Market Hari Ini 03 Oct 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Rugi Rp3,78 Miliar, Saham KOKA Sudah Premium saat Rencana Akuisisi

Kinerja KOKA tertekan, rugi Rp3,78 miliar, ekuitas turun, rencana akuisisi NLEM jadi katalis utama.

KOKA rugi Rp3,78 miliar di kuartal I-2025, saham melonjak 170 persen, akuisisi NLEM jadi faktor penentu.

PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) melaporkan kinerja keuangan semester I-2025 yang penuh tekanan. (Foto: Dok. Koka Indonesia)
PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) melaporkan kinerja keuangan semester I-2025 yang penuh tekanan. (Foto: Dok. Koka Indonesia)

Daftar Isi

  1. 01 Analisis Kinerja Saham dan Valuasi
  2. 02 Prospek Kepemilikan Saham KOKA

KABARBURSA.COM – PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) melaporkan kinerja keuangan semester I-2025 yang penuh tekanan. 

Penjualan turun drastis menjadi Rp1,51 miliar pada kuartal I-2025, jauh lebih rendah dibanding Rp21,28 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kerugian bersih tercatat Rp3,78 miliar, berbanding terbalik dengan laba Rp962 juta pada Maret 2024, dipicu lonjakan beban administrasi Rp4,01 miliar dan biaya lain-lain yang membengkak.

Total aset perseroan per Maret 2025 mencapai Rp211,86 miliar, menurun dari Rp217,94 miliar pada akhir 2024. Liabilitas tercatat Rp35,74 miliar, dengan porsi utang jangka pendek Rp34,01 miliar, didominasi utang usaha Rp28,1 miliar. Ekuitas turun menjadi Rp176,11 miliar dari Rp179,9 miliar di akhir 2024, mencerminkan tekanan dari akumulasi rugi berjalan.

Perseroan saat ini masih fokus pada jasa konstruksi sipil, gedung industri, dan hunian. 

Selain tekanan kinerja, perhatian investor kini tertuju pada rencana akuisisi PT Koka Indonesia Tbk oleh Ningbo Lixing Enterprise Management Co., Ltd. (NLEM) dari China. 

Dalam keterbukaan informasi, NLEM menyatakan minatnya untuk mengambil alih 63,5 persen saham KOKA dari pemegang saham pengendali saat ini. Jika akuisisi ini terealisasi, NLEM akan menjadi pemegang kendali baru yang berpotensi mengubah arah bisnis perseroan.

Proses akuisisi ini saat ini masih dalam tahap non-binding agreement, artinya kesepakatan belum memiliki kekuatan hukum mengikat. Perseroan menegaskan bahwa hingga kini belum ada perjanjian jual beli saham yang bersifat final. 

Dengan demikian, meski pengumuman rencana akuisisi telah memicu euforia pasar, masih terdapat risiko ketidakpastian apabila negosiasi tidak menghasilkan keputusan mengikat.

Manajemen KOKA menyatakan bahwa tujuan strategis dari rencana akuisisi ini adalah memperkuat struktur permodalan dan membuka akses jaringan bisnis internasional melalui NLEM. 

Sebagai perusahaan manajemen investasi berbasis di China, NLEM memiliki portofolio yang luas di sektor konstruksi dan manufaktur. 

Kehadiran investor strategis asing diharapkan dapat membawa modal kerja tambahan, meningkatkan daya saing, serta mendukung ekspansi proyek KOKA ke segmen infrastruktur yang lebih besar.

Analisis Kinerja Saham dan Valuasi

Saham KOKA menunjukkan reli signifikan sejak akhir September 2025. Harga melonjak dari Rp137 pada 25 September menjadi Rp374 pada 4 Oktober 2025, mencatat kenaikan lebih dari 170 persen hanya dalam sepekan. 

Kapitalisasi pasar kini mencapai sekitar Rp1 triliun dengan volume transaksi yang menebal, mencerminkan spekulasi pasar terkait aksi korporasi akuisisi.

Namun, secara valuasi fundamental, saham KOKA terlihat sangat premium. Dengan ekuitas Rp176,11 miliar, price to book value (PBV) perseroan berada di kisaran 5,6 kali, jauh di atas rata-rata emiten konstruksi yang umumnya di bawah 2 kali.

Price to earnings (P/E) ratio tidak dapat dihitung karena perseroan masih membukukan rugi bersih, sehingga valuasi berbasis laba belum relevan.

Dalam jangka pendek, volatilitas saham KOKA berpotensi berlanjut karena pasar menanti kepastian akuisisi oleh NLEM. Jika kesepakatan final tercapai, saham dapat memperoleh katalis positif dari sentimen pengendali baru. 

Namun, dalam jangka menengah, investor akan menuntut realisasi kinerja operasional yang lebih stabil agar reli harga dapat berlanjut. 

Untuk jangka panjang, arah bisnis perseroan sangat ditentukan oleh komitmen dan strategi ekspansi NLEM setelah akuisisi tuntas.

Prospek Kepemilikan Saham KOKA

Bagi investor, prospek kepemilikan saham KOKA saat ini bersifat spekulatif. Secara fundamental, kinerja keuangan perseroan masih menunjukkan kerugian dan tekanan pada margin usaha. 

Rasio utang terhadap ekuitas (DER) masih relatif rendah di 0,2 kali, tetapi lemahnya pendapatan menimbulkan risiko arus kas berlanjut negatif jika kontrak baru tidak segera diperoleh.

Secara teknikal, saham KOKA menunjukkan tren bullish kuat dengan level support di Rp310 dan resistance di Rp388. Lonjakan harga yang tajam menandakan adanya akumulasi investor ritel yang berspekulasi pada isu akuisisi.

 Namun, absennya kepastian hukum final terkait pengambilalihan oleh NLEM menambah risiko koreksi tajam apabila negosiasi gagal dilanjutkan.

Investor konservatif sebaiknya menunggu kepastian resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai akuisisi, sebelum masuk lebih jauh. 

Sementara investor agresif dapat memanfaatkan momentum teknikal jangka pendek dengan tetap memperhatikan risiko tinggi. 

Secara keseluruhan, saham KOKA layak diperlakukan sebagai aset spekulatif yang bergantung pada realisasi aksi korporasi, bukan fundamental bisnis semata. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait