Penyebab Penjualan Mobil Jepang Jeblok pada Semester 1-2024

Penyebab Penjualan Mobil Jepang Jeblok pada Semester 1-2024
Penyebab Penjualan Mobil Jepang Jeblok pada Semester 1-2024

Daftar Isi

  1. 01 Inflasi di Indonesia
  2. 02 Daya Beli Menurun

KABARBURSA.COM – Penjualan mobil Jepang di Indonesia pada semester 1 tahun 2024 turun secara signifikan. Kemerosotan angka penjualan mobil Jepang juga diikuti dengan penurunan penjualan mobil secara nasional.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil nasional secara wholesales (dari pabrikan ke dealer) pada semester 1 tahun 2024 baru di angka 408.012 unit atau turun 19,4 persen dibandingkan penjualan pada periode yang sama tahun 2023 yang mencapai 506.427 unit.

Sementara penjualan secara retail (dari dealer ke konsumen) berada di angka 431.987 unit atau turun 14 persen. Tak hanya penjualan secara wholesales dan retail saja yang turun, tapi juga produksi, ekspor dan impor mobil di Indonesia juga turun. Produksi mobil turun sebesar 20 persen, ekspor turun 12 persen dan impor turun 32,5 persen.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai penurunan penjualan mobil pada semester pertama 2024, khususnya mobil dari Negeri Sakura, merupakan efek domino dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

“Penurunan penjualan mobil Jepang di Indonesia pada Juni 2024 merupakan fenomena yang melalui lensa ekonomi makro dapat dilihat mencerminkan pelemahan demand di sektor otomotif,” kata Yannes saat dihubungi Kabar Bursa, Selasa, 16 Juli 2024.

Penjualan wholesales Toyota semester satu 2024 sebanyak 129.802 turun 19 persen yoy. Penjualan mobil-mobil Jepang lainnya juga ikut turun, Daihatsu turun 13,9 persen, Honda turun 36,3 persen, Mitsubishi Motors turun 7 persen, Suzuki turun 19,8 persen, Isuzu turun sebesar 13,1 persen, Mazda turun 21,3 persen dan Subaru turun 22,1 persen.

Penurunan penjualan terparah adalah Nissan turun 40,4 persen. Sedangkan brand yang tak ikut turun adalah Lexus naik 30,8 persen.

Sementara untuk penjualan retail Toyota sebanyak 140.608 atau turun 10,3 persen. Penjualan retail Daihatsu turun 12,8 persen, Honda turun 23,8 persen, Mitsubishi Motors turun 14,2 persen, Suzuki turun 15,5 persen, Isuzu turun 10,1 persen, Mazda turun 3 persen, Nissan turun 43,7 persen, Subaru turun 15 persen. Sedangkan Mazda tidak ikut turun dan justru meningkat 40 persen.

Yanes menilai, pabrikan Jepang disebut paling banyak terdampak penurunan penjualan mobil secara nasional karena paling banyak memproduksi mobil untuk segmen middle income class.

Inflasi di Indonesia

Di sisi lain, segmen tersebut adalah yang paling banyak terdampak dari inflasi di Indonesia yang terus menggila sejak awal tahun 2024 yang mengakibatkan penjualan mobil turun secara signifikan.

Beberapa faktor yang berdampak langsung kepada penurunan penjualan mobil Jepang adalah penurunan daya beli masyarakat di segmen middle income class akibat inflasi, naiknya kurs dolar yang terus berlangsung.

Yannes menyebut, inflasi yang mengakibatkan pelemahan ekonomi di Indonesia membuat masyarakat terdampak mulai menunda pembelian barang-barang kebutuhan tersier berharga mahal seperti mobil.

“Beberapa faktor berkontribusi, seperti penurunan daya beli masyarakat middle income class akibat inflasi, naiknya kurs USD yang berlanjut, semakin tingginya bunga bank dari BI dan tingkat pengangguran yang masih tinggi,” imbuhnya.

Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini  menambahkan, kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi juga berkontribusi pada penurunan penjualan mobil nasional.

“Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya kredit mobil yang dipakai oleh lebih dari 85 persen sales di Indonesia dan menyebabkan masyarakat segemntasi terbesar, yakni middle income class menunda pembelian mobil,” ujarnya.

Menurutnya, penurunan mobil Jepang mencerminkan struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada sektor konsumsi.

“Analisis ini menunjukkan bahwa penurunan penjualan mobil Jepang di Indonesia bukan hanya masalah sektoral, tetapi juga mencerminkan tantangan makroekonomi yang lebih luas,” tuturnya.

Lebih lanjut, di tengah penurunan penjualan mobil Jepang, penjualan brand otomotif China jusru meroket tajam, terutama untuk brand pendatang baru seperti Chery dan Wuling.

“Merek-merek seperti Wuling, Chery, dan DFSK mengalami peningkatan penjualan dalam beberapa bulan terakhir, terutama untuk segmen mobil murah mereka , tren kenaikan penjualan mobil China di Indonesia diprediksi akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

Daya Beli Menurun

Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu menyebut daya beli konsumen di industri otomotif bisa menurun akibat pelemahan rupiah.

Sebelumnya, Yannes mengatakan jika pelemahan rupiah cukup berdampak terhadap ekosistem bisnis otomotif Indonesia.

Hal tersebut dikatakannya karena Indonesia masih banyak menggunakan komponen impor, seperti mesin, suku cadang, hingga bahan baku.

Yannes menilai kondisi itu bisa menimbulkan harga kendaraan kembali naik. Padahal, lanjutnya, harga baru saja naik pada Januari-Februari kemarin.  Dia bilang, hal ini berpotensi menurunkan daya beli konsumen segmen menengah.

“Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan daya beli konsumen segmen menengah yang daya belinya stagnan (semoga bukan fenomena middle income trap),” ujarnya kepada Kabar Bursa.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait