Market Hari Ini 07 Mar 2024 Penulis: KabarBursa.com Editor: Tim Editorial

RI Bangkit dari Jebakan Utang, APBN Surplus Rp92 Triliun

RI Bangkit dari Jebakan Utang, APBN Surplus Rp92 Triliun
RI Bangkit dari Jebakan Utang, APBN Surplus Rp92 Triliun

KABARBURSA.COM-Kementerian Keuangan mencatat bahwa Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2023 berhasil mencapai keseimbangan primer yang menggembirakan, dengan surplus mencapai Rp 92 triliun. Prestasi ini diraih dalam situasi tekanan yang tidak biasa.

"Saya senang bahwa kita berhasil menekan defisit sehingga mencapai keseimbangan primer dengan surplus Rp 92 triliun. Ini adalah yang pertama dalam 12 tahun terakhir," ujar Sri Mulyani dalam BRI Microfinance Outlook 2024, Kamis 7 Maret 2024.

Dibandingkan dengan defisit keseimbangan primer sebesar Rp 74,1 triliun pada tahun 2022, terjadi pembalikan yang luar biasa, mencapai lebih dari Rp 166 triliun pada tahun 2023. Sri Mulyani menyatakan bahwa ini adalah pencapaian yang mengesankan. "Meskipun terjadi volatilitas di pasar komoditas global, penerimaan pajak masih berada di atas target. Di samping itu, belanja dan defisit tetap terjaga di tingkat yang aman," jelasnya.

"Pada akhir tahun 2023, defisit anggaran APBN hanya mencapai 1,65persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh lebih rendah dari yang sebelumnya diperkirakan, bahkan lebih rendah dari masa pandemi pada tahun 2020 yang mencapai lebih dari 6persen," tambah Sri.

Sri Mulyani menegaskan bahwa APBN Indonesia telah pulih dengan cepat. Prestasi ini mendapat pengakuan dari negara-negara lain di dunia. "Beberapa rekan menteri keuangan di luar negeri, ungkap Sri Mulyani, mengakui bahwa Indonesia telah berada di jalur yang benar dalam hal fiskal dan penerimaan belanja negara," ungkapnya.

Keseimbangan primer, menurut naskah APBN 2014, adalah selisih antara total pendapatan negara dan belanja negara, di luar pembayaran bunga utang. "Jika total pendapatan negara melebihi belanja negara di luar pembayaran bunga utang, maka keseimbangan primer akan positif, yang menandakan ketersediaan dana yang mencukupi untuk membayar bunga utang," ucap Sri.

"Sebaliknya, jika total pendapatan negara kurang dari belanja negara di luar pembayaran bunga utang, maka keseimbangan primer akan negatif, menunjukkan bahwa tidak ada dana yang tersedia untuk membayar bunga utang," pungkas Sri.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait