Lonjakan Minyak dan Inflasi bikin Wall Street Ambruk

Harga minyak melonjak di tengah perang Iran, inflasi naik, dan sikap The Fed yang menahan suku bunga memicu tekanan besar di Wall Street.

Wall Street jatuh akibat lonjakan harga minyak dan inflasi. The Fed menahan suku bunga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Wall Street jatuh akibat lonjakan harga minyak dan inflasi. The Fed menahan suku bunga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Foto: Agencies via China Daily
Wall Street jatuh akibat lonjakan harga minyak dan inflasi. The Fed menahan suku bunga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Foto: Agencies via China Daily

Daftar Isi

  1. 01 Inflasi Sudah Panas Sebelum Perang
  2. 02 Obligasi Naik, Emas Ikut Jatuh

KABARBURSA.COM — Pasar saham Amerika Serikat kompak ambruk. Bukan semata karena perang Iran, tapi karena satu hal yang lebih menakutkan bagi investor. Inflasi yang sudah mengintai bahkan sebelum konflik meledak.

Pada Jumat, 20 Maret 2026 WIB, indeks utama Wall Street berguguran. Dilansir dari AP, S&P 500 turun 1,4 persen dan langsung berbalik merugi dalam sepekan. Dow Jones ambles 768 poin atau 1,6 persen. Nasdaq tak kalah terpukul dengan penurunan 1,5 persen.

Tekanan makin dalam setelah bank sentral Amerika Serikat memilih menahan suku bunga. Harapan pasar untuk pemangkasan suku bunga yang selama ini jadi “obat penenang” investor mendadak memudar. Ketua The Fed Jerome Powell bahkan memberi sinyal ketidakpastian yang lebih besar.

“Kami benar-benar tidak tahu,” kata Powell soal arah harga minyak dan dampak kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bagi pasar, itu alarm keras. Artinya arah kebijakan moneter kini berjalan dalam kabut.

Lonjakan harga energi menjadi pemicu utama kegelisahan pasar. Harga minyak Brent melonjak dari sekitar USD70 atau Rp1,18 juta per barel sebelum perang menjadi USD107,38 atau sekitar Rp1,81 juta. Minyak mentah Amerika bahkan sempat mendekati USD99 atau Rp1,67 juta sebelum ditutup di USD96,32 atau sekitar Rp1,63 juta.

Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Konflik di Timur Tengah mulai mengganggu industri energi di kawasan Teluk Persia. Iran bahkan memberi sinyal akan memperluas serangan. Televisi pemerintah Iran melaporkan negara itu akan menyerang infrastruktur minyak dan gas di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai respons atas serangan terhadap fasilitas gas South Pars.

Jika gangguan ini berlangsung lama, dampaknya bukan hanya harga energi. Tapi bisa menjalar menjadi gelombang inflasi global yang lebih besar.

Inflasi Sudah Panas Sebelum Perang

Yang membuat pasar makin panik, tekanan inflasi ternyata sudah muncul bahkan sebelum perang dimulai. Data terbaru menunjukkan inflasi tingkat produsen di Amerika naik menjadi 3,4 persen bulan lalu. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan.

Kondisi ini membuat The Fed memilih bertahan. Menurunkan suku bunga memang bisa mendorong ekonomi dan pasar saham. Tapi di sisi lain, langkah itu berisiko memperparah inflasi.

Hasil voting di internal The Fed pun menunjukkan mayoritas masih berhati-hati. Sebanyak 11 anggota memilih menahan suku bunga, hanya satu yang mendukung penurunan.

Powell mengakui selama ini The Fed cenderung mengabaikan lonjakan harga minyak jika sifatnya sementara. Tapi kali ini situasinya berbeda. Jika ekspektasi inflasi ikut melonjak, kebijakan tersebut tidak lagi relevan.

Sejumlah pejabat The Fed bahkan memangkas proyeksi penurunan suku bunga tahun ini dari dua kali menjadi satu kali. Dampaknya langsung terasa di pasar. Pelaku pasar kini hanya melihat peluang 49 persen untuk pemangkasan suku bunga tahun ini. Padahal sebulan lalu probabilitasnya masih 95 persen.

Obligasi Naik, Emas Ikut Jatuh

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika menjadi efek lanjutan. Yield obligasi 10 tahun naik ke 4,26 persen dari sebelumnya 4,20 persen. Bahkan sebelum perang, levelnya masih di 3,97 persen. Kenaikan ini menekan hampir semua aset. Saham, kripto, hingga emas ikut terpukul.

Harga emas turun 2,2 persen ke USD4.896,20 atau sekitar Rp82,74 juta per ons. Angka ini bahkan lebih rendah dibanding saat awal perang. Padahal selama ini emas dikenal sebagai aset aman saat krisis. Tapi ketika obligasi menawarkan imbal hasil lebih tinggi, emas mulai ditinggalkan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait