Market Hari Ini 01 Jun 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Pramirvan Datu

MDKA Diramal Hadapi Sejumlah Tantangan di Q2-2025, Analis Rekomendasikan ini

Beban keuangan MDKA yang meningkat sebesar 41 persen pada Kuartal I 2025 mencapai USD111 juta, menjadi beban tersendiri.

MDKA hadapi tantangan kurs & beban keuangan, namun prospek positif kuartal II 2025 dorong rekomendasi buy saham hingga Rp2.400.

Ilustrasi aktivitas PT Merdeka Copper Gold Tbk atau MDKA. (Foto: Dok Perusahaan)
Ilustrasi aktivitas PT Merdeka Copper Gold Tbk atau MDKA. (Foto: Dok Perusahaan)

Daftar Isi

  1. 01 Diramal Bergerak Positif di Kuartal II 2025
  2. 02 Rekomendasi Buy dengan Target

KABARBURSA.COM - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) diprediksi pada kuartal kedua 2025 ini akan dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satunya dari segi posisi kurs rupiah terhadap USD.

Menurut Analis Stocknow.id Abdul Haq Al Faruqy Lubis, selisih kurs rupiah terhadap USD bisa menjadi tekanan pada hasil penjualan ekspor MDKA.

"Tidak hanya itu, tantangan lain akan datang dari perang tarif yang mengganggu supply chain nikel jika semakin melebar, serta pesaing yang semakin banyak di industri emas dan nikel. Begitu pula dengan kinerja MDKA dalam memaksimalkan potensi produksi anak usahanya," kata Abdul kepada KabarBursa.com, Sabtu, 31 Mei 2025.

Tantangan lainnya juga muncul dari segi internal perusahaan. Abdul menyebut, beban keuangan MDKA yang meningkat sebesar 41 persen pada Kuartal I 2025 mencapai USD111 juta, menjadi beban tersendiri.

Menurut ia, beban itu terjadi akibat kenaikan bunga obligasi dan pinjaman yang dipengaruhi oleh suku bunga global yang tinggi.

"Hal ini menekan margin keuntungan perusahaan," ujar Abdul.

Diramal Bergerak Positif di Kuartal II 2025

Meskipun diprediksi akan berhadapan dengan tantangan berat, namun MDKA diramal akan membukukan kinerja positif pada kuartal II 2025. Ada banyak sentimen positif yang menguatkan kinerjanya.

Abdul mengatakan, MDKA berpotensi mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan dari segi top dan bottom line emiten.

Adapun salah satu faktor utama pendongkrak pertumbuhan kinerja emiten ini yaitu stabilitas harga emas dan katalis positif dari nikel.

"Yang berpotensi masih akan berada pada level kisaran USD3.000 - USD3.400 per t.oz, serta kontribusi dari segmen nikel yang akan meningkat pada kuartal II 2025 akibat permitaan yang naik pada periode tersebut," ujar dia.

Namun begitu, Abdul menyebut adanya tekanan dalam pelemahan mata uang rupiah menjadi beban kurs yang akan ditanggung oleh MDKA. Sebab, lanjutnya, penjualan MDKA pada tahun 2024 ditopang oleh ekspor yang lebih tinggi dibandingkan penjualan domestik.

Kendati demikian, Abdul tetap optimistis kondisi ini bisa dihadapi MDKA jika perusahaan mampu meningkatkan produksi serta penjualan nikel pada kuartal II 2025.

"Hal ini juga sejalan dengan proyeksi permintaan nikel pada tahun 2025 meningkat sebesar 6,9 persen yang didorong oleh ekspansi sektor energi bersih dan produksi baja nirkarat," ungkapnya.

Rekomendasi Buy dengan Target

Dari segi saham, Abdul merekomendasikan MDKA “buy” dengan target Rp2400 dan SL di level Rp1.880 dalam jangka waktu menengah. Menurutnya, hal ini berpotensi ditopang oleh penguatan harga emas menjelang deadline penundaan tarif di Juli 2025 hingga potensi kinerja positif kuartal II 2025.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait