KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) kini menyajikan belantara pilihan saham bervaluasi menarik. Investor wajib cerdik menyeleksi emiten dengan membedah rasio harga terhadap laba (PER) serta rasio harga terhadap nilai buku (PBV).
Data pasar terbaru yang dihimpun Kabarbursa.com memetakan beragam metrik valuasi untuk memudahkan navigasi investasi.
Investor wajib memisahkan antara pencapaian laba rutin dan laba khusus perusahaan. Pencapaian laba khusus sering kali mendistorsi rasio valuasi riil sebuah saham. Laba dari divestasi atau perubahan nilai investasi tidak selalu menghasilkan arus kas bebas.
Kelompok saham ber-PER "super murah" di bawah 5 kali kini didominasi oleh PSAB dengan posisi 0,74 kali. Saham LPPF dan DMAS menempel ketat dengan angka 1,22 kali serta 2,18 kali. Saham GJTL dan SRTG mencatat PER masing-masing 2,40 kali dan 2,55 kali.
Emiten ERAA duduk manis di valuasi 2,91 kali. Saham JPFA dan SMAR stabil di level 3,12 kali dan 3,63 kali. Saham BJBR dan BJTM mencetak PER 4,71 kali serta 4,84 kali. Emiten ANTM dan LSIP menutup kelompok ini dengan valuasi masing-masing 4,85 kali dan 4,97 kali.
Valuasi murah ini menuntut kewaspadaan ekstra dari para pemodal. Laba PSAB melesat drastis murni efek divestasi anak usaha. Pencapaian laba SRTG berfluktuasi tajam mengikuti arah perubahan nilai portofolio investasi mereka.
Kinerja DMAS sangat berpatokan pada ritme penjualan lahan industri yang tak menentu. Laba LPPF sangat rentan terpukul fluktuasi daya beli masyarakat. Saham ERAA dan GJTL saat ini sedang menderita tekanan arus kas bebas yang cukup berat.
Kelompok kedua memuat saham murah dengan PER menengah 5 hingga 10 kali. Saham perbankan raksasa BMRI, BBNI, BNGA, dan BTPS masuk dalam daftar ini. Emiten AUTO, CPIN, TOWR, dan BSSR turut melengkapi barisan kelompok ini.
Saham AADI, PGAS, BFIN, BBRI, dan ITMG mencatat valuasi serupa. Emiten ULTJ, UNVR, TSPC, ADRO, serta ASII berada di rentang yang sama. Saham AALI, GEMS, HMSP, TAPG, dan PTBA menawarkan valuasi setara.
Kelompok ketiga berisi saham berstatus "mahal" dengan PER di atas 10 kali. Saham BBCA, ISAT, SCMA, dan PGEO menghuni daftar tersebut. Saham TLKM, MTEL, dan UNTR melengkapi kelompok emiten dengan PER di atas 10 kali.
BBCA dan TLKM tertolong fundamental bisnis yang sangat kuat. Emiten MTEL dan PGEO memiliki struktur neraca keuangan sangat sehat. Valuasi UNTR memicu anomali catatan pasar dengan PER melesat 30,83 kali.
Pemodal turut memetakan saham berdasarkan indikator PBV. Kelompok pertama memiliki angka PBV sangat murah di bawah 1 kali. Saham SRTG, ASII, BBNI, ADRO, dan BNGA memimpin kelompok ini.
Saham PGAS, TOWR, ITMG, SMAR, dan DMAS mencatat PBV rendah. Emiten PGEO, UNTR, AUTO, ADMF, dan ERAA berada di bawah nilai buku. Saham BJBR, LSIP, BJTM, GJTL, AALI, BFIN, dan BTPS melengkapi daftar ini.
Kelompok kedua memiliki PBV wajar antara 1 hingga 2 kali. Saham BBRI, BMRI, PSAB, ANTM, dan CPIN berada di rentang ini. Emiten AADI, JPFA, ISAT, AKRA, dan MTEL menyusul kemudian.
Saham AVIA, ULTJ, dan TSPC turut mendampingi kelompok wajar ini. Saham BSSR mencatat angka PBV tepat di posisi 2 kali. Kelompok ketiga berisi saham "mahal" dengan PBV di atas 2 kali.
Saham BBCA, TLKM, UNVR, HMSP, dan GEMS masuk daftar mahal. Emiten TAPG, LPPF, SSMS, dan SCMA juga menembus batas wajar. UNVR menempati posisi termahal dengan rasio PBV menembus 9,13 kali.
Besaran dividend yield selalu memikat perhatian pelaku pasar. Kelompok pertama membagikan dividen sangat ekstrem di atas 15 persen. PSAB memimpin daftar dengan yield 21 persen.
Saham DMAS membagikan hasil raksasa 19,59 persen. LPPF memberikan pengembalian hingga 16,67 persen. Dividen jumbo ini mengandalkan laba nonrutin dan momentum daya beli musiman.
Kelompok kedua memberikan dividen besar antara 10 hingga 15 persen. Saham TAPG dan PTBA mencetak hasil 13,24 persen dan 12,84 persen. Emiten UNVR memberikan imbal yield 12,80 persen.
Saham BBRI dan BMRI membagikan dividen 12,63 persen dan 12,42 persen. Emiten ADRO, BJBR, dan BBNI memberikan hasil belasan persen. Saham BNGA, ULTJ, dan BTPS menutup daftar dengan angka 10 persen.
Kelompok ketiga menawarkan yield moderat 5 hingga 10 persen. Saham AUTO, HMSP, GEMS, ASII, dan PGAS berada di rentang ini. Emiten AKRA, ITMG, ADMF, AVIA, dan SRTG menyusul daftar tersebut.
Saham TLKM, JPFA, TOWR, SMAR, dan AADI memberikan hasil serupa. Emiten PGEO, BBCA, ISAT, JSMR, ANTM, dan CPIN masuk kelompok moderat. Saham MTEL, ERAA, BSSR, LSIP, dan BJTM mencatat yield sepadan.
Saham GJTL, AALI, BFIN, TSPC, SSMS, dan SCMA melengkapi daftar dividen menengah. Pemodal dituntut jeli menemukan racikan investasi paling seimbang. Saham incaran wajib memiliki valuasi murah dan laba positif.
BMRI, BBRI, BBNI, BNGA, dan BJTM masuk kategori ideal. PTBA, ADRO, ITMG, BSSR, dan LSIP sangat direkomendasikan. Saham ULTJ, PGAS, CPIN, JPFA, TAPG, AKRA, AUTO, dan AVIA tergolong sangat seimbang.
Sejumlah saham lain membutuhkan tingkat analisis super ketat. PSAB dan SRTG sangat mengandalkan laba berwujud nonkas. ANTM, AADI, TOWR, JSMR, UNVR, ERAA, GJTL, dan UNTR saat ini menanggung defisit arus kas.(*)