Saham Konsumer dan Digital Dorong IHSG Mendekati 7.355

IHSG menguat ke level 7.155 dan berpeluang menguji 7.355 hari ini. Saham sektor ritel, teknologi, dan properti mencuri perhatian pelaku pasar.

IHSG diprediksi lanjut menguat dengan target 7.355. Saham ritel seperti AMRT dan teknologi seperti BUKA jadi sorotan Rabu ini, 18 Juni 2025.

Ilustrasi: IHSG diprediksi lanjut menguat dengan target 7.355. Saham ritel seperti AMRT dan teknologi seperti BUKA jadi sorotan Rabu ini, 18 Juni 2025. Foto; KabarBursa/Abbas Sandji.
Ilustrasi: IHSG diprediksi lanjut menguat dengan target 7.355. Saham ritel seperti AMRT dan teknologi seperti BUKA jadi sorotan Rabu ini, 18 Juni 2025. Foto; KabarBursa/Abbas Sandji.

Daftar Isi

  1. 01 Saham-Saham yang Jadi Sorotan
  2. 02 Prospek IHSG di Tengah Api Timur Tengah

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, 18 Juni 2025 diproyeksikanmelanjutkan penguatan, setelah kemarin naik 0,54 persen ke level 7.155. Menurut analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, peluang penguatan masih terbuka seiring munculnya volume pembelian yang signifikan.

“Apabila IHSG break 7.240, maka diperkirakan IHSG akan membentuk wave (v) dari wave [a] yang akan menguji 7.263 hingga 7.355,” ujar Herditya dalam riset teknikal harian, Rabu pagi. Namun ia juga memberi catatan bahwa potensi koreksi tetap ada jika indeks gagal menembus resistance tersebut. Dalam skenario hitam, IHSG bisa terkoreksi ke rentang 6.713–7.009.

Adapun level support IHSG saat ini berada di 7.079 dan 7.009, sementara resistance berada di kisaran 7.240 hingga 7.324.

Saham-Saham yang Jadi Sorotan

Beberapa saham yang masuk radar analis hari ini di antaranya adalah AMRT, BUKA, MAPA, dan PANI, dengan masing-masing mencatatkan formasi teknikal yang patut dicermati.

1. AMRT (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.)

Saham ritel ini terkoreksi 3,75 persen ke level 2.310. Meski sempat tertekan, koreksinya masih tertahan di area moving average 60 hari (MA60).

“Posisi AMRT sedang berada pada bagian dari wave [iv] dari wave A,” tulis Herditya. Artinya, ada peluang saham ini bangkit jika tekanan jual mulai mereda.

2. BUKA (PT Bukalapak.com Tbk.)

Saham teknologi ini naik tajam 5,93 persen ke Rp143, dengan volume pembelian yang cukup besar. Kenaikan tersebut juga sukses menembus MA20 dan MA60.

“Posisi BUKA berada di awalan wave (iii) dari wave [c],” ungkap Herditya, mengindikasikan potensi lanjutan penguatan bila tren positif berlanjut.


3. MAPA (PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk.)

Saham ritel fesyen ini naik 1,52 persen ke level Rp670. Volume pembelian yang mendominasi menandakan antusiasme pasar, meskipun dalam struktur gelombang, MAPA berada di wave B dari wave (B).

“MAPA rawan terkoreksi dahulu,” ujarnya, mengingat fase ini biasanya jadi titik konsolidasi sebelum bergerak lebih lanjut.

4. PANI (PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk.)

Saham pengembang kawasan ini terkoreksi 1,33 persen ke Rp11.100. Meski ada tekanan jual, koreksi tertahan oleh MA20. Dalam skenario teknikal, PANI diperkirakan berada di wave [y] dari wave A. Artinya, peluang pembalikan arah masih terbuka bila tekanan jual tak berlanjut.

Untuk investor yang mengandalkan teknikal, pergerakan gelombang (wave) ini penting dalam menentukan momentum masuk atau keluar pasar. Namun bagi investor jangka panjang, perhatikan pula latar belakang fundamental dan prospek usaha emiten tersebut.

Prospek IHSG di Tengah Api Timur Tengah

Bursa tak pernah kebal dari dentuman senjata. Di tengah reli dan koreksi yang datang silih berganti, arah IHSG kini juga dibayang-bayangi bara konflik di Timur Tengah. Serangan Israel ke jantung infrastruktur strategis Iran—dari pangkalan militer hingga lokasi pengayaan nuklir—bukan cuma mengguncang kawasan, tapi juga menggetarkan harga minyak dunia.

Menurut analis pasar modal yang juga pendiri Stocknow.id, Hendra Wardana, dampaknya tak bisa dianggap remeh. Kenaikan tajam harga minyak adalah alarm dini bagi potensi inflasi global.

“Data per akhir pekan menunjukkan harga minyak global melonjak sebesar 12,7 persen ke level USD77,57 per barel," ujar dia dalam risetnya kepada KabarBursa.com, Senin, 16 Juni 2025.

Hendra menilai lonjakan harga itu menimbulkan kekhawatiran baru akan terganggunya pasokan energi global, mengingat Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ke-9 di dunia dengan output hampir 4 juta barel per hari.

Dampaknya perang terhadap pasar domestik pun sudah terlihat ketika IHSG ditutup melemah sebesar 38,30 poin atau 0,53 persen ke level 7.166,06 pada perdagangan Jumat, 13 Juni 2025.

Dari sisi teknikal, Hendra menjelaskan jika IHSG kini berada di bawah moving average5 hari (MA5) dan memperlihatkan sinyal negatif melalui pola stochastic death cross.

"Menandakan potensi berlanjutnya pelemahan jangka pendek menuju MA20 di area 7.081 hingga level psikologis kuat di 7.000. Apabila tekanan meningkat, area dinamis MA50 di 6.909 menjadi support kritis yang perlu dicermati investor," katanya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait