles Gobel, mengakui bahwa terhambatnya produksi emas dan perak tidak lepas dari aktivitas pushback tambang terbuka River Reef di Poboya, Palu. Di tambang tersebut, produksi emas turun menjadi 14.790 troy ounce, dari sebelumnya 21.922 troy ounce.

Begitu pula dengan produksi peraknya. Pada periode kuartal pertama tahun ini, tambang River Reef hanya mampu memproduksi 41.043 troy ounce perak.

Namun, harga jual emas dan perak yang sedang meroket, menjadi alasan kenaikan laba bersih. Masih dari laporan kinerjanya, pendapatan BRMS tetap tumbuh 10 persen secara tahunan, menjadi USD69,47 juta. Laba operasi juga meningkat, mencapai USD28,59 juta.

Kenaikan pendapatan dan laba operasi ini sejalan dengan lonjakan harga emas yang tercatat menjadi USD4.512 per troy ounce. Padahal, sebelumnya emas dijual dengan harga USD2.809 per troy ounce. Begitu pula dengan harga perak yang naik tajam ke USD66,81 per troy ounce dari sebelumnya USD28,74 per troy ounce.

Ekspansi BRMS

Menanggapi anjloknya produksi emas dan perak, Direktur utama PT Citra Palu Minerals (CPM), entitas yang mengelola tambang emas di Poboya, Palu, menjelaskan, fase pushback diperkirakan selesai pada akhir Mei atau awal Juni 2026.

Fase pushback adalah tahapan dalam penambangan terbuka (open pit) ketika perusahaan mengupas atau memindahkan lapisan batuan penutup (waste/overburden) untuk membuka akses ke lapisan bijih yang lebih dalam.

Setelah fase ini selesai, perusahaan akan mulai menambang bijih dengan kadar emas yang lebih tinggi. Perubahan kualitas bijih ini menjadi kunci karena akan mempengaruhi tingkat perolehan emas dalam setiap ton material yang diproses.

Di saat yang sama, ekspansi kapasitas juga sedang berjalan. BRMS menargetkan peningkatan kapasitas salah satu pabrik emas miliknya, dari semula 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari. Adapun target ini akan selesai pada Oktober 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk mengakselerasi produksi setelah fase transisi operasional berakhir.

Hal ini diakui Direktur Utama BRMS Agus Projosasmito. Ia menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan produksi sekitar 80.000 troy ounce emas sepanjang 2026. Selain itu, BRMS juga menyiapkan pengembangan tambang bawah tanah yang direncanakan mulai beroperasi pada 2027. 

Tambang bawah tanah ini dikenal memiliki kadar emas yang lebih tinggi dibanding tambang terbuka, sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi dan output produksi ke depan.

Analisis Pengamat

Dari sisi pandangan pasar, pengamat pasar modal Hasan Zein Mahmud melihat kinerja kuartal I 2026 BRMS cukup menarik. Meskipun mengalami penurunan produksi emas mencapai sekitar 33 persen, Namun di saat bersamaan, kenaikan harga emas sebesar 61 persen dan lonjakan harga perak hingga 132 persen menjadi faktor utama yang menjaga pertumbuhan pendapatan dan laba.

Menurut mantan Dirut Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) ini menjelaskan, BRMS saat ini berada dalam fase jeda produksi, bukan pelemahan fundamental. Jika fase pushback selesai, perusahaan akan masuk ke fase produksi dengan kadar emas yang lebih tinggi. Belum lagi rencana pengembangan tambang bawah tanah dengan tingkat rendemen yang disebut bisa mencapai tiga kali lebih besar.

Dengan perkembangan tersebut, Hasan menilai periode Mei 2026 sebagai fase awal yang mulai menarik untuk melakukan akumulasi, seiring dengan ekspektasi perbaikan produksi dan peningkatan kapasitas yang berjalan hingga akhir tahun. 

Proyeksi jangka menengahnya mengarah pada potensi harga saham di kisaran 1.500 dalam horizon investasi hingga 2027, sejalan dengan perubahan struktur produksi dan peningkatan kualitas cadangan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait