Market Hari Ini 27 Jan 2026 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Plafon Kredit Industri Padat Karya Turun 30 Persen di 2026

Ia menyoroti ketimpangan mencolok antara besarnya realisasi investasi dan rendahnya tingkat utilisasi

Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, melontarkan kritik tajam terhadap kinerja sektor industri nasional dalam Rapat Kerja dengan Menteri Perindustrian RI.

Ilustrasi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia di Senayan, Jakarta Selatan. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia di Senayan, Jakarta Selatan. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, melontarkan kritik tajam terhadap kinerja sektor industri nasional dalam Rapat Kerja dengan Menteri Perindustrian RI. Ia menyoroti ketimpangan mencolok antara besarnya realisasi investasi dan rendahnya tingkat utilisasi kapasitas produksi pabrik, yang menurutnya menjadi sinyal peringatan bagi ekonomi industri tanah air.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa realisasi investasi mencapai Rp552 triliun. Namun, utilisasi rata-rata produksi nasional hanya menyentuh 61,89 persen. Putra menegaskan, kondisi ini ibarat lampu kuning bagi sektor industri. Hampir 40 persen kapasitas mesin terpasang tetap menganggur, menimbulkan kesenjangan yang nyata antara modal yang ditanam dan output yang dihasilkan.

“Utilisasi di bawah 70 persen itu sudah lampu kuning. Artinya ada gap signifikan. Hampir 40 persen kapasitas mesin menganggur. Benar atau tidak ini? Rp552 triliun versus 61 persen, ini agak jauh, Pak Menteri,” ujar Putra Nababan di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta.

Politisi dari Fraksi PDI Perjuangan ini juga mengkritik program vokasi yang dijalankan Kementerian Perindustrian. Menurutnya, cakupan program masih jauh dari kata masif. Lulusan vokasi yang hanya sekitar 6.000 orang setara dengan 0,03 persen dari total serapan tenaga kerja industri, yang mencapai 20 juta orang.

“Kalau saya lihat, ini kelasnya pilot project. Jadi kalau bicara soal jangkauan masif dengan angka-angka ini, menurut saya ini baru contoh semata,” jelasnya.

Tak hanya itu, Putra juga menyoroti penurunan plafon kredit untuk industri padat karya hingga 30 persen pada 2026. Ia mempertanyakan sikap bank Himbara, khususnya BNI, yang menargetkan debitur nol untuk sektor yang sangat membutuhkan dukungan permodalan ini. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi menahan pertumbuhan industri padat karya yang menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja nasional.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait