PREMIUM Market Hari Ini 28 Apr 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Pramirvan Datu

Risiko dan Keuntungan Berinvestasi di Bank Digital

Berinvestasi di saham perbankan digital menawarkan potensi pertumbuhan yang menarik seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi finansial.

Saham bank digital bisa dibilang menjadi pilihan baru di pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Ilustrasi. (Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com)
Ilustrasi. (Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com)

KABARBURSA.COM - Saham bank digital bisa dibilang menjadi pilihan baru di pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Tak heran, jika euforia ini ikut mendorong harga saham terkerek.

Hal tersebut pun menjadi momentum bagi para investor untuk berinvestasi di bank digital. Akan tetapi, mereka diimbau harus tetap cermat jika ingin menanamkan modalnya karena berbagai risiko bisa saja mengintai.

Pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono mengakui, jika berinvestasi di saham perbankan digital  menawarkan potensi pertumbuhan yang menarik seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi finansial.

"Namun, sebagai investor, kita perlu memahami berbagai risiko yang melekat pada sektor ini," ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Sabtu, 26 April 2025.

Menurut Wahyu, investasi di bank digital memiliki persaingan yang ketat, karena industri perbankan digital di Indonesia saat ini sangat ramai. 

Tidak hanya diisi oleh bank-bank digital murni seperti yang  disebutkan, lanjut dia, tetapi juga oleh bank-bank konvensional yang bertransformasi digital, perusahaan fintech dengan layanan pinjaman dan pembayaran, serta potensi masuknya pemain-pemain baru dari luar negeri. 

"Persaingan yang sengit ini dapat menekan margin keuntungan bank digital dan memperlambat pertumbuhan pangsa pasar mereka. Kita perlu mencermati bagaimana setiap bank digital mampu mempertahankan dan meningkatkan daya saingnya melalui inovasi produk, layanan, dan akuisisi nasabah," ungkapnya. 

Selain itu, terdapat juga tingginya biaya operasional dan akuisisi nasabah. Wahyu mengatakan, bank digital umumnya memerlukan investasi besar dalam teknologi, pengembangan platform, pemasaran, dan akuisisi nasabah.

Dia menilai biaya-biaya tersebut bisa sangat tinggi, terutama di tahap awal pertumbuhan. Jika bank digital tidak mampu mengakuisisi nasabah dan meningkatkan volume transaksi secara efisien, profitabilitas mereka bisa tertekan dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan. 

"Kita perlu melihat bagaimana bank digital mengelola biaya operasional dan efektivitas strategi akuisisi nasabah mereka," katanya. 

Dilanjutkan Wahyu, regulasi terkait perbankan digital di Indonesia masih terus berkembang. Perubahan regulasi yang tidak terduga dapat mempengaruhi model bisnis, biaya operasional, dan potensi pertumbuhan bank digital. 

"Kita perlu memantau perkembangan regulasi dari otoritas terkait (OJK) dan bagaimana bank digital beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Ketidakpastian regulasi bisa menjadi risiko signifikan bagi investor," jelas dia. 

Wahyu menilai sebagai platform yang sepenuhnya digital, bank digital sangat rentan terhadap serangan siber, kebocoran data, dan penipuan daring.

Dia berujar, insiden keamanan siber dapat merusak reputasi bank secara signifikan dan menyebabkan hilangnya kepercayaan nasabah. Sehingga, kehilangan kepercayaan nasabah akan berdampak langsung pada pertumbuhan dan keberlangsungan bisnis bank digital. 

"Kita perlu memastikan bank digital memiliki sistem keamanan siber yang kuat dan langkah-langkah mitigasi risiko yang efektif," tandasnya. 

Wahyu menuturkan, banyak bank digital di Indonesia masih berada dalam tahap awal pertumbuhan dan belum mencatatkan profitabilitas yang konsisten. 

Dia mengimbau agar investor perlu bersabar dan memahami bahwa membangun bisnis bank digital yang menguntungkan membutuhkan waktu. 

"Kita perlu menganalisis metrik-metrik kunci seperti pertumbuhan pendapatan, margin bunga bersih (NIM), rasio biaya terhadap pendapatan (Cost-to-Income Ratio/CIR), dan potensi profitabilitas jangka panjang dari bank digital yang kita investasikan," katanya. 
 
Selain itu, lanjut Wahyu, saham-saham bank digital seringkali diperdagangkan dengan valuasi yang tinggi dibandingkan dengan bank konvensional, karena ekspektasi pertumbuhan yang tinggi. 

Jika pertumbuhan yang diharapkan tidak tercapai, atau jika sentimen pasar terhadap sektor teknologi berubah, katanya, ada risiko koreksi harga saham yang signifikan. 

"Kita perlu berhati-hati dalam menilai kewajaran valuasi bank digital dan mempertimbangkan potensi risiko penurunan," terang dia. 

Lebih jauh Wahyu menerangkan, bisnis bank digital sangat bergantung pada infrastruktur teknologi yang handal dan inovasi yang berkelanjutan. Gangguan teknis, kegagalan sistem, atau ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru dapat menghambat operasional dan pertumbuhan bank digital. 

"Kita perlu memastikan bank digital memiliki investasi yang memadai dalam teknologi dan sumber daya manusia yang kompeten," jelasnya. 

Wahyu mengimbau, investor perlu melakukan riset yang mendalam terhadap fundamental setiap bank digital, memahami model bisnis mereka, mengevaluasi potensi pertumbuhan dan risiko yang dihadapi, serta mempertimbangkan valuasi saham sebelum mengambil keputusan investasi. 

"Diversifikasi portofolio juga merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko investasi di sektor yang relatif baru dan dinamis ini," pungkasnya. 

Di sisi lain, bank digital mempunyai  tantangan tersendiri di pasar modal Indonesia, salah satu rintanganya adalah minimnya literasi investor retail. 

Banyak investor ritel di Indonesia tertarik pada saham bank digital karena narasi "pertumbuhan tinggi" tanpa memahami laporan keuangan, rasio profitabilitas, atau risiko kredit.  Ternyata, hal ini bisa menciptakan fluktuasi harga saham yang lebih dipicu sentimen daripada kinerja riil.

Tantangan selanjutnya ialah ketergantungan pada ekosistem digital. Bank digital yang menempel pada platform teknologi besar sering kali mengalami dinamika yang tidak sepenuhnya bisa mereka kontrol, seperti perubahan algoritma, kebijakan privasi data, atau bahkan konflik kepentingan antara entitas dalam grup.

Keunggulan Investasi di Bank Digital

Meski memiliki beberapa risiko dan tantangan, namun bank digital memiliki keunggulan untuk berinvestasi. Salah satu alasan utama mengapa investasi di bank digital sangat menarik adalah pertumbuhan industrinya yang luar biasa cepat.

Di Indonesia, misalnya, jumlah pengguna internet yang terus meningkat, oleh karenanya bisa menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan bank digital. Tren ini menciptakan pasar yang sangat besar dan belum sepenuhnya tergarap.

1. Model Bisnis yang Efisien

Efisiensi ini tercermin dalam biaya operasional yang lebih rendah, memungkinkan bank digital untuk menawarkan produk dengan biaya lebih murah atau bunga yang lebih menarik bagi nasabah.

Bagi investor, efisiensi ini berpotensi diterjemahkan menjadi margin keuntungan yang lebih tinggi. Dengan biaya tetap yang lebih kecil dan skala pengguna yang terus tumbuh, banyak bank digital yang mulai memasuki masa pertumbuhan profitabilitas yang menjanjikan.

2. Akses ke Teknologi dan Data

Bank digital bukan hanya sekadar penyedia layanan keuangan, tetapi juga perusahaan teknologi. Mereka mengandalkan data pengguna untuk mengembangkan produk dan layanan yang lebih personal, seperti kredit mikro, asuransi berbasis kebutuhan, hingga investasi otomatis. 

Pemanfaatan big data dan artificial intelligence (AI) memungkinkan bank digital untuk memahami kebutuhan nasabah dengan lebih baik dan meminimalkan risiko kredit.

Bagi investor, penguasaan teknologi ini penting karena dapat menciptakan keunggulan kompetitif yang sulit disaingi. Bank digital yang berhasil membangun ekosistem teknologi yang kuat berpeluang untuk mendominasi pasar dalam jangka panjang.

Ilustrasi.
3. Kemitraan Strategis dan Inovasi Produk

Banyak bank digital menjalin kemitraan strategis dengan e-commerce, fintech, hingga platform ride-hailing untuk memperluas jangkauan pasarnya. 

Inovasi produk juga menjadi kunci. Tabungan berhadiah, deposito fleksibel, kartu debit digital, hingga layanan investasi ritel dalam satu aplikasi membuat bank digital mampu menarik segmen muda yang selama ini kurang terjangkau bank tradisional.

4. Potensi Valuasi Saham yang Menarik

Dari perspektif pasar modal, valuasi saham bank digital memang cenderung premium dibandingkan bank konvensional, mengingat prospek pertumbuhannya yang lebih tinggi. Investor yang mampu memilih bank digital dengan model bisnis yang solid dan manajemen risiko yang baik bisa mendapatkan imbal hasil yang besar dalam jangka panjang.

PREMIUM Premium Content

Artikel premium ini hanya tersedia untuk Member

Anda dapat membuka artikel ini secara individual dengan harga Rp35.000. Jika sudah berlangganan, silakan login untuk melanjutkan membaca melalui dashboard premium Anda.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait