Market Hari Ini 13 May 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Minyak WTI Tembus USD102, Investor Cemas Pasokan Global

Harga minyak dunia kembali menguat setelah konflik AS-Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Harga minyak Brent dan WTI melonjak usai konflik AS-Iran memanas. Pasar khawatir pasokan energi global terganggu.

Ilustrasi kenaikan harga minyak yang terjadi secara beruntun akibat kekhawatiran global terhadap perang di Timur Tengah. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi kenaikan harga minyak yang terjadi secara beruntun akibat kekhawatiran global terhadap perang di Timur Tengah. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Harga minyak mentah dunia kembali ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026 waktu setempat atau Rabu pagi WIB. Peningkatan harga minyak ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global akibat konflik Amerika Serikat dan Iran.

Reli harga minyak berlangsung untuk hari ketiga berturut-turut setelah peluang tercapainya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran kembali memudar.

Berdasarkand data yang dihimpun KabarBursa.com, minyak mentah Brent ditutup melonjak USD3,56 atau naik 3,42 persen menjadi USD107,77 per barel. Sedangkan untuk minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD4,11 atau 4,19 persen ke level USD102,18 per barel. 

Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan hampir 3 persen yang sudah terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pasar minyak kembali bergejolak setelah Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “bertahan hidup”.

Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan distribusi minyak global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. 

Sebelumnya, pasar sempat berharap ketegangan AS-Iran mulai mereda setelah muncul proposal perdamaian dari Teheran. Optimisme tersebut bahkan sempat menekan harga minyak lebih dari 6 persen pada pekan lalu.

Namun sentimen kembali berubah setelah Washington menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian tersebut. 

Melansir dari Reuters, Analis energi Rabobank Florence Schmit mengatakan pasar kembali melihat risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Narasi pasar berubah cepat dari de-eskalasi menjadi eskalasi dalam beberapa hari, dan pasar minyak merespons meski secara terbatas,” ujar Florence Schmit dikutip Reuters, 12 Mei 2026. 

Selain faktor geopolitik, pasar juga mulai mencermati risiko pengetatan pasokan global di tengah produksi OPEC yang masih rendah dan terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.

Reuters melaporkan sejumlah analis memperkirakan harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi apabila konflik Iran kembali memburuk dan gangguan distribusi di Selat Hormuz terus berlangsung. 

Sementara itu, JPMorgan memperkirakan harga minyak dapat tetap berada di kisaran USD100 per barel sepanjang 2026 apabila ketidakpastian geopolitik global belum mereda.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait