Market Hari Ini 24 Apr 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

NIM BCA (BBCA) Menyusut, Laba Q1-2026 Tumbuh Empat Persen

Laba BBCA naik 4 persen, namun NIM menyusut dan pertumbuhan kredit di bawah target, memicu respons negatif pasar di awal perdagangan.

Kinerja BBCA Q1 2026 tumbuh terbatas. Simak tekanan margin, kredit, dan respons pasar terbaru.

Laba BCA memang bertumbuh 4 persen, namun NIM-nya justru turun menjadi 5,4 persen. (Foto: dok BCA)
Laba BCA memang bertumbuh 4 persen, namun NIM-nya justru turun menjadi 5,4 persen. (Foto: dok BCA)

Daftar Isi

  1. 01 Struktur Pendanaan Menguat
  2. 02 Rekomendasi Buy

KABARBURSA.COM – Kinerja keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di kuartal pertama 2026, menjadi sorotan pasar. Labanya bertumbuh 4 persen, namun NIM menyusut. Kinerja ini memang sejalan dengan ekspektasi pasar, namun tidak mencerminkan akseleras yang kuat.

Dalam catatan kinerja, laba bersih BCA tercatat sebesar Rp14,7 triliun. Tapi, dari sisi pendapatan, net interest income cenderung datar. Pertumbuhannya lebih banyak ditopang oleh pendapatan non bunga yang naik hingga 16 persen.

Jika dilihat dari struktur profitabilitas, dinamikanya lebih berlapis. Pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 5 persen. Akan tetapi, biaya pencadangan naik sebanyak 20 persen dan mendorong cost of credit ke level 60 basis poin. Ini level yang sangat tinggi dari panduan yang ada.

Di saat yang sama, margin bunga bersih (NIM) justru turun menjadi 5,4 persen. Penyebabnya adalah penurunan imbal hasil aset, terutama dari segmen korporasi. Segmen ini memang sangat sensitif terhadap suku bunga.

Beralih ke sisi intermediasi. Pertumbuhan kredit saat ini berada di level 6 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dari target 8 sampai 10 persen.

Segmen korporasi dan komersial sampai saat ini masih jadi penopang, sedangkan segmen komsumer mengalam kontraksi sebesar 2 persen lantaran adanya penurunan tajam pada kredit otomotif sebanyak 20 persen.

Kualitas aset juga bergerak tipis, di mana NPL-nya hanya naik 1,8 persen dan loan at risknya ke 5,1 persen. Hal ini terjadi meskipun rasio cakupan tetap berada di kisaran 70 persen.

Struktur Pendanaan Menguat

Di tengah tekanan tersebut, struktur pendanaan justru menunjukkan penguatan. Dana pihak ketiga tumbuh 8 persen, didorong oleh peningkatan CASA sebesar 11 persen yang membawa rasio CASA ke level 85 persen. 

Kondisi ini memberikan ruang likuiditas yang lebih stabil, meski belum cukup untuk menahan tekanan pada margin.

Respons pasar terhadap kombinasi data tersebut langsung tercermin pada sesi pertama perdagangan hari ini. Saham BBCA dibuka di level Rp6.400, sempat menyentuh Rp6.425, namun kemudian bergerak turun hingga menyentuh Rp6.050 sebelum berada di kisaran Rp6.075. 

Penurunan 5,45 persen ini menunjukkan tekanan jual yang muncul sejak awal sesi dan berlangsung tanpa fase penahanan yang kuat.

Pergerakan intraday ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah pertumbuhan ke depan. Tekanan tidak hanya datang dari perlambatan kredit dan margin, tetapi juga dari kenaikan biaya pencadangan yang menunjukkan pendekatan lebih konservatif terhadap risiko. 

Dalam kondisi seperti ini, pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap setiap perubahan persepsi terhadap kualitas aset dan profitabilitas.

Rekomendasi Buy

Di sisi lain, pandangan analis terhadap BBCA masih berada pada posisi positif. Saham ini diperdagangkan di kisaran valuasi yang lebih rendah dibanding rata-rata historis, yakni sekitar 2,7 kali price to book value dan 13 kali price to earnings ratio

Dengan posisi tersebut, analis dari Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp10.600, mencerminkan ruang kenaikan dari level saat ini meski dalam konteks pertumbuhan yang lebih moderat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait