Market Hari Ini 04 Aug 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Pendapatan Menurun, ADHI Catat Laba Bersih Rp13,77 Miliar

Pendapatan Menurun, ADHI Catat Laba Bersih Rp13,77 Miliar
Pendapatan Menurun, ADHI Catat Laba Bersih Rp13,77 Miliar

Daftar Isi

  1. 01 Manfaatkan Briket untuk Pengganti Batu Bara

KABARBURSA.COM - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp13,77 miliar pada semester pertama 2024, meningkat 10,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp12,41 miliar. Dengan capaian ini, laba per saham dasar tercatat Rp1,64, naik dari sebelumnya Rp1,48.

Namun, pendapatan usaha mengalami penurunan menjadi Rp5,68 triliun, turun 10,55 persen dari Rp6,35 triliun tahun lalu. Beban pokok pendapatan juga mengalami penurunan menjadi Rp5,15 triliun, lebih rendah dari Rp5,7 triliun sebelumnya. Meskipun demikian, laba kotor merosot menjadi Rp521,66 miliar dari Rp653,32 miliar tahun lalu.

Beban penjualan tercatat Rp5,45 miliar, sedikit menurun dari Rp6,73 miliar sebelumnya. Sebaliknya, beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp377,61 miliar dari Rp341,60 miliar, menyebabkan total beban usaha naik menjadi Rp383,06 miliar dibandingkan Rp348,34 miliar tahun lalu. Laba usaha tercatat Rp138,60 miliar, menurun signifikan dari Rp304,98 miliar.

Bagian laba dari ventura bersama melonjak 109 persen menjadi Rp327,87 miliar dari Rp156,31 miliar tahun lalu. Namun, bagian rugi dari entitas asosiasi melejit 710 persen menjadi Rp8,92 miliar, dibandingkan kerugian Rp1,46 miliar tahun lalu. Beban keuangan meningkat menjadi Rp391,91 miliar dari Rp358,32 miliar, sementara pendapatan lainnya sedikit menurun menjadi Rp78,55 miliar dari Rp79,96 miliar.

Beban pajak penghasilan final meningkat menjadi Rp126,66 miliar dari Rp120,45 miliar, dengan laba sebelum pajak menyusut menjadi Rp35,37 miliar dari Rp61,01 miliar. Beban pajak penghasilan tidak final naik menjadi Rp6,30 miliar dari Rp3,09 miliar, namun total beban pajak penghasilan turun menjadi Rp6,30 miliar dari Rp8,10 miliar. Laba tahun berjalan tercatat Rp29,06 miliar, turun dari Rp52,90 miliar tahun lalu.

Di sisi neraca, jumlah ekuitas meningkat sedikit menjadi Rp9,24 triliun dari Rp9,21 triliun tahun lalu, sedangkan total liabilitas menurun signifikan menjadi Rp26,94 triliun dari Rp31,27 triliun. Jumlah aset juga menurun menjadi Rp36,19 triliun dari Rp40,49 triliun tahun lalu.

Manfaatkan Briket untuk Pengganti Batu Bara

PT Adhi Karya (Persero) Tbk melakukan terobosan dalam pengelolaan limbah dengan mengolah sampah menjadi briket yang dapat digunakan sebagai pengganti  bahan bakar  batubara. Pengolahan ini menggunakan teknik yang dikenal sebagai Refused Derived Fuel (RDF).

Mengutip dari unggahan akun Instagram @adhikaryaid, permasalahan penumpukan sampah di Jakarta telah mendorong pemerintah daerah, termasuk Pemprov DKI Jakarta, untuk mengembangkan fasilitas pengolahan sampah yang lebih efektif.

Sebagai salah satu BUMN terkemuka di Indonesia, Adhi Karya telah mendirikan fasilitas pengolahan sampah terbesar di Indonesia, yaitu RDF Bantargebang. Fasilitas ini memanfaatkan teknologi RDF untuk mengolah sampah dari Jakarta dan sekitarnya menjadi briket RDF.

Dalam unggahan Instagram @adhikaryaid yang dilaporkan pada Senin, 30 Juli 2024, dinyatakan, emiten yang berkode ADHI ini telah berhasil mendirikan RDF Bantargebang, pengolahan sampah terbesar di Indonesia, yang mengubah sampah di Jakarta dan sekitarnya menjadi RDF Briket atau batubara dengan inovasi mutakhir.

RDF adalah produk akhir dari proses pengolahan sampah yang melibatkan pengeringan untuk mengurangi kadar air hingga mencapai sekitar 25 persen, serta meningkatkan nilai kalorinya. Sebelumnya, sampah dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil, sekitar 2-10 cm, untuk mempermudah proses selanjutnya.

Fasilitas ini dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih, termasuk Rotary Dryer, yang berperan penting dalam proses pengolahan. Rotary Dryer mengurangi kadar air pada sampah, sehingga membuat sampah lebih kering dan memiliki nilai kalor yang lebih tinggi, yang menjadikannya sebagai alternatif bahan bakar yang lebih efisien.

“Rotary Dryer berfungsi untuk mengurangi kadar air dalam sampah, yang memungkinkan sampah mengering dengan baik dan memiliki nilai kalor yang lebih tinggi,” tambah penjelasan dalam unggahan tersebut.

Inovasi ini tidak hanya membantu mengatasi masalah sampah yang semakin menumpuk di daerah urban, tetapi juga memberikan solusi yang lebih ramah lingkungan dengan menghasilkan briket sebagai alternatif bahan bakar yang lebih bersih.

Indonesia pernah menduduki peringkat sebagai negara penghasil sampah plastik laut terbesar kedua di dunia, setelah China. Namun, menurut pernyataan terbaru dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), posisi Indonesia dalam daftar pemeringkatan tersebut telah mengalami penurunan.

KKP mengungkapkan bahwa melalui berbagai upaya dan inisiatif pengelolaan sampah, negara ini telah berhasil mengurangi kontribusinya terhadap pencemaran plastik di lautan, dan kini berada di peringkat yang lebih rendah dalam daftar negara-negara penghasil sampah plastik laut. Langkah-langkah tersebut mencakup implementasi kebijakan pengurangan sampah plastik, peningkatan kesadaran masyarakat, serta program-program pembersihan laut yang lebih intensif.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait