Market Hari Ini 02 Jan 2024 Penulis: KabarBursa.com Editor: Tim Editorial

PGAS Target Penjualan Gas Tumbuh 4{83d9da1e9ecde61c764441f7e22858ba4cdb50929b12145c6a911727919b2f20} di 2024

PGAS Target Penjualan Gas Tumbuh 4{83d9da1e9ecde61c764441f7e22858ba4cdb50929b12145c6a911727919b2f20} di 2024
PGAS Target Penjualan Gas Tumbuh 4{83d9da1e9ecde61c764441f7e22858ba4cdb50929b12145c6a911727919b2f20} di 2024

KABARBURSA.COM - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) membuka lembaran baru di tahun 2024 dengan tekad kuat mengejar pertumbuhan volume penjualan gas bumi hingga 4 persen. Ambisi ini didorong oleh peningkatan pasokan dari beberapa blok strategis seperti Jambi Merang, Jambaran Tiung Biru (JTB), Pangkah, dan Muriah.

Pada kuartal III-2023, PGAS mencatat lonjakan volume niaga gas sebesar 5 persen, melonjak dari 894 BBTUD menjadi 935 BBTUD. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan volume pemakaian gas dari segmen industri, komersial, dan rumah tangga. Segmen pembangkit listrik menjadi konsumen terbesar dengan 33 persen, diikuti industri kimia (13 persen), serta industri makanan, pupuk, dan keramik masing-masing 8 persen.

Volume transmisi PGAS juga mencatat kenaikan sebesar 8 persen YoY, mencapai 1.444 MMSCFD. Peningkatan ini terutama berasal dari penyaluran gas yang meningkat, seiring dengan tingginya permintaan dan aliran gas dari lapangan JTB melalui pipa transmisi Gresik-Semarang.

PGAS terus mengamati peluang di pasaran dengan mencari pelanggan baru dan mengembangkan jaringan gas rumah tangga. Target PGAS untuk menambah 100.000 sambungan rumah tangga (SR) gas pada tahun mendatang, mengingat sejauh ini perusahaan telah berhasil mengelola sekitar 835.000 SR gas.

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGAS, Harry Budi Sidharta, menyatakan bahwa PGAS selalu berupaya mencari peluang pasar di wilayah yang ekonomis dan memiliki daya beli sesuai dengan segmen jaringan gas PGAS, yaitu kalangan menengah atas.

“Karena segmen jaringan gas PGAS adalah kalangan menengah atas dengan target pengguna gas LPG non subsidi,” terang Harry

Di sisi lain, Direktur Sales dan Operasi PGAS, Ratih Esti Prihatini, berharap pemerintah mengevaluasi skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Hingga saat ini, PGAS belum menerima kompensasi atas penerapan HGBT, yang berpotensi mengurangi penerimaan negara pada sektor hulu migas.

“Karena HGBT mengurangi penerimaan negara pada sektor hulu migas,” terang Ratih.

Ratih menyebut bahwa PGAS telah menjalankan skema HGBT kepada sektor tertentu sejak April 2022. Walaupun PGAS tidak menampik adanya penurunan margin akibat penerapan skema HGBT, mereka berharap dapat melakukan penyesuaian harga secara bertahap setelah skema ini berakhir pada tahun 2024, sehingga dapat meningkatkan margin secara keseluruhan.

Berbagai upaya dan target PGAS dalam menghadapi dinamika industri gas bumi menegaskan komitmen perusahaan untuk terus beradaptasi dan memberikan kontribusi maksimal di sektor energi nasional.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait