Market Hari Ini 16 May 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Margin Bisnis Ternak Menebal, JPFA Cetak Laba Tiga Digit

JPFA mencatat lonjakan laba bersih kuartal I 2026 menjadi Rp1,94 triliun. Kenaikan margin dan perbaikan profitabilitas mulai mengangkat kinerja emiten peternakan ini.

JPFA mencetak laba bersih Rp1,94 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 157 persen. Margin usaha mulai membaik seiring kenaikan penjualan.

JPFA membukukan laba bersih sebesar Rp1,94 triliun pada kuartal I 2026. (Foto: dok Japfa)
JPFA membukukan laba bersih sebesar Rp1,94 triliun pada kuartal I 2026. (Foto: dok Japfa)

KABARBURSA.COM – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membuka 2026 dengan lonjakan kinerja yang jauh lebih agresif dibanding tahun lalu. Emiten sektor peternakan dan pakan ternak ini berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih tiga digit di tengah pemulihan margin usaha dan naiknya penjualan.

Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit per 31 Maret 2026, JPFA membukukan laba bersih sebesar Rp1,94 triliun pada kuartal I 2026. Angka tersebut melonjak sekitar 157 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang berada di kisaran Rp754,1 miliar.

Lonjakan laba tersebut menjadi salah satu pertumbuhan paling mencolok dalam sektor consumer non-cyclicals sejauh awal tahun ini. Perbaikan profitabilitas terlihat mulai terjadi hampir di seluruh lini usaha perseroan.

Dari sisi pendapatan, JPFA mencatat penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp17,71 triliun hingga akhir Maret 2026. Angka ini tumbuh sekitar 23,6 persen dibanding kuartal I 2025 yang tercatat Rp14,33 triliun.

Namun yang paling menarik justru terjadi di level margin. Laba bruto JPFA melonjak menjadi Rp4,52 triliun dari sebelumnya Rp2,69 triliun. Kenaikan tersebut membuat pertumbuhan laba bruto mencapai hampir 68 persen secara tahunan.

Pergerakan ini menunjukkan tekanan biaya yang sebelumnya sempat membayangi industri pakan dan peternakan mulai mereda. Ketika harga jual membaik dan efisiensi operasional mulai terasa, ruang profit perusahaan otomatis ikut melebar.

Kondisi tersebut akhirnya mendorong laba sebelum pajak JPFA naik menjadi Rp2,48 triliun dari sebelumnya sekitar Rp976,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Pasar selama ini cukup sensitif terhadap pergerakan margin emiten peternakan. Sebab, sektor ini sangat dipengaruhi harga bahan baku, kurs dolar AS, hingga siklus harga ayam dan pakan domestik. Ketika margin mulai pulih, investor biasanya mulai membaca adanya perubahan fase dalam industri.

Di tengah tekanan global akibat lonjakan dolar AS dan harga energi, capaian JPFA menjadi perhatian tersendiri karena perusahaan masih mampu menjaga pertumbuhan operasional secara agresif.

Laporan keuangan ini juga memperlihatkan kontribusi penjualan domestik yang masih dominan terhadap total pendapatan perseroan. Penjualan lokal JPFA tercatat mencapai sekitar Rp17,34 triliun selama kuartal I 2026.

Kinerja tersebut datang ketika sektor konsumsi domestik mulai menunjukkan perbaikan bertahap, terutama pada permintaan produk protein hewani dan produk turunan peternakan.

Dengan pertumbuhan laba yang jauh lebih cepat dibanding kenaikan penjualan, pasar kini mulai melihat JPFA tidak hanya bertumbuh dari sisi volume, tetapi juga dari kualitas margin usaha.(*)

SEO Description:
 

SEO Keywords:
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait