Market Hari Ini 13 Apr 2026 Penulis: Gusti Ridani Editor: Tim Editorial

PGE (PGEO) dan PLN IP Sepakati Tarif Listrik Proyek PLTP Lahendong 15 MW

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani mengatakan pencapaian ini menandai kelanjutan sinergi PGE dan PLN Indonesia Power dalam mendorong percepatan transisi energi nasional berbasis energi bersih

PGE (PGEO) dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) mencapai kesepakatan tarif listrik dengan PT PLN (Persero) untuk proyek PLTP

Penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Tarif PGE-PLN IP (Dok: Pertamina Geothermal Energy).
Penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Tarif PGE-PLN IP (Dok: Pertamina Geothermal Energy).

KABARBURSA.COM – Konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE (PGEO) dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) mencapai kesepakatan tarif listrik dengan PT PLN (Persero) untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 megawatt (MW). Kesepakatan dinilai ini penting dalam pengembangan proyek panas bumi berbasis teknologi efisiensi yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2028.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani mengatakan pencapaian ini menandai kelanjutan sinergi PGE dan PLN Indonesia Power dalam mendorong percepatan transisi energi nasional berbasis energi bersih.

“Kami menyambut baik perkembangan proyek ini yang terus berjalan sesuai rencana. Pemanfaatan teknologi bottoming memungkinkan potensi energi panas bumi yang masih tersedia dari operasi pembangkit yang ada dapat dimanfaatkan secara lebih optimal," ujar dia dalam keterangan resminya, Senin 13 April 2026.


Melalui teknologi ini, kata Ahmad, panas sisa yang belum termanfaatkan dapat dikonversi kembali menjadi listrik, sehingga meningkatkan efisiensi pembangkitan sekaligus memperkuat kontribusi panas bumi dalam bauran energi bersih nasional.

"Ke depan, kami siap melanjutkan proyek ini ke tahapan berikutnya agar manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat,” tutrnya.

Proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit merupakan pengembangan pembangkit yang memanfaatkan teknologi biner atau bottoming cycle.

Teknologi ini dirancang untuk mengolah sisa panas dari pengoperasian pembangkit panas bumi yang sudah ada menjadi tambahan energi listrik.

Dengan pendekatan tersebut, sumber daya panas bumi dapat dimanfaatkan lebih optimal karena energi panas yang sebelumnya belum tertangkap kini dapat dikonversi menjadi listrik.

Kesepakatan tarif listrik ini sekaligus menegaskan komitmen para pihak untuk memaksimalkan potensi panas bumi sebagai sumber energi bersih yang berkelanjutan.

Di tengah kebutuhan mempercepat transisi energi, proyek seperti Lahendong dinilai menjadi bagian penting dari strategi pengembangan pembangkit rendah emisi di Indonesia.

Setelah kesepakatan tarif tercapai, proyek akan dilanjutkan ke sejumlah tahapan berikutnya. Proses itu meliputi pembentukan joint venture, pelaksanaan tahapan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), hingga penyusunan Power purchase Agreement (PPA).

Dengan rangkaian tahapan tersebut, proyek ditargetkan mencapai Commercial Operation Date (COD) pada tahun 2028.

Sebelumnya, pada akhir Desember 2025, PGE dan PLN Indonesia Power juga telah mencapai kesepakatan tarif listrik untuk proyek PLTP Ulubelu Bottoming Unit berkapasitas 30 MW.

Kedua proyek tersebut merupakan bagian dari sinergi dua afiliasi BUMN, yakni di bawah PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero), dalam pengembangan panas bumi pada 19 proyek yang ada dengan total kapasitas sekitar 530 MW.

Sebagai salah satu pionir pengembangan panas bumi di Indonesia, PGE terus memperluas pemanfaatan energi panas bumi melalui inovasi teknologi dan strategi proyek.

Saat ini, perseroan mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW dari enam wilayah operasi sendiri ( Operation sendiri ), sekaligus mengembangkan sejumlah proyek baru untuk menambah kapasitas pembangkit dalam beberapa tahun mendatang. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
GU
Jurnalis Madya

Gusti Ridani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait