Market Hari Ini 06 Dec 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Saham Anjlok 34,57 Persen YtD, AMRT Ambil Langkah Penyelamatan

AMRT menyiapkan buyback Rp1,5 triliun untuk meredam tekanan harga saham, namun asing masih dominan menjual di tengah kenaikan pendapatan dan margin yang terus tertekan.

AMRT siapkan buyback Rp1,5 triliun saat saham tertekan dan asing agresif jual, meski pendapatan tumbuh dan fundamental masih solid.

Salah satu gerai Alfamart. (Foto: Wikimedia Commons)
Salah satu gerai Alfamart. (Foto: Wikimedia Commons)

Daftar Isi

  1. 01 Asing Gencar Lepas Saham AMRT
  2. 02 Saham Bergerak di Zona Sensitif

KABARBURSA.COM – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola jaringan ritel Alfamart, memasuki fase yang menarik namun penuh tekanan. Di tengah kinerja operasional yang masih menunjukkan pertumbuhan pendapatan, saham AMRT justru mengalami koreksi dalam yang membuat manajemen mengambil langkah strategis, yaitu melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp1,5 triliun. 

Langkah ini bukan sekadar respons administratif, tetapi refleksi dari ketegangan antara fundamental perusahaan dan persepsi pasar terhadap prospek jangka pendeknya.

Buyback dirancang berlangsung mulai 8 Desember 2025 hingga 6 Maret 2026, dengan ruang hingga 650 juta lembar saham. Manajemen menyadari bahwa volatilitas pasar, terutama pada sektor konsumsi domestik, memberi tekanan yang cukup besar pada valuasi AMRT. 

Dalam keterbukaan informasi, perusahaan mengutip POJK 29/2023 dan 13/2023 sebagai dasar relaksasi buyback. Ini sebuah sinyal bahwa AMRT melihat pelemahan harga saham bukan sebagai refleksi dari rapuhnya fundamental, melainkan akibat sentiment-driven correction

Pernyataan manajemen bahwa buyback bertujuan menjaga stabilitas harga saham sekaligus menjaga kepercayaan investor menjadi penting, terutama karena saham AMRT telah anjlok 34,57 persen secara year-to-date.

Menariknya, AMRT menegaskan bahwa seluruh pendanaan buyback berasal dari kas internal. Posisi kas yang kuat ini membuat aksi korporasi tersebut dianggap tidak akan mengganggu aktivitas operasional maupun arus kas. 

Laporan proforma juga menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada laba bersih yang tetap di Rp2,31 triliun. Pernyataan ini menjadi kunci untuk memahami konteks buyback, yaitu AMRT tidak sedang mengobati gejala krisis kas, melainkan mencoba menghentikan spiral sentimen negatif sebelum menekan valuasi lebih jauh. 

Saham treasuri yang nantinya dimiliki juga memberi fleksibilitas masa depan—bisa dijual kembali ketika valuasi pulih atau digunakan untuk kebutuhan pendanaan tanpa memperbesar utang.

Asing Gencar Lepas Saham AMRT

Namun, investor publik tampaknya belum memberi respons positif. Pada penutupan perdagangan 5 Desember 2025, saham AMRT melemah 0,27 persen ke Rp1.845. Dalam sepekan terakhir, harga memang naik 2,5 persen, tetapi bila dilihat dalam konteks bulanan, saham ini sudah menyusut 4,65 persen. 

Volume perdagangan juga menunjukkan pola distribusi, dengan foreign sell mencapai Rp37,4 miliar berbanding foreign buy hanya Rp3,6 miliar. Tekanan jual asing ini turut menjelaskan mengapa kinerja saham tidak responsif terhadap buyback, bahwa pasar global sedang risk-off terhadap sektor konsumsi domestik, terutama yang memiliki eksposur margin tipis seperti ritel minimarket.

Secara fundamental, AMRT sebenarnya mencatat pertumbuhan pendapatan yang sangat solid. Per kuartal III/2025, pendapatan neto naik 7,09 persen YoY menjadi Rp94,47 triliun. Pertumbuhan terlihat konsisten di seluruh wilayah, seperti di Jabodetabek naik 3,11 persen, Jawa luar Jabodetabek naik 3,96 persen, dan luar Jawa melonjak 14,84 persen. 

Struktur pendapatan juga menunjukkan bahwa AMRT masih memanfaatkan kekuatan portofolio makanan yang naik 7,15 persen dan non-makanan 6,96 persen. Laba bruto meningkat 7,6 persen menjadi Rp20,3 triliun. Artinya, bisnis inti Alfamart tetap berkembang.

Namun, titik kritikal ada pada beban operasional. Beban penjualan dan distribusi naik signifikan dari Rp15,04 triliun menjadi Rp16,55 triliun. Beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp1,7 triliun. 

Kenaikan beban inilah yang menggerus laba usaha dari Rp3,1 triliun menjadi Rp2,95 triliun. Dengan margin ritel yang sangat tipis, kenaikan biaya sekecil apa pun langsung menekan profitabilitas. Inilah aspek yang kemungkinan dilihat pasar bahwa meski pendapatan tumbuh, efisiensi menjadi tantangan besar, dan tren biaya operasional tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Saham Bergerak di Zona Sensitif

Dalam konteks teknikal, saham AMRT sedang bergerak di zona sensitif. Harga bergerak pada rentang harian 1.825–1.855 dengan frekuensi transaksi sangat tinggi, yaitu lebih dari 3.100 kali. 

Valuasi sebesar Rp65,1 miliar menunjukkan likuiditas yang sehat, namun pola harga yang cenderung flat menandakan pasar sedang menunggu katalis yang lebih kuat dari sekadar buyback. Aksi beli asing yang minim menjadi faktor tambahan yang menghadang momentum pemulihan.

Rencana buyback sebenarnya dapat menjadi turning point apabila dilakukan agresif sejak hari pertama, terutama karena harga saham telah turun cukup jauh dari level ARA 2.300 dan masih berada di atas ARB 1.570, sehingga ruang konsolidasi masih terbuka. 

Namun, buyback saja tidak cukup untuk mengubah persepsi pasar. Investor akan menunggu sinyal perbaikan efisiensi, peningkatan profit margin, atau strategi ekspansi yang lebih adaptif terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat.

Jadi, AMRT saat ini sedang menghadapi narasi ganda, yaitu fundamental yang masih kuat dan growing, tetapi margin tertekan dan sentimen pasar yang bearish membuat valuasi tertekan. 

Buyback bisa membantu meredam tekanan jangka pendek, tetapi tanpa katalis yang lebih kuat, pemulihan harga saham kemungkinan akan terjadi secara bertahap, bukan eksplosif. Pasar masih berhati-hati, menimbang apakah ini hanya fase bottoming atau awal dari restrukturisasi strategi jangka panjang yang harus dilakukan oleh salah satu pemain terbesar ritel Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait