PREMIUM Market Hari Ini 12 Mar 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Peluang Diversifikasi Pasar Nikel, RI Bidik AS dan Eropa

Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan dalam industri nikel sejak 2022 hingga 2024, menjadikannya produsen nikel terbesar di dunia

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) yang menyebutkan bahwa saat ini China berkontribusi sekitar 80-90 persen atas konsumsi nikel Indonesia.

Ilustrasi sebuah pengolahan nikel (Foto: Flickr/Ksenia Novikova)
Ilustrasi sebuah pengolahan nikel (Foto: Flickr/Ksenia Novikova)

KABARBURSA.COM - Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan dalam industri nikel sejak 2022 hingga 2024, menjadikannya produsen nikel terbesar di dunia. Hal ini didukung oleh investasi besar dalam pembangunan smelter (peleburan) dan fasilitas pengolahan lainnya.

Pada 2022, Indonesia memproduksi 1,6 juta ton nikel olahan, meningkat dari 1,04 juta ton pada 2021. Sementara itu Indonesia memproduksi 2,02 juta ton nikel olahan tahun 2023, yang setara dengan 57 persen produksi global. Angka ini pun meningkat menjadi 2,38 juta ton pada 2024, mewakili 62 persen dari pangsa pasar global. 

Lebih lanjut, pada 2023, kapasitas pemurnian nikel Indonesia mencapai 8 juta metrik ton. Dari data ini, terdapat 33 perusahaan yang terlibat. Menurut laporan dari organisasi nirlaba Amerika Serikat (AS), C4ADS, ditemukan bahwa kepemilikan perusahaan-perusahaan tersebut saling tumpang tindih, sehingga perusahaan-perusahaan China mengendalikan sekitar tiga perempat dari kapasitas smelting Indonesia atau sekitar 75 persen dari kapasitas tersebut. 

PREMIUM Premium Content

Artikel premium ini hanya tersedia untuk Member

Anda dapat membuka artikel ini secara individual dengan harga Rp35.000. Jika sudah berlangganan, silakan login untuk melanjutkan membaca melalui dashboard premium Anda.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait