Market Hari Ini 15 May 2024 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Pengamat Beberkan Sebab Penjualan Mobil Merosot

Pengamat Beberkan Sebab Penjualan Mobil Merosot
Pengamat Beberkan Sebab Penjualan Mobil Merosot

Daftar Isi

  1. 01 Alami Tren Negatif
  2. 02 Sektor Otomotif Rentan

KABARBURSA.COM - Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus, membeberkan penyebab penjualan mobil merosot pada April 2024.

"Secara prediktif terjadi kompleksitas antara kenaikan suku bunga BI (Bank Indonesia), pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian ekonomi global," ujarnya kepada Kabar Bursa, Rabu 15 Mei 2024.

Yannes mengatakan, suku bunga yang lebih tinggi membuat cicilan kredit meningkat. Dia bilang, kondisi ini menyebabkan turunnya daya beli masyarakat.

"Dengan suku bunga yang lebih tinggi, cicilan kredit mobil meningkat, sehingga menurunkan daya beli masyarakat dan mengurangi minat untuk membeli mobil baru," ungkap dia.

Seperti diketahui pada 24 April 2024 lalu, BI mengumumkan kenaikan suku bunga acuan atau BI rate menjadi 6,25 persen. Langkah BI ini merupakan cara untuk memperkuat stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi dampak negatif dari situasi ekonomi global.

Selain itu, Yannes menambahkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi penyebab merosotnya penjualan mobil. Sebab, kondisi ini membuat harga mobil meningkat.

Adapun nilai tukar rupiah berharap dolar Amerika Serikat senilai Rp16.130 pada Selasa 14 Mei 2024 kemarin.

Kemudian yang terakhir, Yannes menyebut merosotnya penjualan mobil dikarenakan ketidakpastian global yang terjadi di Eropa Timur dan Timur Tengah yang berdampak pada sektor manufaktur dan perdagangan.

'Ketidakstabilan ini mempengaruhi rantai pasok global dan dapat mengurangi produksi serta distribusi kendaraan," tandasnya.

Menurut data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara grosir (dari pabrik ke dealer) pada periode Januari—April 2024 mencapai 263.706 unit. Angka ini menurun 22,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, penjualan secara eceran (dari dealer ke konsumen) juga turun sebesar 14,8 persen year on year (yoy), dari 339.954 unit pada Januari – April 2023 menjadi 289.551 unit pada Januari-April 2024.

Secara bulanan, penjualan mobil nasional pada April 2024 mengalami penurunan signifikan. Penjualan grosir menurun 34,9 persen month to month (mtm) menjadi 48.637 unit, sedangkan penjualan eceran turun 28,4 persen mtm menjadi 58.779 unit.

Toyota masih memimpin pasar otomotif nasional dengan penjualan grosir sebanyak 80.856 unit dan penjualan eceran 92.547 unit pada Januari-April 2024.

Di tempat kedua, Daihatsu mencatatkan penjualan grosir sebanyak 55.484 unit dan penjualan eceran 61.566 unit pada periode yang sama.

Posisi ketiga ditempati oleh Honda dengan penjualan grosir 32.677 unit dan penjualan eceran 36.251 unit, diikuti oleh Mitsubishi Motors di posisi keempat dengan penjualan grosir 23.115 unit dan penjualan eceran 24.815 unit pada Januari persen April 2024.

Sedangkan Suzuki menempati peringkat kelima dengan penjualan grosir sebanyak 22.787 unit dan penjualan eceran 23.817 unit pada periode yang sama.

Alami Tren Negatif

Pasar otomotif Indonesia masih belum menunjukkan tanda-tanda pulih. Penjualan mobil nasional terus mengalami tren negatif saat memasuki awal kuartal II-2024.

Menurut data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara grosir (dari pabrik ke dealer) pada periode Januari—April 2024 mencapai 263.706 unit. Angka ini menurun 22,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, penjualan secara eceran (dari dealer ke konsumen) juga turun sebesar 14,8 persen year on year (yoy), dari 339.954 unit pada Januari – April 2023 menjadi 289.551 unit pada Januari-April 2024.

Secara bulanan, penjualan mobil nasional pada April 2024 mengalami penurunan signifikan. Penjualan grosir menurun 34,9 persen month to month (mtm) menjadi 48.637 unit, sedangkan penjualan eceran turun 28,4 persen mtm menjadi 58.779 unit.

Toyota masih memimpin pasar otomotif nasional dengan penjualan grosir sebanyak 80.856 unit dan penjualan eceran 92.547 unit pada Januari-April 2024. Di tempat kedua, Daihatsu mencatatkan penjualan grosir sebanyak 55.484 unit dan penjualan eceran 61.566 unit pada periode yang sama.

Posisi ketiga ditempati oleh Honda dengan penjualan grosir 32.677 unit dan penjualan eceran 36.251 unit, diikuti oleh Mitsubishi Motors di posisi keempat dengan penjualan grosir 23.115 unit dan penjualan eceran 24.815 unit pada Januari persen April 2024.

Sedangkan Suzuki menempati peringkat kelima dengan penjualan grosir sebanyak 22.787 unit dan penjualan eceran 23.817 unit pada periode yang sama.

Sektor Otomotif Rentan

Direktur Riset Jasa Keuangan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Etika Karyani, mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 persen berpotensi memberikan dampak terhadap sektor riil.

Menurutnya, sektor riil seperti perusahaan yang bergerak dalam sektor properti dan otomotif sangat rentan terhadap kenaikan suku bunga acuan.

“Naiknya BI Rate sebesar 6,25 persen, meskipun hanya sebesar 25 basis poin, perlu dicermati. Kenaikan ini berpotensi memberikan tekanan terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya dalam webinar CORE Indonesia Quarterly Review 2024.

Etika juga menyoroti rantai pasok besar pada sektor properti yang rentan terhadap perubahan suku bunga acuan.

“Properti rentan karena supply chain-nya dimulai dari semen, pasir, dan lain-lain yang berdampak besar terhadap rantai pasok,” tambahnya.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait