KABARBURSA.COM - PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP) berencana melakukan penambahan kegiatan usaha dalam aktivitas pengelolaan dan pemulihan material plastik, khususnya material jenis Polycarbonate (PC) dan Polyethylene Terephthalate (PET).
Penambahan kegiatan tersebut merupakan strategi PDPP untuk memperkuat posisi perseroan di industri plastik serta mendukung kegiatan usaha yang berlanjutan.
Manajemen PDPP menyampaikan, industri plastik di Indonesia maupun global menunjukan peningkatan pertahian terhadap pengelolaan limbah plastik, pemanfaatan material daur ulang, serta penerapan prinsip ekonomi sikular dan berkelanjutan.
"Secara global, permintaan terhadap material plastik daur ulang terus meningkat seiring dengan meningkatkan komitmen perusahaan terhadap implementasi Enviromental, Social and Governance (ESG), kebutuhan penggunaan kandungan material daur ulang pada kemasan, dan berkembangnya berbagai kebijakan yang mendukung ekonomi sikular," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi BEI, Senin, 22 Juni 2026.
Asia Pasifik saat ini merupakan pasar terbesar untuk industri plastik daur ulang dan segmen kemasan menjadi salah satu pengguna utama material daur ulang.
Manajemen PDPP memandangm perkembangan tersebut menciptakan peluang usaha yang sejalan dengan pengelaman dan kompetensi yang dimiliki.
Adapun sejak berdiri pada 2005, PDPP telah bergerak di industri plastik. Selain itu, perseroan didukung oleh enam pabrik dengan luas area sekitar delapan hektare, 35 mesin produksi, dan 1.345 karyawan per 31 Desember 2025.
Manajemen berharap, penambahan usaha ini dapat membuka peluang pengembangan lini usaha dan sumber pendapatan baru bagi perusahaan melalui pemulihan barang plastik yang menghasilkan material dasar berupa serpihan plastik PET dan bijih plastik PC.
Dari sisi operasional, perseroan memproyeksikan kapasitas produksi sekitar 5.290 hingga 5.980 ton per tahun. Guna mendukung usaha ini, manajemen PDPP menyatakan jika perusahaan telah memiliki kontrak pemasok bahan baku yang diharapkan mendukung keberlangsungan pasokan material secara berkesinambungan.
Sementara itu, penambahan usaha ini juga diperkirakan dapat memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Manajemen mengatakan, rata-rata gross profit margin selama masa proyeksi diperkirakan sebesar 17,78 persen dan net profit margin senilai 8,13 persen.
"Lebih tinggi dibanding kondisi tanpa penambahan kegiatan usaha yang masing-masing diproyeksikan sebesar 16,89 persen dan 7,31 persen," tulis manajemen.
Selain itu, studi kelayakan menunjukkan nilai Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp18,46 miliar.
Kendati demikian, penambahan usaha ini akan meminta persetujuan dari pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). (*)