Market Hari Ini 08 Jun 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Pramirvan Datu

Saham BRIS Masih Potensial Dikoleksi? Ini Kata Pengamat!

Harga saham BRIS masih potensial dan menarik karena rebound signifikan dari sekitar 2.000

Saham BRIS dinilai masih menarik untuk investasi jangka panjang di tengah konsolidasi harga dan pergantian pimpinan strategis BSI.

Gedung Bank Syariah Indonesia (BSI) di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Rabu, 22 April 2025. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)
Gedung Bank Syariah Indonesia (BSI) di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Rabu, 22 April 2025. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)

Daftar Isi

  1. 01 Kinerja Fundamental Saham BRIS
  2. 02 Kinerja BSI Cemerlang, Estafet Tiba di Pimpinan Baru

KABARBURSA.COM - Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dinilai masih potensial untuk dikoleksi. Namun, investor diimbau untuk cermat sebelum mengambil keputusan. 

Pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono mengatakan, saham BRIS memiliki prospek jangka panjang yang positif. Menurutnya, potensi dukungan pemerintah, ekspansi, dan peningkatan kepercayaan akan menjadi pendorong utama.

"Investor jangka panjang yang percaya pada pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia dan peran BRIS sebagai lokomotifnya, bisa mempertimbangkan saham ini," ujar dia kepada KabarBursa.com, Sabtu, 7 Juni 2025.

Dalam jangka pendek, Wahyu melihat harga saham BRIS bisa sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar serta kinerja keuangan kuartalan. 

Dia menjelaskan volatilitas bisa tinggi karena spekulasi, sehingga investor jangka pendek perlu berhati-hati dan memperhatikan perkembangan berita.

"Apalagi saat kecemasan ekonomi global masih menghantui, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan banyak emiten sedang mengalami koreksi dibandingkan tahun sebelumnya," ungkapnya. 

Wahyu menambahkan, secara umum harga saham BRIS masih potensial dan menarik karena rebound signifikan dari sekitar 2.000. Kendati begitu, ia memprediksi potensi koreksi atau setidaknya konsolidasi di atas 3000 bisa terjadi. 

Kinerja Fundamental Saham BRIS

Mengutip Stockbit, pada perdagangan terakhir, Kamis, 5 Juni 2025, saham BRIS ditutup di level 2.570 setelah menguat 0,78 persen atau naik 20 poin. 

Saham BRIS sendiri menunjukkan kinerja fundamental yang kuat meskipun dari segi harga mengalami tekanan dalam jangka pendek. 

Data terbaru menunjukkan bahwa emiten bank syariah terbesar di Indonesia ini tetap menjaga margin profitabilitas yang tinggi dan konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham.

BRIS mencatat Return on Equity (ROE) sebesar 15,30 persen dan Return on Assets (ROA) sebesar 1,79 persen untuk periode Trailing Twelve Months (TTM). Angka ini menunjukkan efisiensi pengelolaan modal dan aset yang masih terjaga.

Selain itu, margin profit juga mencerminkan kinerja operasional yang solid. Gross Profit Margin kuartalan tercatat 65,55 persen, dengan Operating Profit Margin sebesar 36,92 persen, serta Net Profit Margin mencapai 27,92 persen. 

Ini menandakan kemampuan BRIS dalam mempertahankan laba bersih yang tinggi dari total pendapatan yang dihasilkan.

Meskipun secara tahunan saham BRIS mencatat kenaikan 13,72 persen, namun dalam jangka pendek saham ini mengalami tekanan usai turun 14,33 persen dalam sepekan terakhir, 11,07 persen dalam sebulan, dan 13,47 persen dalam enam bulan terakhir. 

Adapun sepanjang tahun 2025 hingga kini, saham BRIS terkoreksi 5,86 persen.

Namun, secara jangka panjang, return BRIS tetap impresif, dalam tiga tahun terakhir naik 76,88 persen , dan dalam lima tahun terakhir melejit hingga 723,72 persen.

Saham BRIS sempat mencapai level tertinggi tahunan di Rp3.350, dan terendah di Rp2.000. Saat ini, saham tengah bergerak dalam fase konsolidasi di antara kisaran tersebut.

Kinerja BSI Cemerlang, Estafet Tiba di Pimpinan Baru

Sebelumnya diberitakan, PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) memulai babak baru dalam kepemimpinannya setelah mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2024 dan kuartal I 2025. 

Laba bersih yang tumbuh dua digit menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan bisnis bank syariah terbesar di Indonesia ini. Namun di balik angka-angka yang menjanjikan, terdapat estafet strategis yang kini bergeser ke tangan pemimpin baru, termasuk sosok dari kalangan tokoh nasional dan organisasi besar keislaman Muhammadiyah.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Jumat, 16 Mei 2025 di Aryanusa Ballroom, Menara Danareksa, Jakarta Pusat menjadi momen penentu. 

Dalam rapat tersebut, pemegang saham resmi menunjuk Muhadjir Effendy sebagai Komisaris Utama menggantikan Muliaman D. Hadad. Muhadjir merupakan mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), serta tokoh senior Muhammadiyah. 

Dengan latar belakang panjang di birokrasi dan dunia pendidikan sekaligus organisasi massa (ormas) Islam terbesar di Indonesia, Muhadjir diharapkan mampu menghadirkan pengawasan strategis berbasis visi pembangunan sosial yang kuat.

Sementara itu, posisi Direktur Utama kini diemban oleh Anggoro Eko Cahyo, menggantikan Hery Gunardi yang telah dipercaya menjabat Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI). 

Sebelum masuk ke BSI, Anggoro menjabat sebagai Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan dan memiliki pengalaman panjang di industri perbankan nasional.

Kepala Divisi Komunikasi BSI, Wisnu Sunandar, dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa RUPST tahun buku 2024 membahas delapan agenda strategis. 

“Agenda yang dibahas meliputi delapan poin penting, mulai dari pengesahan laporan keuangan hingga pengangkatan pengurus baru,” jelasnya dalam dokumen resmi perusahaan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait