Market Hari Ini 15 Jan 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Periksa Aset-aset Mangkrak Adhi Karya (ADHI)

Laporan keuangan 2020–2024 menunjukkan pencatatan aset eks Monorel Jakarta, tanah hasil penyelesaian piutang, serta piutang jangka panjang non-operasional.

Adhi Karya masih mencatat aset eks Monorel Jakarta dan aset non-operasional lain dalam laporan keuangan 2020–2024.

Aset-aset tersebut tidak berasal dari proyek konstruksi aktif dan dijelaskan secara rinci dalam catatan atas laporan keuangan. (Foto: Dok. Adhi Karya)
Aset-aset tersebut tidak berasal dari proyek konstruksi aktif dan dijelaskan secara rinci dalam catatan atas laporan keuangan. (Foto: Dok. Adhi Karya)

KABARBURSA.COM – Jejak proyek lama masih tertinggal dalam neraca PT Adhi Karya Persero Tbk (ADHI). Laporan keuangan konsolidasian sepanjang 2020 hingga 2024 memperlihatkan bahwa perseroan masih mencatat sejumlah aset non-operasional yang berasal dari proyek yang tidak lagi berjalan serta penyelesaian piutang masa lalu, seperti dilihat Kabarbursa.com.

Catatan paling jelas datang dari eks Proyek Kereta Jakarta Monorail. Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2020, Adhi Karya mencatat persediaan jangka panjang berupa eks tiang atau beam monorel dengan nilai bruto Rp132.055.529.401. Aset ini diklasifikasikan sebagai persediaan jangka panjang karena berasal dari penghentian pengerjaan proyek dan tidak digunakan dalam kegiatan operasional.

Pada tahun yang sama, perseroan telah membukukan akumulasi penurunan nilai sekitar Rp47,58 miliar. Penurunan nilai tersebut tidak berhenti di situ. Setahun kemudian, dalam laporan keuangan 2021, nilai bruto aset monorel tetap tidak berubah, sementara akumulasi impairment meningkat menjadi sekitar Rp53,93 miliar. Tidak ada perubahan klasifikasi maupun pengungkapan terkait pemanfaatan lanjutan aset tersebut.

Proses penyesuaian nilai berlanjut pada 2022. Laporan keuangan tahun itu kembali mencatat nilai bruto persediaan jangka panjang eks monorel dalam jumlah yang sama, dengan akumulasi penurunan nilai meningkat menjadi sekitar Rp60,29 miliar. 

Dalam catatan atas laporan keuangan, manajemen kembali menegaskan bahwa aset tersebut berasal dari pemberhentian Proyek Kereta Jakarta Monorail dan tetap disajikan sebagai persediaan jangka panjang.

Pada laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2023, nilai impairment kembali bertambah. Akumulasi penurunan nilai tercatat sebesar Rp66.651.956.503. Dengan nilai bruto yang tidak berubah sejak awal, nilai tercatat bersih aset monorel semakin menyusut. Laporan keuangan pada periode ini juga tidak mencatat adanya pendapatan, piutang proyek, maupun klaim yang berkaitan dengan Proyek Kereta Jakarta Monorail.

Hingga akhir 2024, akumulasi penurunan nilai persediaan jangka panjang eks monorel meningkat lagi menjadi Rp73.010.637.202. Dalam catatan laporan keuangan, manajemen menyebutkan bahwa penurunan nilai tersebut dinilai cukup untuk menutup kemungkinan manfaat ekonomi di masa mendatang. Dengan angka tersebut, lebih dari separuh nilai bruto aset monorel telah tergerus sejak pertama kali dicatat pada 2020.

Selain eks monorel, neraca Adhi Karya juga memuat aset non-operasional lain yang berasal dari penyelesaian piutang pelanggan. Aset ini disajikan dalam pos aset tidak lancar lainnya dan terutama berupa tanah yang belum dikembangkan. Pada laporan keuangan 2023, nilai aset tanah tersebut tercatat sebesar Rp158.509.000.000.

Pada laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2024, nilai aset tanah yang belum dikembangkan tercatat sebesar Rp154.990.000.000. Dalam catatan atas laporan keuangan, manajemen menjelaskan bahwa aset tersebut diperoleh sebagai bentuk penyelesaian piutang dari pelanggan dan hingga akhir periode pelaporan masih disajikan sebagai aset tidak lancar lainnya, tanpa reklasifikasi menjadi properti investasi maupun aset tetap.

Di luar itu, laporan keuangan 2024 juga mencatat piutang jangka panjang lainnya yang berasal dari kegiatan di luar konstruksi inti. Dalam penjelasan manajemen, piutang tersebut antara lain terkait proyek Kuningan City, Pasar Tanah Abang, pekerjaan tanggap darurat pascakebakaran Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, serta proyek Gedung Sekretariat Negara Republik Indonesia. Rincian nilai piutang tersebut disajikan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasian.

Sepanjang periode 2020 hingga 2024, laporan keuangan Adhi Karya tidak mencatat adanya reklasifikasi aset-aset tersebut menjadi aset operasional, tidak mencatat pendapatan baru yang berasal dari proyek-proyek tersebut, serta tidak memuat pengungkapan mengenai rencana penjualan, pemanfaatan ulang, maupun penghapusan aset secara spesifik. 

Seluruh aset tersebut tetap tercermin dalam neraca konsolidasian sebagai persediaan jangka panjang, aset tidak lancar lainnya, dan piutang jangka panjang lainnya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait