Market Hari Ini 02 Nov 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Margin BUMI Membaik, Laba Bersih Masih Tertekan

BUMI mencatat pendapatan naik dan margin usaha membaik, namun laba bersih masih tertekan.

BUMI 9M25: pendapatan tumbuh, margin membaik, tapi laba bersih anjlok seiring penurunan harga batubara dan pendapatan lain-lain.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat hasil beragam pada sembilan bulan pertama 2025. (Foto: Dok. Bumi Resources)
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat hasil beragam pada sembilan bulan pertama 2025. (Foto: Dok. Bumi Resources)

KABARBURSA.COM – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat hasil beragam pada sembilan bulan pertama 2025. 

Di satu sisi, efisiensi biaya dan penguatan margin usaha menunjukkan perbaikan operasional yang nyata. 

Namun di sisi lain, tekanan dari penurunan harga batubara global dan pendapatan non-operasional yang melemah membuat laba bersih anjlok lebih dari separuh.

Dalam laporan keuangan interim per September 2025, pendapatan BUMI berdasarkan PSAK 111 tercatat sebesar USD1,04 miliar, naik 11,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. 

Kenaikan ini mencerminkan peningkatan kontribusi dari entitas anak, terutama melalui pengendalian beban operasional dan efisiensi biaya di tengah pelemahan harga komoditas.

Margin usaha turut membaik signifikan, dari 2,7 persen pada sembilan bulan pertama 2024 menjadi 8,1 persen pada Januari-September 2025. Dengan demikian, laba usaha melonjak 231,9 persen menjadi USD84,1 juta. 

Pencapaian ini menandakan bahwa perseroan berhasil menekan biaya pokok pendapatan serta mengoptimalkan proses produksi di tambang-tambang utama.

Namun, perbaikan kinerja operasional tersebut belum mampu mendorong hasil bersih secara keseluruhan. Laba bersih turun 56 persen menjadi USD60,1 juta, sedangkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot lebih tajam, sebesar 76,1 persen ke USD29,4 juta. 

Penurunan ini terutama dipicu oleh perubahan pos pajak dan penurunan pendapatan lain-lain dibandingkan periode sebelumnya.

Jika dihitung secara konsolidasian, termasuk kontribusi dari dua tambang utama, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, pendapatan justru turun 17,4 persen menjadi USD3,55 miliar. Laba usaha juga tergerus 22,1 persen ke USD195,6 juta, dan laba periode berjalan menyusut 56,2 persen menjadi USD87,3 juta.

Manajemen menyebutkan bahwa penurunan tersebut tidak lepas dari faktor eksternal, yakni normalisasi harga batubara global setelah lonjakan tajam pada 2022–2023. 

Harga jual rata-rata (FOB) BUMI pada 9M25 berada di kisaran USD60,4 per ton, turun 18 persen secara tahunan.

Di sisi operasional, produksi batubara mencapai 54,9 juta ton, turun 4 persen dibandingkan tahun lalu, sedangkan volume penjualan menurun 2 persen menjadi 54,5 juta ton. 

Strip ratio juga lebih rendah, dari 8,5 kali menjadi 8,1 kali, sementara stok batubara akhir September tercatat 2,6 juta ton.

Meski menghadapi tekanan eksternal, BUMI tetap mempertahankan panduan (guidance) untuk tahun 2025. Perseroan menargetkan volume penjualan 73–75 juta ton dengan harga rata-rata USD59–USD61 per ton. 

Biaya tunai produksi diproyeksikan stabil di kisaran USD41–USD43 per ton, seiring langkah efisiensi lanjutan di unit tambang dan dukungan sinergi operasional.

BUMI juga menegaskan komitmennya pada tata kelola dan transparansi. Perseroan akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 19 November 2025 di Jakarta, yang akan diikuti dengan earnings call atas hasil 9M25 serta Paparan Publik Tahunan (Public Expose) untuk menyampaikan arah bisnis dan strategi ke depan.

Manajemen menilai disiplin biaya, peningkatan produktivitas, dan efisiensi rantai pasok menjadi kunci menjaga daya saing di tengah kondisi pasar batubara yang menantang. 

Perseroan juga tengah meninjau peluang diversifikasi ke energi baru terbarukan dan optimalisasi aset non-core untuk memperkuat struktur keuangan jangka panjang.

Dengan harga batubara global yang cenderung stabil di kisaran USD100 per ton untuk acuan Newcastle, kinerja BUMI pada kuartal terakhir tahun ini akan sangat bergantung pada efisiensi produksi dan kemampuan menjaga volume ekspor ke pasar utama seperti China dan India. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait