Market Hari Ini 23 May 2024 Penulis: Syahrianto Editor: Tim Editorial

Pengembangan Air Minum Perpipaan RI Butuh Rp123 Triliun

Pengembangan Air Minum Perpipaan RI Butuh Rp123 Triliun
Pengembangan Air Minum Perpipaan RI Butuh Rp123 Triliun

KABARBURSA.COM - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membutuhkan sekitar Rp123 triliun untuk mencapai target 30 persen air minum perpipaan 2030.

“Kalau fokus di air minum saja, ya, itu untuk naikin 10 persen, itu butuhnya Rp123 triliun. Untuk naikin 10 persen perpipaan,” ujar Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR, Herry Trisaputra Zuna dikutip Kamis, 23 Mei 2024.

Herry memaparkan bahwa progres air minum perpipaan Indonesia saat ini berada di angka 19,45 persen. Untuk mencapai target 30 persen air minum perpipaan sebagaimana yang termaktub dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024, dibutuhkan peningkatan sebesar 10 persen.

“Kalau menuju 100 persen kan masih 80 persen yang harus kita kejar. Nah, tadi 10 persen butuh Rp123,4 triliun. Jadi, kalau mau naikin segitu (80 persen), tinggal dikalikan saja kebutuhannya,” kata Herry.

Oleh karena itu, Herry menekankan pentingnya mendukung usulan Global Water Fund yang disuarakan oleh Indonesia dalam World Water Forum Ke-10. Menurut dia, sulit bagi negara-negara berkembang untuk merealisasikan proyek-proyek besar mereka terkait akses terhadap air.

Masuknya Global Water Fund menjadi salah satu pembahasan dalam High Level Panel di World Water Forum, kata Herry, bertujuan untuk menanamkan pemikiran bahwa solusi pendanaan tersebut telah diusulkan.

“Nanti mungkin konsepnya lebih ke bagaimana Global Water Fund bisa menyelesaikan masalah spesifik di beberapa negara yang tertarik,” kata Herry.

Herry mengatakan bahwa setelah inisiasi terkait Global Water Fund diutarakan dalam World Water Forum, Indonesia akan menyusun teknis dari pelaksanaannya.

Setelahnya, Herry mengatakan bahwa pemerintah akan membawa usulan tersebut ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Salah satunya nanti (dibawa ke PBB), komitmennya kan di sana,” kata Herry.

Inovasi Air Minum

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan Indonesia membutuhkan banyak terobosan inovasi pemenuhan air minum dan sanitasi bagi masyarakat agar negara dapat mewujudkan akses universal merata dalam poin keenam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs 2030.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN Ignasius Sutapa mengatakan pemenuhan akses air minum dan sanitasi sejauh ini masih terbatas di Pulau Jawa, sedangkan daerah-daerah remote seperti Sumatra, Kalimantan, dan Papua masih sangat rendah.

"Beberapa PDAM yang pernah saya survei hanya bisa menyuplai tidak lebih dari 10 persen penduduk, sehingga terobosan-terobosan sangat diperlukan," ujarnya.

Ignasius menuturkan pembicaraan tentang air tak pernah ada habisnya karena seluruh kehidupan di bumi punya nyawa dan membutuhkan air.

Bahkan, para astronom yang melakukan penjelajahan luar angkasa selalu berusaha mencari air terlebih dahulu dalam setiap kini pencarian jejak-jejak kehidupan di planet lain.

"Air menjadi hak dasar yang harus dipenuhi setiap negara yang mempunyai penduduk. Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hak dasar terhadap air sebenar 60 liter per orang setiap hari," kata Ignasius.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa BRIN menciptakan berbagai inovasi untuk membantu negara dalam memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi bagi masyarakat.

Salah satu inovasi yang dibuat adalah instalasi pengolahan air gambut atau IPAG. Air gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi dan ada pewarna alami saat ini mampu diolah menjadi air bersih dan air minum yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat.

"Sekarang kami sanggup mengolah hampir semua jenis air baku yang ada di Indonesia," pungkas Ignasius.

Ia berharap semangat Forum Air Sedunia atau World Water Forum ke-10 yang sekarang sedang berlangsung di Bali dapat menjadi fokus semua pihak dan komitmen pemerintah untuk mempercepat pemenuhan hak dasar masyarakat terhadap air.

Teknologi Wujudkan Kelestarian Air

Sementara itu, President of the World Water Council Loïc Fauchon mengajak masyarakat dunia untuk menaruh kepercayaan pada praktik teknologi digital dalam mewujudkan kelestarian sumber daya air.

"Sumber daya air ini harus digunakan lebih berhati-hati. Ini bukanlah sebuah pilihan, ini sebuah kewajiban," kata Loïc Fauchon. Ia mengatakan, sumber daya air tidak boleh disia-siakan dan harus dipergunakan dengan bijak oleh semua orang.

Guna mencapai hal ini, kata Fauchon, WWF mengajak masyarakat dunia menaruh kepercayaan pada bidang teknik dan teknologi yang dikombinasikan dengan inovasi digital.

"Terima kasih kepada mereka, kami siap untuk mengintensifkan inkonvensional sumber daya, seperti desalinasi, penggunaan kembali air limbah, konstruksi cadangan air, transfer air, penggunaan air tanah secara hati-hati, dan banyak lagi," katanya.

Namun pada saat yang sama, kata Fauchon, masyarakat perlu mengelola konsumsi air, melacak kebocoran, membersihkan polusi dan yang terpenting mengubah perilaku pemborosan air, baik untuk

keperluan pertanian, rumah tangga, atau industri.

"Tanpa lupa mencari keseimbangan yang tepat antara air untuk manusia dan air untuk alam, karena keanekaragaman hayati tidak dapat dinegosiasikan, ini adalah kelangsungan hidup kita," katanya.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait