Market Hari Ini 09 Jun 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Uslimin Usle

Laporan Khusus Bagian III: Mencermati IHSG, Dinamika Pasar Modal Indonesia (1998–2026)

Sepanjang rentang waktu dari krisis moneter 1998 yang memporak-porandakan tatanan ekonomi hingga koreksi tajam yang terjadi pada perdagangan 5 Juni 2026

Perjalanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai barometer ekonomi Indonesia menunjukkan dinamika

Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Perjalanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai barometer ekonomi Indonesia menunjukkan dinamika yang  kompleks, penuh dengan pasang surut, krisis sistemik, hingga fase optimisme yang memecahkan rekor. 

Sepanjang rentang waktu dari krisis moneter 1998 yang memporak-porandakan tatanan ekonomi hingga koreksi tajam yang terjadi pada perdagangan 5 Juni 2026, pasar modal Indonesia telah bertransformasi dari pasar yang terfragmentasi menjadi ekosistem yang lebih matang, meski tetap rentan terhadap guncangan makroekonomi domestik dan global. 

Krisis moneter tahun 1998 merupakan titik terendah dalam sejarah ekonomi modern Indonesia, sebuah periode di mana kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik hampir menyentuh angka nol. 

Pada masa itu, IHSG mencatatkan level yang sangat rendah, sering kali bergerak di kisaran angka 300 hingga 400 poin. Jatuhnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) secara dramatis, ditambah dengan ketidakstabilan politik yang memuncak pada pergantian kepemimpinan nasional, menciptakan efek domino yang melumpuhkan sektor korporasi. 

Ketakutan akan kehancuran ekonomi total memaksa pelaku pasar untuk melakukan aksi jual panik, yang dalam catatan sejarah bursa, menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya manajemen risiko dan stabilitas fundamental ekonomi bagi keberlangsungan pasar saham. 

Pemulihan setelah krisis 1998 memakan waktu yang cukup panjang, dengan proses restrukturisasi perbankan dan perbaikan regulasi menjadi fondasi utama bagi kebangkitan pasar modal di awal tahun 2000-an.

​Memasuki dekade kedua setelah krisis 1998, pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Stabilitas politik yang relatif terjaga dan komoditas booming pada era 2000-an membantu IHSG mendaki ke level yang lebih tinggi. 

IHSG perlahan mendaki dari level 416 pada tahun 2000, melewati level psikologis 1.000 pada tahun 2004, hingga puncaknya menembus 2.745 pada akhir 2007.

Namun, ujian besar kembali datang ketika krisis keuangan global tahun 2008 memicu efek penularan ke pasar berkembang, termasuk Indonesia. Meskipun dampaknya tidak separah krisis 1998 dari sisi sistemik internal, IHSG sempat terkoreksi lebih dari 50 persen dalam setahun akibat arus keluar modal asing yang masif (capital outflow). 

Kejadian ini mempertegas betapa terintegrasinya pasar modal Indonesia dengan pasar global, di mana setiap gejolak di bursa AS atau Eropa akan segera tercermin pada pergerakan IHSG. 

BEI terus berupaya meningkatkan likuiditas melalui reformasi perdagangan, yang secara bertahap berhasil memulihkan kepercayaan investor pasca-2008, membawa IHSG menembus level psikologis baru seiring dengan menguatnya fundamental korporasi Indonesia.

Masa Pandemi Covid-19

​Hingga tiba masanya pada awal tahun 2020, dunia menghadapi musuh yang tidak kasat mata yakni pandemi COVID-19. Krisis ini memiliki karakteristik yang unik karena memadukan krisis kesehatan dengan krisis ekonomi global yang terjadi secara serentak akibat kebijakan lockdown atau pembatasan mobilitas yang ketat. 

IHSG merespons dengan sangat reaktif. Pada kuartal I tahun 2020, indeks terjun bebas dari level di atas 6.000 ke area 3.900-an pada puncaknya, yakni 24 Maret 2020.

Namun, berbeda dengan krisis 1998, otoritas bursa dan pemerintah melakukan langkah intervensi yang jauh lebih gesit. OJK mengeluarkan berbagai kebijakan relaksasi untuk menjaga kestabilan pasar dan memberikan ruang bagi emiten untuk bertahan di tengah kesulitan operasional. 

Langkah-langkah ini, ditambah dengan masuknya gelombang baru investor ritel domestik, menciptakan rebound yang cukup cepat, di mana pasar perlahan merangkak naik seiring dengan ditemukannya vaksin dan dimulainya proses pemulihan ekonomi global. 

Fenomena partisipasi investor domestik ini menjadi titik balik penting yang mengubah lanskap struktur kepemilikan saham di Indonesia, di mana ketergantungan terhadap modal asing mulai sedikit tereduksi oleh tingginya antusiasme investor lokal.

Masuk 2026, Sempat Sentuh ATH namun Kembali Anjlok

​Perjalanan IHSG tidak berhenti pada pemulihan pandemi. Setelah fase tersebut, indeks sempat mencatatkan capaian fenomenal yang mencerminkan optimisme terhadap potensi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. IHSG secara konsisten menembus level-level tertinggi baru, hingga puncaknya terjadi pada awal Januari 2026, di indeks menyentuh rekor all-time high (ATH) di angka 9.174,47. 

Level ini bisa dibilang cerminan dari kepercayaan diri investor terhadap fundamental ekonomi nasional, pertumbuhan sektor digital, serta konsumsi domestik yang kuat. 

Namun, pasar saham selalu memiliki siklusnya sendiri.  Pergerakan IHSG sepanjang paruh pertama tahun 2026 menjadi bukti bahwa pasar selalu melakukan penyesuaian harga terhadap realitas ekonomi terkini. 

Koreksi tajam yang dialami pasar sejak Januari 2026 hingga mencapai level 5.594,77 pada penutupan 5 Juni 2026 merupakan cerminan dari ketidakpastian fiskal dan aksi jual yang dipicu oleh sentimen negatif di berbagai sektor kapitalisasi besar.

Dalam paparan Samuel Tumbuh Bersama yang disampaikan pada Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, Kamis, 4 Juni 2026, Head of Equity Sales PT Samuel Sekuritas Indonesia Tae Yong Shim mengungkapkan bahwa pasar saham Indonesia bergerak berlawanan arah dengan mayoritas pasar negara berkembang.

“Emerging market secara umum sedang bergerak positif, tetapi Indonesia justru bergerak berlawanan arah. Ketika MSCI EM naik 22,5 persen dan MSCI World naik 9,0 persen, pasar Indonesia masih turun 29,1 persen. Ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar domestik masih cukup kuat,” ujar Tae Yong dalam keterangan tertulisnya dikutip Jumat, 5 Juni 2026.

Menurut dia, salah satu faktor yang masih menahan pemulihan pasar adalah perhatian MSCI terhadap kualitas dan keterbukaan pasar modal Indonesia.

Dalam kajian tersebut, MSCI masih menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, keandalan data free float, serta jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan investor di pasar.

“Isu MSCI menjadi penting karena berdampak langsung pada persepsi investor global. Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk lebih agresif ke pasar Indonesia,” katanya.

BEI mencatat data perdagangan saham selama sepekan periode 2—5 Juni 2026 ditutup pada zona bervariasi. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini.

“Yaitu sebesar 14,11 persen menjadi 2,41 juta kali transaksi dari 2,11 juta kali pada pekan lalu,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat, 5 Juni 2026.

Rata-rata volume transaksi harian BEI pada pekan ini sebesar 33,63 miliar lembar saham. Angka ini naik 8,66 persen dibanding pekan sebelumnya yang sebanyak 30,95 miliar lembar saham.

Akan tetapi, kapitalisasi pasar BEI pada pekan ini menurun 8,59 persen menjadi Rp9.807 triliun dari Rp10.729 triliun pada pekan sebelumnya.

“Rata-rata nilai transaksi harian pekan ini turut mengalami perubahan, yaitu sebesar 5,71% menjadi Rp26,97 triliun dari Rp28,38 triliun pada pekan lalu,” lanjut Kautsar.

Sementara itu, pergerakan Indeks Harga Saham  Gabungan (IHSG) selama sepekan mengalami penurunan cukup signifikan. Kautsar menyampaikan, indeks pekan ini turun hingga 8,69 persen.

“Sehingga ditutup pada level 5.594,765 dari posisi 6.127,381 pada pekan lalu,” jelasnya.

Adapun investor asing hari ini (Jumat, 5 Juni 2026) mencatatkan nilai jual bersih Rp3,73 triliun dan sepanjang tahun 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp61,36 triliun.

BEI Beri Respons

BEI akhirnya angkat bicara merespons tekanan yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir. Di tengah volatilitas pasar dan meningkatnya kekhawatiran investor, BEI menegaskan bahwa kondisi fundamental emiten domestik masih berada dalam tren yang solid serta meminta pelaku pasar tetap rasional dalam mengambil keputusan investasi.

Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menekankan bahwa investor perlu kembali berpegang pada data dan fundamental perusahaan, bukan sentimen jangka pendek maupun informasi yang belum terverifikasi.

“Kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada investor untuk dapat mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan juga berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing investor,” ujar Jeffrey di pressroom media Gedung BEI, Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa kondisi fundamental emiten saat ini masih tergolong kuat. Berdasarkan laporan keuangan yang telah dirilis, kinerja perusahaan tercatat menunjukkan pertumbuhan yang konsisten hingga akhir 2025, bahkan berlanjut pada awal 2026.

“Fundamental dari perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini dalam kondisi baik,” kata Jeffrey.

Ia memaparkan, laba emiten secara agregat tumbuh lebih dari 21 persen pada akhir 2025. Sementara itu, khusus kelompok saham LQ45, pertumbuhan laba bersih pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 29,9 persen.

Tidak hanya itu, kualitas kinerja emiten juga tercermin dari tingginya jumlah perusahaan yang mencatatkan laba. Pada kuartal I 2026, sekitar 80 persen emiten membukukan laba bersih, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63 persen emiten yang mencatatkan laba, sementara pada 2021 hingga 2025 berada di kisaran 73 hingga 76 persen.

Menurut BEI, data tersebut menunjukkan bahwa kondisi fundamental pasar modal Indonesia masih kuat dan dapat menjadi pijakan bagi investor dalam mengambil keputusan di tengah fluktuasi pasar.

Selain menyoroti fundamental, BEI juga menegaskan bahwa sejumlah kebijakan pengamanan pasar yang telah diterapkan sejak tahun sebelumnya masih berlaku. Kebijakan tersebut mencakup fasilitas buyback tanpa RUPS, penundaan pelaksanaan short selling, serta berbagai langkah stabilisasi lainnya.

“Nggak, semua kebijakan masih tetap sama,” ujar Jeffrey saat ditanya mengenai kemungkinan perubahan kebijakan perdagangan.

Di sisi lain, BEI juga merespons isu yang sempat beredar di pasar terkait kabar Indonesia akan diturunkan ke frontier market oleh MSCI. Jeffrey menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan merupakan hoaks yang sempat memicu kebingungan investor.

“Kemarin kita ikuti bersama ada informasi yang tidak akurat beredar di pasar terkait dengan tangkapan layar. Seolah-olah ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di frontier market. Yang ternyata itu adalah informasi yang salah,” tegas Jeffrey.

Ia mengingatkan bahwa pelaku pasar harus lebih berhati-hati dalam menyaring informasi, terutama yang beredar melalui tangkapan layar atau pesan berantai tanpa sumber resmi.

“kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi Indonesia akan tetap di emerging market,” tambahnya.

BEI menilai, kesalahan informasi seperti itu berpotensi memperburuk sentimen pasar jika tidak segera diluruskan. Oleh karena itu, investor diimbau untuk selalu melakukan verifikasi sebelum mengambil keputusan investasi.

Dalam kesempatan yang sama, BEI juga menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memantau dinamika pasar, termasuk pergerakan IHSG yang belakangan mengalami tekanan.

Sementara itu, dari sisi pengembangan pasar, BEI juga memastikan bahwa pipeline penawaran umum perdana saham atau IPO tetap berjalan sesuai jadwal. Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan bahwa terdapat sekitar 15 calon emiten yang saat ini masih dalam proses.

Ia menambahkan, BEI terus mendorong percepatan proses pencatatan, termasuk respons terhadap dokumen dan laporan keuangan calon emiten agar tidak terjadi keterlambatan dalam jadwal pencatatan.  (*) 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait