KABARBURSA.COM – Tiga bulan pertama 2026 bagi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tidak berjalan mulus. Di tengah pertumbuhan penjualan double digit pada kuartal pertama 2026, laba bersih emiten farmasi terbesar di Indonesia ini justru bergerak turun. Bahkan pergerakan saham ikut loyo.
Tekanan margin dan kenaikan berbagai beban operasional menjadi faktor utama yang menggerus profitabilitas perseroan. Dalam laporan keuangan per Maret 2026, KLBF membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,03 triliun. Angka tersebut turun 4,4 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp1,08 triliun.
Penurunan laba ini terjadi ketika penjualan bersih perseroan sebenarnya masih tumbuh cukup solid. Hingga akhir kuartal pertama, KLBF mencatat penjualan Rp9,68 triliun atau naik 10,1 persen dibanding kuartal I-2025 sebesar Rp8,79 triliun.
Artinya, persoalan utama KLBF bukan berada di sisi pendapatan, melainkan pada kemampuan menjaga margin keuntungan. Beban pokok penjualan naik lebih cepat dibanding pertumbuhan penjualan, sehingga menekan profitabilitas perusahaan.
Beban pokok penjualan KLBF tercatat melonjak 15,5 persen menjadi Rp5,97 triliun. Dampaknya langsung terasa pada laba bruto yang hanya tumbuh tipis 2,4 persen menjadi Rp3,71 triliun.
Tekanan kemudian berlanjut pada sisi operasional. Beban penjualan naik menjadi Rp1,9 triliun, sementara beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp385,59 miliar.
Di saat bersamaan, perseroan juga meningkatkan pengeluaran untuk riset dan pengembangan atau R&D sebesar 5,9 persen menjadi Rp113,14 miliar. Beban operasi lainnya bahkan melonjak tajam hingga dua kali lipat menjadi Rp29,18 miliar.
Kombinasi kenaikan biaya tersebut membuat laba sebelum pajak KLBF turun 5,4 persen menjadi Rp1,35 triliun. Setelah memperhitungkan pajak penghasilan sebesar Rp299,2 miliar, laba bersih akhirnya terkoreksi ke level Rp1,03 triliun.
Neraca KLBF Solid
Meski laba melemah, neraca KLBF sebenarnya masih cukup solid. Total aset naik menjadi Rp31,99 triliun dengan ekuitas tumbuh menjadi Rp25,73 triliun.
Posisi kas dan setara kas juga masih meningkat tipis menjadi Rp4,39 triliun. Namun jika ditarik lebih dalam, arus kas operasional justru menunjukkan perlambatan cukup signifikan.
Kas bersih dari aktivitas operasi turun 23,3 persen menjadi Rp264,22 miliar. Penurunan ini memperlihatkan tekanan operasional mulai terasa pada kualitas arus kas perusahaan, meski penjualan masih tumbuh.
Empat Bulan, Saham Terkoreksi 24 Persen
Di tengah kondisi tersebut, pergerakan saham KLBF sepanjang kuartal pertama 2026 justru menunjukkan tekanan yang lebih berat dibanding penurunan laba perusahaan. Harga saham KLBF terus bergerak turun sejak awal tahun.
Pada Januari 2026, saham KLBF masih berada di level Rp1.145. Namun posisi itu terus melemah menjadi Rp1.100 pada Februari, Rp970 pada Maret, hingga turun lagi ke level Rp865 pada April.
Artinya, sepanjang empat bulan pertama tahun ini saham KLBF sudah terkoreksi sekitar 24 persen dari posisi awal tahun. Penurunan tersebut terjadi ketika investor asing terus melakukan distribusi di pasar reguler.
Data perdagangan menunjukkan asing konsisten mencatat net sell pada saham KLBF sejak Januari hingga Mei 2026. Pada Januari, net foreign sell tercatat Rp44,40 miliar.
Tekanan jual asing kemudian membesar pada Februari menjadi Rp133,70 miliar. Pada April, net sell asing masih tinggi di level Rp119,37 miliar sebelum kembali berlanjut pada Mei sebesar Rp32,64 miliar.
Pola distribusi asing ini menjadi salah satu tekanan utama yang membebani saham KLBF sepanjang tahun berjalan. Meski sektor kesehatan relatif defensif, investor tampaknya mulai lebih selektif terhadap emiten yang mengalami tekanan margin.
Hal paling menarik dari kondisi KLBF saat ini adalah kontras antara pertumbuhan penjualan yang masih kuat dengan laba dan harga saham yang justru bergerak turun. Biasanya pertumbuhan pendapatan double digit menjadi katalis positif, tetapi pasar melihat kenaikan biaya produksi dan operasional lebih dominan dalam mempengaruhi kinerja perusahaan.
Selain itu, penurunan saham KLBF juga terjadi ketika volume transaksi relatif masih tinggi. Pada Januari, volume perdagangan saham mencapai 11,71 juta lot dengan nilai transaksi Rp1,38 triliun.
Aktivitas tersebut kemudian tetap bertahan besar hingga April dengan volume 9,42 juta lot dan nilai transaksi Rp878,75 miliar. Artinya, tekanan jual yang terjadi bukan karena pasar sepi, tetapi justru terjadi di tengah aktivitas distribusi yang cukup aktif.
Di sisi lain, valuasi saham KLBF mulai masuk area yang diperhatikan pasar setelah koreksi cukup dalam sepanjang tahun berjalan. Investor kini mulai menunggu apakah tekanan margin yang terjadi pada kuartal pertama hanya bersifat sementara atau justru menjadi sinyal perlambatan profitabilitas yang lebih panjang.(*)