Market Hari Ini 05 Jun 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Rp14,74 Triliun Dana Asing Kabur Tinggalkan IHSG Sesi I, BBCA Terdalam

Investor asing mencatatkan aksi jual kotor hingga Rp14,74 triliun pada perdagangan sesi pertama, Rabu, 5 Juni 2026.

Dana asing sebesar Rp14,74 triliun kabur dari IHSG pada sesi I, 5 Juni 2026. Saham BBCA jadi korban aksi jual terbesar. CGS Sekuritas rajai nilai transaksi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu, 5 Juni 2026. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu, 5 Juni 2026. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

Daftar Isi

  1. 01 Saham BBCA Jadi Korban Terparah
  2. 02 CGS International Sekuritas Dominasi Transaksi

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu, 5 Juni 2026. Indeks utama bursa anjlok tajam sebesar 2,53 persen atau turun 147,63 poin menuju level 5.692,16. 

Kejatuhan bursa saham Tanah Air ini dipicu langsung oleh aksi buang barang berskala raksasa dari para investor asing.

Berdasarkan data perdagangan bursa, investor asing mencatatkan nilai penjualan kotor atau foreign sell yang sangat fantastis mencapai Rp14,74 triliun. Angka pelepasan saham ini jauh melampaui nilai pembelian kotor asing atau foreign buy yang hanya tertahan pada level Rp12,69 triliun. 

Akibatnya, pasar modal domestik harus menanggung nilai jual bersih asing atau net foreign sell secara total sebesar Rp2,05 triliun hanya dalam waktu setengah hari perdagangan.

Pergerakan indeks saham hari ini terpantau sangat fluktuatif dan terus tertekan sejak awal bel perdagangan berbunyi. IHSG sempat dibuka sedikit lebih tinggi pada posisi 5.846,49 dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level 5.839,79. Namun, laju indeks langsung merosot ke titik terendahnya pada level 5.673,93 sebelum akhirnya sedikit merangkak naik ke posisi penutupan sesi siang.

Tingginya aktivitas jual beli tergambar jelas dari total nilai transaksi bursa yang menembus angka Rp12,10 triliun pada paruh pertama. Investor secara aktif mentransaksikan lebih dari 159,24 juta lot saham di pasar reguler maupun negosiasi. 

Derasnya aliran dana yang keluar secara masif ini membuat bursa saham domestik kesulitan untuk bangkit dari zona merah.

Saham BBCA Jadi Korban Terparah

Saham perbankan berkapitalisasi raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), menjadi korban paling parah dari aksi kabur dana asing ini. Investor luar negeri mencatatkan nilai jual bersih paling jumbo pada saham BBCA yang menembus angka Rp734,35 miliar. Volume saham yang dibuang oleh pemodal asing mencapai lebih dari 140,79 juta unit hanya dalam satu sesi perdagangan.

Gempuran aksi jual ini membuat harga saham BBCA terperosok cukup dalam sebesar 5,53 persen atau turun 300 poin. Saham bank swasta terbesar ini harus terparkir lemah pada level harga Rp5.125 per lembar pada penutupan sesi siang. Laju harga BBCA bahkan sempat menyentuh level terendah hariannya pada posisi Rp5.100 per lembar saham.

Total nilai transaksi yang berputar khusus pada saham BBCA menyentuh angka yang sangat besar yakni Rp1,74 triliun. Saham emiten perbankan lainnya seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut menjadi sasaran jual asing senilai Rp161,62 miliar. 

Selain perbankan, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menderita tekanan jual asing terbesar kedua senilai Rp240,84 miliar.

Pemodal asing juga sangat agresif melepas saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Kedua emiten sektor pertambangan tersebut mencatatkan nilai jual bersih asing masing-masing sebesar Rp98,11 miliar dan Rp89,13 miliar. 

Kondisi ini mempertegas bahwa arus keluar modal asing terjadi secara merata di berbagai sektor saham berkapitalisasi besar.

CGS International Sekuritas Dominasi Transaksi

Keriuhan transaksi bursa hari ini turut difasilitasi oleh sejumlah perusahaan perantara pedagang efek atau sekuritas berkapitalisasi besar. PT CGS International Sekuritas Indonesia yang memiliki kode broker YU memimpin sangat jauh dominasi transaksi pasar. Perusahaan sekuritas ini mencatatkan total nilai transaksi luar biasa yang menyentuh angka Rp11,02 triliun.

Pencapaian nilai transaksi broker YU tersebut meninggalkan jauh para pesaing terdekatnya di lantai bursa. UBS Sekuritas Indonesia (AK) menempati urutan kedua dengan total nilai transaksi yang hanya mencapai Rp3,9 triliun. Posisi ketiga diisi oleh Verdhana Sekuritas Indonesia (BB) yang memfasilitasi transaksi bernilai total Rp3,04 triliun.

Mandiri Sekuritas (CC) dan Stockbit Sekuritas Digital (XL) melengkapi jajaran lima pialang teratas pada sesi perdagangan ini. Keduanya masing-masing sukses membukukan nilai perdagangan sebesar Rp2,85 triliun dan Rp2,48 triliun. 

Tingginya angka transaksi antarbroker ini mengonfirmasi besarnya gejolak perpindahan aset di tengah anjloknya indeks saham gabungan.

Meski pasar didominasi oleh tekanan jual asing yang berat, beberapa saham berkapitalisasi menengah dan kecil justru berhasil menarik minat beli. Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Timah Tbk (TINS) menempati daftar beli bersih teratas siang ini. 

Keduanya meraup suntikan dana asing masing-masing senilai Rp13,86 miliar dan Rp13,19 miliar di tengah merahnya pasar modal nasional.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait