Market Hari Ini 19 Jun 2026 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Uslimin Usle

MSCI Global Market Accessibility Review 2026: RI hingga Korsel, ini Daftar Lengkap Temuannya

Dalam siklus review ini, terdapat lebih banyak peningkatan penilaian dibandingkan penurunan di pasar negara berkembang.

Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis Global Market Accessibility Review 2026 pada 18 Juni 2026 waktu New York atau 19 Juni 2026

Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis Global Market Accessibility Review 2026 pada 18 Juni 2026 waktu New York atau 19 Juni 2026 pukul 03.30 WIB. Dalam laporan tersebut, MSCI mengevaluasi aksesibilitas pasar di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, Turki, Korea Selatan, Arab Saudi, Chile, Brasil, Afrika Selatan, Thailand, serta Nuam Exchange yang mencakup Chile, Kolombia, dan Peru.

MSCI menyampaikan bahwa pada siklus review kali ini, jumlah peningkatan penilaian lebih banyak dibandingkan penurunan di pasar negara berkembang. Namun, sejumlah isu struktural masih memengaruhi penilaian pada beberapa negara.

“Dalam siklus review ini, terdapat lebih banyak peningkatan penilaian dibandingkan penurunan di pasar negara berkembang," tulis MSCI.

MSCI menjelaskan bahwa penurunan penilaian terutama dipicu oleh masalah struktural berupa kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran terhadap praktik perdagangan terkoordinasi di Indonesia dan Turki yang berdampak pada kriteria Information Flow.

“Penurunan dipicu oleh masalah struktural dalam kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran terhadap perdagangan terkoordinasi di Indonesia dan Turki yang memengaruhi kriteria Information Flow," 

Kondisi tersebut, menurut MSCI, berdampak pada kemampuan investor institusi internasional dalam menilai free float yang sebenarnya serta dalam menggunakan harga pasar sebagai acuan untuk penyusunan portofolio maupun replikasi indeks.

“Masalah ini secara material membatasi kemampuan investor institusi internasional untuk menilai free float yang sebenarnya dan bergantung pada harga pasar untuk konstruksi portofolio dan replikasi indeks” sambung MSCI.

Fenomena serupa juga ditemukan di Turki, terutama pada saham berkapitalisasi kecil, yang dapat mengganggu pembentukan harga dan meningkatkan volatilitas.

“Fenomena serupa diamati di Turki, khususnya pada perusahaan small-cap. Hal ini dapat mengganggu pembentukan harga dan meningkatkan volatilitas.”

Atas kondisi tersebut, MSCI menyatakan bahwa kriteria Information Flow diturunkan untuk Indonesia dan Turki.

“Sebagai hasilnya, kriteria Information Flow diturunkan untuk kedua pasar tersebut.”

Di Korea Selatan, MSCI mencatat bahwa otoritas masih melanjutkan agenda reformasi yang telah dimulai pada tahun-tahun sebelumnya dengan tambahan kebijakan di berbagai sektor. Namun, sejumlah isu mendasar terkait aksesibilitas pasar masih belum terselesaikan.

MSCI juga menyoroti upaya Korea Selatan dalam menyelaraskan kerangka pasar valuta asing dengan standar global, termasuk rencana peluncuran pasar valuta asing 24 jam pada pertengahan 2026 serta pilot Offshore KRW Settlement Institution pada akhir 2026 dengan target implementasi penuh pada 2027.

“Fasilitas pasar valuta asing 24 jam akan diluncurkan pada pertengahan 2026 dan pilot Offshore KRW Settlement Institution pada akhir 2026 dengan implementasi penuh ditargetkan pada 2027.”

Selain itu, transisi dari Investor Registration Certificate (IRC) ke Legal Entity Identifier (LEI) yang dimulai sejak Desember 2023 masih berlangsung. MSCI mencatat bahwa koeksistensi kedua sistem tersebut membatasi penerapan struktur rekening omnibus secara praktis.

“Koeksistensi kedua sistem tersebut membatasi penerapan praktis struktur rekening omnibus.”

Dalam aspek keterbukaan informasi, MSCI menyebut kewajiban disclosure berbahasa Inggris di Korea Selatan telah memasuki fase kedua pada 2026, dan akan diperluas pada 2027 untuk seluruh perusahaan yang tercatat di KOSPI.

Terkait short selling, MSCI mencatat bahwa larangan short selling di Korea dicabut pada awal 2025 bersamaan dengan penerapan sistem deteksi naked short selling. Namun, masih terdapat friksi dalam implementasi serta penyesuaian infrastruktur yang terus berlangsung.

Di sisi lain, Arab Saudi mencatat peningkatan penilaian pada kriteria Investor Qualification Requirement setelah penghapusan konsep Qualified Foreign Investor (QFI) di Main Market yang mulai berlaku pada 1 Februari 2026.

“Penghapusan konsep Qualified Foreign Investor memungkinkan investor asing mengakses pasar tanpa persyaratan kualifikasi.”

MSCI juga mencatat bahwa Chile mengalami peningkatan pada kriteria Capital Flow Restriction setelah proses repatriasi dana membaik secara signifikan, dengan meningkatnya likuiditas valuta asing serta percepatan proses hingga same-day processing.

Selain penilaian negara, MSCI juga menyoroti evaluasi sejumlah pasar terkait transisi settlement ke T+1.

Di Turki, Bursa Istanbul memulai evaluasi formal T+1 sejak Januari 2026 dan membuka lingkungan pengujian, dengan kewajiban kesiapan pelaku pasar pada 31 Desember 2026 meski jadwal implementasi belum ditetapkan.

Di Brasil, bank sentral membuka konsultasi publik pada Oktober 2025 terkait pemendekan siklus settlement, sementara bursa B3 menargetkan implementasi T+1 pada Februari 2028.

Di Afrika Selatan, discussion paper mengenai potensi T+1 diterbitkan pada Januari 2026 sebagai langkah awal evaluasi.

Di Thailand, bursa sedang membentuk kelompok kerja khusus untuk menilai kelayakan implementasi T+1.

Sementara itu, Nuam Exchange yang mengintegrasikan pasar Chile, Kolombia, dan Peru menargetkan transisi ke T+1 pada paruh kedua 2027.

MSCI mencatat bahwa berbagai inisiatif tersebut mencerminkan upaya sejumlah pasar negara berkembang dalam meningkatkan efisiensi infrastruktur perdagangan dan penyelesaian transaksi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait