Market Hari Ini 15 May 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Saham ANTM Kejar Target Rp3.000, Analis Ungkap Hal ini

Saham Aneka Tambang melesat 86 persen dalam sebulan. Analis CGS International dan BRIDS beberkan potensi, risiko, serta revisi proyeksi laba 2025.

Saham ANTM tembus Rp2.540, dekati target Rp3.000. Analis ungkap proyeksi laba 2025, BRANKAS, dan risiko dari proyek hilirisasi.

Aktivitas di depan papan pantau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang tengah menunjukkan warna hijau, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 15 Mei 2025. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)
Aktivitas di depan papan pantau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang tengah menunjukkan warna hijau, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 15 Mei 2025. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)

KABARBURSA.COM - Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tercatat berada di level Rp2.540 per saham pada perdagangan sesi terakhir hingga Kamis, 15 Mei 2025 pukul 15:45 WIB, turun 10 poin atau 0,39 persen dari hari sebelumnya. 

Meskipun mencatat koreksi harian, saham ANTM tetap memperlihatkan tren penguatan luar biasa dalam satu bulan terakhir dengan kenaikan mencapai 86 persen, seiring antusiasme pasar terhadap kinerja keuangan kuartal I 2025.

Dalam laporan keuangan terbaru, ANTM mencatat laba bersih sebesar Rp2,1 triliun, naik tajam 794 persen secara tahunan (year on year/yoy), melampaui ekspektasi analis. Peningkatan ini terutama ditopang oleh kinerja dua lini utama perusahaan: emas dan bijih nikel. Dari sisi pendapatan, penjualan emas mencapai 13,7 ton atau setara 442 ribu ons, yang telah merealisasikan 34 persen dari target tahunan perseroan.

Harga jual rata-rata (ASP) emas juga mengalami kenaikan menjadi USD2.858 per ons, meningkat 6 persen dibanding kuartal sebelumnya dan 40 persen lebih tinggi secara tahunan. Harga spot emas bahkan sempat menyentuh USD3.233 per ons pada April hingga awal Mei 2025, mendorong margin laba bersih ANTM hingga 8,1 persen, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam riset tertanggal 13 Mei 2025, analis riset dari CGS International, Jacquelin Hamdani dan Nathania Giovanna Adjie, menyatakan bahwa mereka menaikkan proyeksi laba bersih ANTM tahun 2025 sebesar 70 persen menjadi Rp5,7 triliun. Hal ini seiring dengan asumsi harga emas yang lebih tinggi dan premium ASP bijih nikel terhadap Harga Patokan Mineral (HPM) yang masih berlanjut hingga April. 

“Kombinasi lonjakan harga emas dan premi bijih nikel menjadi pendorong utama revisi proyeksi kami,” tulis Jacquelin dan Nathania.

Meski mencatat kinerja impresif, CGS International tetap mempertahankan rekomendasi 'Hold' untuk saham ANTM, dengan target harga di level Rp2.600 per saham. Menurut mereka, harga saham saat ini telah mencerminkan sebagian besar sentimen positif dan katalis jangka pendek.

Sebaliknya, BRI Danareksa Sekuritas memiliki pandangan yang lebih optimis. Dalam riset tertanggal 14 Mei 2025, analis Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis memberikan rekomendasi ‘Buy’ dengan target harga Rp3.000 per saham. 

Mereka menilai bahwa laba kuartal I 2025 telah mencakup 40–51 persen dari estimasi laba setahun penuh. “Realisasi margin dan volume penjualan pada dua segmen utama melampaui ekspektasi awal,” tulis keduanya.

ANTM juga memperkenalkan strategi distribusi digital melalui peluncuran aplikasi BRANKAS (Berencana Aman Kelola Emas). Aplikasi ini menawarkan harga emas digital yang lebih murah hingga Rp57.900 per gram dibandingkan harga fisik. 

Selain itu, aplikasi ini memungkinkan pelanggan mencetak emas dan menerimanya dalam kurun waktu 15–20 hari kerja. Layanan ini menyasar segmen ritel dan institusi, dengan biaya keanggotaan yang mencapai Rp6 miliar per tahun untuk akun korporasi, dan Rp9 juta untuk individu.

Namun tidak semua aspek operasional mencatatkan pertumbuhan. Produksi emas fisik justru turun menjadi 7,4 ton, dari sebelumnya 8,8 ton pada kuartal IV 2024. Volume penjualan feronikel juga melemah hingga 38 persen menjadi 4.800 ton, sementara penjualan bauksit terkoreksi 14,7 persen menjadi 544 ribu ton. 

Meskipun begitu, ANTM berhasil menyeimbangkan penurunan tersebut dengan peningkatan signifikan pada penjualan bijih nikel, yang melonjak menjadi 3,8 juta wmt (wet metric ton), tumbuh 281 persen YoY, dengan margin EBITDA segmen nikel melonjak ke 39 persen.

Dari sisi outlook, manajemen ANTM menyampaikan bahwa penjualan emas masih tetap kuat hingga April. Namun, mereka mengantisipasi adanya perlambatan pada semester II karena harga emas yang terlalu tinggi bisa menahan permintaan, terutama dari segmen ritel. Dengan 34 persen dari target tahunan telah tercapai hanya dalam tiga bulan pertama, ANTM diyakini mampu mencetak kinerja solid hingga kuartal II 2025.

Saham ANTM saat ini diperdagangkan pada 11 kali P/E FY25F, yang oleh sebagian analis mulai dianggap mendekati valuasi jenuh. Oleh karena itu, CGS International menyarankan investor mencermati risiko tambahan dari proyek hilirisasi seperti FeNi Haltim, termasuk kemungkinan munculnya beban satu kali (one-off expense) yang dapat menekan laba bersih pada kuartal mendatang.

Secara keseluruhan, kombinasi fundamental kuat, pertumbuhan volume strategis, dan harga komoditas yang masih mendukung membuat saham ANTM tetap menjadi perhatian investor institusi dan ritel. 

Perdebatan kini berfokus pada apakah target Rp3.000 per saham akan menjadi titik psikologis penting berikutnya, atau justru awal fase konsolidasi, bergantung pada arah harga emas dan keberhasilan eksekusi strategi bisnis perseroan ke depan. 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait