Market Hari Ini 25 Feb 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Nikel Turun Tipis, Dolar dan Isu Morowali Jadi Sorotan

Harga nikel LME turun 0,39 persen ke USD17.283 per ton, pasar cermati dolar AS, likuiditas logam dasar, dan isu industri nikel Indonesia.

Harga nikel LME turun ke USD17.283 per ton. Pasar pantau dolar AS, likuiditas global, dan perkembangan industri nikel Indonesia.

Ilustrasi penurunan harga nikel. Foto: dok KabarBursa.com.
Ilustrasi penurunan harga nikel. Foto: dok KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM — Harga nikel dunia tercatat melemah tipis pada perdagangan terakhir. Pelemahan ini terjadi seiring pelaku pasar logam dasar mencermati dinamika nilai tukar dolar AS, ketidakpastian kebijakan tarif global, serta perkembangan industri nikel di Indonesia.

Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel untuk kontrak tiga bulan (3-month) berada di level sekitar USD17.283 per ton pada penutupan perdagangan terakhir.

Harga tersebut turun sekitar USD67,67 atau 0,39 persen dibanding sesi sebelumnya yang berada di kisaran USD17.350,67 per ton. Data ini merupakan harga penutupan LME pada perdagangan 24 Februari 2026 yang tersedia secara publik dengan jeda waktu.

Pergerakan harga nikel juga mencerminkan dinamika yang terjadi di pasar logam dasar global. Pelemahan dolar AS disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen di pasar komoditas logam.

Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan bahwa kompleks logam dasar mendapatkan dukungan dari pergerakan mata uang tersebut.

“Logam dasar diam-diam diuntungkan oleh putusan pengadilan soal tarif, tetapi itu terutama karena dolar melemah,” kata Waterer, dikutip dari laporan Reuters, 23 Februari 2026.

Selain faktor makroekonomi, kondisi likuiditas pasar juga memengaruhi pergerakan harga logam dalam beberapa sesi terakhir. Sejumlah pelaku pasar di Asia diketahui tidak aktif karena periode libur, sehingga aktivitas perdagangan menjadi lebih tipis.

Analis Panmure Liberum Tom Price mengatakan kondisi tersebut membuat arus modal di pasar logam menjadi terbatas.

“Mereka jarang meninggalkan modal besar di pasar,” ujar Price dalam laporan Reuters yang menyoroti dinamika perdagangan logam dasar, 23 Februari 2026.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan industri nikel di Indonesia, yang merupakan produsen terbesar dunia.

Laporan Reuters menyebut pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan pencabutan izin lingkungan sebuah perusahaan nikel setelah insiden longsor fatal di kawasan industri Morowali.

Isu keselamatan dan kepatuhan lingkungan di pusat produksi nikel tersebut dinilai dapat menambah lapisan risiko terhadap pasokan global, sehingga tetap menjadi faktor yang dipantau oleh pelaku pasar komoditas logam.

Secara keseluruhan, pergerakan harga nikel dalam jangka pendek diperkirakan masih sensitif terhadap perubahan sentimen makro seperti pergerakan dolar AS, likuiditas pasar logam dasar, serta perkembangan kebijakan dan operasional di pusat produksi utama seperti Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait