KABARBURSA.COM-Serangan siber telah menjadi ancaman serius di berbagai belahan dunia, mempertaruhkan keamanan nasional dengan menargetkan sektor militer. Contoh serangan mencakup kelompok hacker Anonymous yang menyerang situs web Kementerian Pertahanan Rusia sebagai respons atas invasi ke Ukraina pada Februari 2023, serta serangan terhadap perusahaan manufaktur pesawat dan teknologi militer terkemuka di Amerika Serikat pada April 2023.
Pengamat Keamanan Siber dan Direktur WSBCybernecita Indonesia Agung Wibowo mencatat bahwa tahun 2023 menyaksikan kerugian finansial yang signifikan akibat serangan siber di sektor militer di seluruh dunia. Rusia mengalami kerugian diperkirakan mencapai US$ 25 miliar, sementara Amerika Serikat mencatat kerugian hingga US$ 1 triliun. Di Indonesia, serangan siber juga meningkat, menyerang sektor pemerintahan, militer, dan swasta.
"Data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan peningkatan jumlah serangan siber, mencapai 879,3 juta serangan sepanjang tahun 2023. Serangan terhadap sektor militer Indonesia pun meningkat, dari 12 persen pada tahun 2021 menjadi 18 persen pada tahun 2022, dan 10 persen pada semester pertama tahun 2023, menurut data BSSN," katanya Rabu 21 Februari 2024.
Untuk mengatasi tantangan ini, TNI telah membentuk berbagai satuan keamanan siber, seperti Pusat Pertahanan Siber (Pushansiber), dan meningkatkan kesadaran serta kapasitas personel dalam bidang keamanan siber. "Transformasi birokrasi juga diperlukan melalui pengaturan tata kelola yang baik, termasuk integrasi antar unit untuk mitigasi serangan siber dan pertukaran informasi yang lancar," kata Agung.
"Peningkatan anggaran pertahanan siber menjadi kunci dalam memastikan efisiensi dan efektivitas upaya pertahanan siber. Dukungan anggaran yang memadai memungkinkan personel TNI untuk mendapatkan pelatihan dan teknologi yang diperlukan, serta mendukung pelaksanaan transformasi birokrasi yang diperlukan," pungkas Agung.