Market Hari Ini 30 Mar 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Morgan Stanley Turunkan Rating Saham, Dipicu Harga Minyak Dunia

Morgan Stanley turunkan peringkat ekuitas global di tengah lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik yang memicu sikap defensif investor.

Morgan Stanley turunkan rating saham global akibat lonjakan harga minyak. Investor mulai beralih ke obligasi dan aset aman.

Ilustrasi Morgan Stanley menurunkan rating saham. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi Morgan Stanley menurunkan rating saham. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Morgan Stanley menurunkan peringkat ekuitas global di tengah lonjakan harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Penurunan ini dilakukan untuk memicu pergeseran investor ke aset yang lebih defensif.

Bank investasi tersebut menurunkan rekomendasi ekuitas global dari overweight menjadi equal weight, sekaligus menaikkan alokasi pada obligasi pemerintah Amerika Serikat dan kas. Langkah ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap aset berisiko.

Morgan Stanley menilai risiko pasar semakin sulit diprediksi, terutama akibat ketidakpastian pasokan energi global.

“Ketidakpastian terkait besaran dan durasi gangguan pasokan minyak membuat prospek aset berisiko menjadi semakin tidak simetris,” kata Morgan Stanley strategists, dalam laporan Reuters, 30 Maret 2026.

Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama perubahan strategi ini. Harga Brent tercatat berada di sekitar USD116 per barel, naik sekitar 3 persen secara harian pada 29–30 Maret 2026. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD102,69 per barel, juga naik sekitar 3,1 persen.

Secara bulanan, kenaikan bahkan lebih tajam. Reuters mencatat harga Brent telah melonjak sekitar 59 persen sepanjang Maret, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Perang Teluk 1990.

Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman terhadap fasilitas ekspor minyak Iran serta risiko gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.

Dalam kondisi tersebut, Morgan Stanley memperingatkan bahwa tekanan terhadap pasar saham bisa semakin dalam jika harga energi tetap tinggi.

Bank tersebut menyebut valuasi ekuitas global berpotensi turun hingga hampir 25 persen apabila harga minyak bertahan di kisaran USD150 hingga USD180 per barel.

Tekanan juga mulai terlihat di pasar saham global. Indeks Nikkei 225 tercatat turun sekitar 2,8 persen pada 29-30 Maret, sementara sebelumnya S&P 500 turun 1,67 persen, Nasdaq 2,15 persen, dan MSCI World 1,35 persen. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan indeks saham utama yang telah berlangsung selama beberapa pekan.

Sentimen pasar yang cenderung risk-off juga tercermin dari pergerakan aset safe haven. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,4 persen, sementara indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Di sisi lain, investor juga terus mencermati perkembangan konflik sebagai faktor utama arah pasar.

“Investor tetap fokus pada lamanya perang, bukan sekadar berita sesaat, dengan setiap penutupan berkepanjangan Selat (Hormuz) atau kerusakan infrastruktur yang mempertahankan premi risiko yang signifikan dalam harga,” kata Alex Hodes, analyst at StoneX, dalam laporan Reuters, 27 Maret 2026.

Analis lain juga menilai bahwa pasar membutuhkan kepastian yang lebih konkret untuk meredakan tekanan.

“Ucapan saja tidak cukup saat ini, dengan perpanjangan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran oleh Presiden Trump gagal mengangkat sentimen pasar secara berarti. Bukti nyata adanya kemajuan yang dibutuhkan,” kata Matt Britzman, senior equity analyst at Hargreaves Lansdown, dalam laporan Reuters, 27 Maret 2026.

Seiring konflik yang telah memasuki minggu kelima, pasar kini tidak lagi hanya bereaksi terhadap berita jangka pendek, tetapi mulai memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi yang lebih panjang.

Kondisi ini mendorong investor global untuk mengurangi eksposur pada saham dan meningkatkan kepemilikan aset likuid serta instrumen yang dianggap lebih aman, menandai fase pasar yang semakin defensif di tengah ketidakpastian global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait