Market Hari Ini 17 Jun 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Plastik Biodegradable Bungkus Daging, Murah Dibanding Besek

Plastik Biodegradable Bungkus Daging, Murah Dibanding Besek
Plastik Biodegradable Bungkus Daging, Murah Dibanding Besek

Daftar Isi

  1. 01 Lebih Murah Dibandingkan Besek Bambu

KABARBURSA.COM - Himbauan pemerintah untuk tidak menggunakan kantong sekali pakai sebagai wadah daging kurban, ditanggapi baik oleh masyarakat. Kantong plastik biodegradable atau yang mudah terurai menjadi pilihan warga sebagai tempat untuk menyalurkan daging kurban.

"Kita menggunakan plastik yang ramah lingkungan, yang biodegradable," kata Muhamad Syarifudin, Panitia Idul Adha 1445 H Masjid Cut Meutia, Senin, 17 Juni 2024.

Dia menjelaskan, pemilihan kantong plastik biodegradable dilakukan setelah adanya imbauan dari pemerintah, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Pemprov DKI Jakarta, untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai sebagai wadah daging kurban.

Pemilihan penggunaan kantong plastik biodegradable juga dilakukan di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

Wakil Sekretaris Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa sekaligus Ketua Panitia Idul Adha 1445 H Pudji Astuti, menyampaikan bahwa pihaknya juga menggunakan kantong plastik yang mudah terurai untuk menyalurkan daging kurban.

Dia menjelaskan, pemilihan kantong plastik biodegradable dilakukan karena penggunaan bahan-bahan alami sebagai wadah berpotensi mudah robek, berdasarkan pengalaman Idul Adha tahun lalu.

"Kita sekarang menggunakan jenis kantong yang tidak mudah hancur," kata Pudji.

Kantong plastik biodegradable sendiri diklaim dapat terurai dengan mudah secara hayati karena terbuat dari bahan berbasis biopolimer atau dikenal juga sebagai polimer organik.

Laporan UN Environment pada 2015 menyimpulkan bahwa plastik biodegradable hanya dapat terurai sempurna dalam kondisi suhu di atas 50 derajat Celsius dan bukan di alam bebas.

Sebelumnya, KLHK memperkirakan timbulan sampah yang terjadi sebagai bagian dari perayaan Idul Adha berpotensi mencapai 608 ton sampah kantong plastik sekali pakai. Mayoritas dari timbulan sampah itu berasal dari kegiatan pembagian daging kurban.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, KLHK kemudian mengeluarkan imbauan yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri LHK Nomor: SE.6/MENLHK/PSLB3/PLB.0/6/2014 tentang Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha Tanpa Sampah Plastik pada 13 Juni lalu.

Melalui edaran itu, KLHK mengimbau agar masyarakat tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai dalam membagikan daging kurban. Wadah daging kurban dapat diganti dengan bahan alami seperti daun pisang dan jati, atau menggunakan besek dan bongsang yang berbahan bambu.

Lebih Murah Dibandingkan Besek Bambu

Hasil penelusuran KabarBursa, harga plastik biodegradable jauh lebih murah dibandingkan besek bambu. Di beberapa market place, harga kantong plastik ini sebesar Rp2.800 per piece. Sedangkan harga besek bambu mencapai Rp3.000 per buah.

Bioplastik dan plastik biodegradable adalah istilah yang sering diperhatikan ketika berbicara tentang alternatif pengganti plastik tradisional berbahan dasar minyak bumi. Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara bioplastik dan plastik biodegradable.

Bioplastik dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok berdasarkan asal usul dan kemampuan penguraiannya:

Plastik berbasis bio: Jenis bioplastik ini seluruhnya (atau sebagian) terbuat dari sumber daya terbarukan, seperti tepung maizena, tebu, atau lemak dan minyak nabati. Plastik berbasis bio dapat terurai secara hayati atau tidak dapat terurai secara hayati.

Plastik biodegradable: Plastik biodegradable terbuat dari bahan yang dapat terurai menjadi unsur alami oleh mikroorganisme. Bahannya bisa berupa bahan bakar fosil, sumber daya terbarukan, atau keduanya.

Bioplastik yang dapat terurai secara hayati: Jenis bioplastik ini terbuat dari sumber daya terbarukan dan dirancang untuk terurai dengan cepat tanpa meninggalkan residu berbahaya.

Plastik biodegradable dirancang untuk terurai lebih cepat dibandingkan plastik tradisional. Namun, waktu yang dibutuhkan plastik biodegradable untuk terurai dapat bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis plastik, lingkungan pembuangannya, dan kondisi paparannya.

Beberapa plastik biodegradable dirancang untuk terurai dalam waktu beberapa minggu atau bulan, sementara yang lain mungkin memerlukan waktu beberapa tahun. Proses degradasi biasanya melibatkan proses fotodegradasi seperti pada plastik tradisional, namun plastik biodegradable juga mengandung bahan tambahan yang membuatnya lebih rentan terhadap biodegradasi oleh mikroorganisme.

Namun, penting diingat bahwa tidak semua plastik biodegradable sama. Beberapa plastik biodegradable memerlukan kondisi tertentu untuk terurai, seperti suhu tinggi atau jenis mikroorganisme tertentu. Jika kondisi ini tidak ada, plastik mungkin tidak akan terurai secepat atau sepenuhnya seperti yang diharapkan.

Salah satu keuntungan signifikan dari bioplastik adalah kemampuannya mengurangi jejak karbon. Bioplastik mengeluarkan lebih sedikit gas rumah kaca dibandingkan plastik konvensional selama produksinya, karena memerlukan lebih sedikit energi dibandingkan bahan bakar fosil. Selain itu, bioplastik dapat dibuat dari limbah pertanian, sehingga mengurangi kebutuhan akan perubahan penggunaan lahan dan penggundulan hutan. Hasilnya, bioplastik memitigasi perubahan iklim dan melestarikan sumber daya alam.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait