Market Hari Ini 08 Dec 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Uslimin Usle

RLCO Ekspansi Produk Olahan Sarang Burung Walet ke Vietnam, Thailand, hingga AS

Ekspansi ini menandai babak baru transformasi perseroan dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk kesehatan konsumen bernilai tambah tinggi

PT Abadi Lustari Indonesia Tbk (RLCO) mulai mengakselerasi ekspansi pasar global usai resmi melantai di Bursa Efek Indonesia

Jajaran direksi PT Abadi Lustari Indonesia Tbk (RLCO) di Main Hall BEI, Jakarta pada Senin, 8 Desember 2025.
Jajaran direksi PT Abadi Lustari Indonesia Tbk (RLCO) di Main Hall BEI, Jakarta pada Senin, 8 Desember 2025.

KABARBURSA.COM – PT Abadi Lustari Indonesia Tbk (RLCO) mulai mengakselerasi ekspansi pasar global usai resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Perseroan menargetkan perluasan ekspor produk olahan berbasis sarang burung walet ke sejumlah negara baru, dimulai dari Vietnam, disusul Thailand dan Amerika Serikat.

Direktur Utama RLCO Edwin Pranata mengatakan ekspansi ini menandai babak baru transformasi perseroan dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk kesehatan konsumen bernilai tambah tinggi.

“Ekspansi yang kami rencanakan bukan lagi mengekspor bahan mentah, tetapi produk jadi. Fokus kami adalah minuman sarang burung walet dan produk nutrisi yang sudah diolah,” ujar Edwin dalam konferensi pers di Auditorium BEI, Jakarta pada Senin, 8 Desember 2025.

Edwin menjelaskan, dalam prospektus IPO yang telah dipublikasikan, RLCO menyiapkan strategi ekspor melalui entitas anak dengan merek baru bernama Realogy. Brand ini akan difokuskan untuk pasar internasional, sementara merek Real Food tetap menjadi andalan di pasar domestik.

Menurut Edwin, pemilihan Vietnam, Thailand, dan Amerika Serikat didasarkan pada besarnya pasar wellness dan suplemen kesehatan di negara-negara tersebut. Produk berbasis sarang burung walet, kata dia, pada dasarnya sudah diterima di pasar global, namun selama ini nilai tambahnya lebih banyak dinikmati oleh perusahaan luar negeri.

“Indonesia adalah produsen sarang burung walet terbesar di dunia, tapi nilai tambahnya belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri. Kami ingin itu berubah,” katanya.

Edwin menyebut ekspor produk olahan ke Vietnam sudah mulai dilakukan pada kuartal IV tahun ini. Thailand ditargetkan menyusul pada kuartal II tahun depan, sementara ekspansi ke Amerika Serikat direncanakan mulai kuartal IV tahun depan.

Selain Asia Tenggara dan Amerika Serikat, RLCO juga membuka peluang ekspansi ke negara lain di kawasan regional seperti Filipina. Namun perseroan masih berhati-hati dalam mengumumkan detail negara tujuan tambahan.

“Fokus utama kami adalah Asia Tenggara terlebih dahulu,” ujarnya.

Ke depan, RLCO tidak hanya mengandalkan sarang burung walet sebagai bahan utama. Perseroan juga mengembangkan berbagai produk nutrisi lain seperti kaldu ayam tinggi protein, kolagen ikan, serta inovasi nutrisi berbasis protein yang menyasar segmen kesehatan konsumen secara lebih luas.

“Kami tidak lagi hanya memposisikan diri sebagai perusahaan sarang burung walet, tetapi sebagai perusahaan consumer health,” kata Edwin.

RLCO melantai di pasar modal hari ini, dan langsung mengalami kenaikan sebesar 34,52 persen atau 58 poin ke level 226. Sebelumnya, produsen sarang walet ini melantai dengan harga penawaran umum 168 per lembarnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait