Mobil Listrik Berisiko Terbakar, apa Solusi Pemerintah?

Mobil Listrik Berisiko Terbakar, apa Solusi Pemerintah?
Mobil Listrik Berisiko Terbakar, apa Solusi Pemerintah?

Daftar Isi

  1. 01 Pemadaman Kebakaran Baterai
  2. 02 Pemerintah Perlu Pro Aktif

KABARBURSA.COM – Kasus kebakaran mobil listrik di berbagai negara menjadi pertanda jika pengguna mobil listrik masih dihantui risiko konsleting dan kebakaran baterai. Pabrikan kendaraan mendapat tantangan untuk menjaga kepercayaan konsumen terkait dengan keamanan mobil listrik dari risiko yang tidak terduga.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu, tidak menampik jika masih banyak kasus kebakaran mobil listrik di luar negeri. Kendati demikian, ia menilai jika kasus kebakaran mobil listrik yang terjadi tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan populasi mobil listrik yang beredar dan mobil konvensional.

Meskipun jumlah kasus kebakaran EV relatif kecil, penting untuk diingat bahwa setiap kasus kebakaran adalah serius dan dapat menimbulkan kerugian besar. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, produsen, dan konsumen untuk terus memperhatikan dan meningkatkan keamanan kendaraan listrik,” kata Yannes kepada KabarBursa, Selasa, 25 Juni 2024.

Yannes menilai Batterai Lithium Ferro-Phosphate (LFP) masih menjadi baterai paling aman untuk digunakan di Indonesia. Menurut dia, baterai LFP lebih stabil dibandingkan dengan katoda berbasis nikel. “Meskipun memiliki kepadatan energi yang lebih rendah, LFP menawarkan keamanan yang lebih baik dan masa pakai yang lebih lama,” kata Yannes.

Kendati demikian, ia percaya jika perkembangan teknologi baterai densitas tinggi yang menggunakan nikel masih akan terus berlanjut hingga membuatnya lebih aman dibanding sebelum-sebelumnya.

Ia berharap dengan penelitian dan pengembangan yang terus berlangsung akan membuat baterai lithium-ion akan semakin aman dan jadi andalan pada masa mendatang.

“Riset-riset BMS (sistem manajemen baterai) canggih yang dapat memantau suhu dan tegangan setiap sel baterai secara real-time sedang berkembang pesat saat ini,” jelasnya.

Akademisi dari Institut Teknologi Bandung itu mengungkapkan, adanya BMS memungkinkan deteksi dini terhadap anomali yang menyebabkan panas berlebih secara sistemik dapat memblokir thermal run out yang terjadi.

Pemadaman Kebakaran Baterai

Sebelumnya, Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mengatakan bahwa belum ada kasus kebakaran mobil listrik di Indonesia. Ia mengungkapkan, selama ini kebakaran baterai mobil listrik di luar negeri sulit dipadamkan.

“Meski direndam air kolam, akan tetap menyala (apinya) karena di dalam baterai listrik terdapat ribuan sel. Ketika satu (sel) mengalami malfunction akan terjadi thermal runaway hingga sel habis baru padam,” kata Wildan kepada KabarBursa beberapa waktu lalu.

Menurut Wildan, selama ini cara yang dilakukan pemadam kebakaran adalah dengan mengisolasi kebakaran dengan cara memasukkan ke dalam kolam.

Menanggapi berbagai kasus kebakaran tersebut, Yannes menilai belum ada komunikasi teknologi pemadaman yang efektif. “Pihak kampus belum pernah dilibatkan oleh para stakeholders. Jadi mereka masih memakai pola-pola business as usual untuk situasi yang unusual,” katanya.

Yannes mengatakan, pemadaman kebakaran baterai sudah dapat dilakukan dengan cara menghilangkan kontak baterai dengan O2 (oksigen).

Menurutnya, sudah ada pengembangan teknologi Fire Blanket isolator O2, APAR Kelas D khusus untuk kebakaran logam, termasuk lithium, yang menggunakan bahan kimia kering untuk memadamkan api.

“Fire Suppression System otomatis yang terpasang di dalam mobil listrik yang dapat mendeteksi panas berlebih dan menyemprotkan agen pemadam api ke baterai, Immersion Cooling, sensor panas bebasis AI untuk memprediksi potensi kebakaran baterai dan pencegahan dini secara real time,” jelasnya.

Pemerintah Perlu Pro Aktif

Yannes mengimbau agar pemerintah perlu mengambil langkah cepat untuk membuat kebijakan-kebijakan prefentif kuratif terkait dengan risiko kebakaran baterai mobil listrik.

“Pemerintah Indonesia perlu mengambil peran proaktif dalam memastikan keamanan EV dengan menetapkan regulasi dan standar keamanan yang ketat, mengedukasi masyarakat dan petugas terkait, mengembangkan infrastruktur pengisian daya yang aman, mendukung riset dan pengembangan teknologi EV yang aman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Yannes juga menyebut pihak agen pemegang merek (APM) memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kepercayaan konsumen dengan memproduksi mobil listrik berkualitas tinggi.

Pihak APM juga diminta transparan mengenai risiko potensial, menyediakan layanan purna jual yang memadai, terus mengembangkan teknologi, dan mengedukasi konsumen tentang penggunaan dan perawatan yang aman.

“Konsumen juga perlu berperan aktif dalam menjaga keamanan diri dan lingkungan dengan mencari informasi yang cukup tentang mobil listrik. Konsumen juga perlu mengikuti petunjuk pengisian daya yang benar, melakukan perawatan rutin, waspada terhadap tanda-tanda bahaya, dan memastikan mobil listrik diasuransikan dengan perlindungan yang memadai,” pungkasnya.(cit/*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait