Market Hari Ini 06 May 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Saham Konsumer Mulai Bangkit, ini Rekomendasi Indo Premier

MYOR, KLBF, CMRY, UNVR hingga ICBP mulai bergerak naik seiring pemulihan konsumsi domestik, namun lonjakan harga minyak mulai menekan margin emiten.

Saham sektor konsumer seperti MYOR, KLBF, CMRY, UNVR, dan ICBP mulai pulih. Namun kenaikan harga minyak dan CPO masih membayangi margin laba.

Ilustrasi sektor konsumer yang barus saja dipertahankan rekomendasinya oleh Indo Premier. (Foto: dok KabarBursa)
Ilustrasi sektor konsumer yang barus saja dipertahankan rekomendasinya oleh Indo Premier. (Foto: dok KabarBursa)

Daftar Isi

  1. 01 Laba MYOR Curi Perhatian
  2. 02 Proyeksi Pertumbuhan Laba CMRY
  3. 03 ICBP-UNVR dan Kenaikan Harga CPO
  4. 04 Laba Bruto SIDO Tertekan
  5. 05 Risiko Eksternal Masih Membayangi
  6. 06 Overweight untuk Sektor Konsumer

KABARBURSA.COM – Saham-saham sektor konsumer bergerak naik. Di tengah tekanan daya beli dan lonjakan harga energi global, emiten seperti Mayora Indah (MYOR), Kalbe Farma (KLBF), Cimory Group (CMRY), Unilever Indonesia (UNVR), Indofood CBP (ICBP), hingga Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO) mulai menunjukkan tanda pemulihan kinerja pada kuartal pertama 2026.

Laporan riset Indo Premier memperlihatkan penjualan domestik sektor consumer staples pada kuartal I-2026 tumbuh 4,4 persen secara tahunan atau masih sejalan dengan rata-rata pertumbuhan lima tahun terakhir di kisaran 4,5 persen. 

Angka tersebut muncul meski periode awal tahun sempat terganggu pergeseran momentum belanja Lebaran yang tahun ini terjadi lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.

Analis menilai pola konsumsi masyarakat mulai membaik seiring percepatan belanja pemerintah, termasuk melalui program MBG yang mulai mengalir ke masyarakat. Dorongan belanja itu mulai terasa pada produk-produk kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya bergerak cukup lambat sepanjang 2025.

Laba MYOR Curi Perhatian

Dari sisi laba, MYOR menjadi salah satu emiten yang paling mencuri perhatian pasar. Laba bersih kuartal pertama perseroan tercatat berada di atas ekspektasi konsensus, ditopang perbaikan margin yang cukup signifikan.

Kondisi ini terlihat dari gross profit margin atau GPM MYOR yang melonjak 461 basis poin secara tahunan. Perbaikan margin tersebut didorong turunnya harga bahan baku utama seperti kopi, gula, dan kakao yang masing-masing terkoreksi 28,8 persen, 24,6 persen, dan 59,7 persen dibanding tahun lalu.

Efek penurunan bahan baku itu membuat pasar mulai kembali masuk ke saham MYOR. Dalam tabel valuasi Indo Premier, saham MYOR masih dipertahankan dengan rekomendasi buy dan target harga Rp2.700 per saham dari posisi saat ini Rp1.785.

Proyeksi Pertumbuhan Laba CMRY

Selain MYOR, CMRY juga mulai menunjukkan pemulihan seiring pertumbuhan laba yang masih solid. Indo Premier memproyeksikan pertumbuhan laba CMRY mencapai 13,7 persen pada 2026 dan berlanjut menjadi 16,7 persen pada 2027.

Meski begitu, tekanan biaya belum benar-benar hilang dari sektor ini. CMRY dan KLBF masih menghadapi kenaikan harga susu skim yang naik 8,6 persen secara tahunan, ditambah tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS sekitar 3,1 persen.

ICBP-UNVR dan Kenaikan Harga CPO

Situasi berbeda terlihat pada ICBP dan UNVR yang mulai terkena dampak kenaikan harga minyak sawit mentah atau CPO. Margin laba bruto kedua emiten turun menjadi 34,8 persen untuk ICBP dan 48,2 persen untuk UNVR akibat kenaikan harga CPO sekitar 12 persen secara tahunan.

UNVR bahkan menjadi salah satu emiten yang paling sensitif terhadap kenaikan harga energi dan bahan baku berbasis minyak. Analisis sensitivitas Indo Premier menunjukkan setiap kenaikan 5 persen harga CPO dan minyak mentah berpotensi memangkas laba UNVR hingga 6,4 persen pada 2026.

Tekanan serupa juga membayangi KLBF dan ICBP. Untuk KLBF, kenaikan harga energi dan bahan baku diperkirakan dapat menggerus laba sekitar 4,7 persen, sedangkan ICBP berpotensi turun 4,2 persen.

Laba Bruto SIDO Tertekan

Sementara itu, SIDO masih menghadapi tekanan dari perubahan bauran produk atau product mix yang membuat margin laba brutonya turun menjadi 50,5 persen. Meski demikian, saham SIDO masih dipertahankan pada rekomendasi hold dengan dividend yield yang tetap tinggi di kisaran 9,1 persen.

Di tengah tekanan biaya tersebut, pasar mulai melihat adanya peluang pemulihan konsumsi domestik pada kuartal kedua 2026. Salah satu pendorongnya berasal dari jumlah hari kerja yang lebih panjang dibanding tahun lalu setelah distribusi logistik tidak terlalu terganggu pembatasan truk saat Lebaran.

Indo Premier mencatat kuartal kedua tahun ini diperkirakan memiliki 58 hari kerja dibandingkan 53 hari pada periode sama tahun lalu. Kondisi itu dinilai bisa membantu mempercepat distribusi barang konsumsi dan mendorong volume penjualan.

Selain itu, basis pertumbuhan tahun lalu juga relatif rendah karena penjualan domestik sektor staples pada kuartal II-2025 hanya tumbuh 0,9 persen. Artinya, ruang pemulihan konsumsi pada tahun ini menjadi lebih terbuka.

Risiko Eksternal Masih Membayangi

Namun pasar masih menaruh kewaspadaan besar terhadap risiko eksternal, terutama lonjakan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak Brent tercatat melonjak lebih dari 32 persen sejak kuartal pertama 2026 dan mulai memberi tekanan ke berbagai rantai biaya industri konsumer.

Kenaikan harga energi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat apabila pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite. Pengalaman pada 2022 hingga 2023 menunjukkan kenaikan harga BBM sempat memukul penjualan sektor consumer staples secara cukup signifikan.

Overweight untuk Sektor Konsumer

Meski begitu, valuasi sektor konsumer mulai kembali menarik di mata investor. Indo Premier mencatat aggregate earnings yield sektor staples kini sudah mencapai 9 persen, lebih tinggi dibanding imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di kisaran 6,8 persen.

Dari sisi rekomendasi, Indo Premier masih mempertahankan overweight untuk sektor consumer staples dengan urutan pilihan utama MYOR, CMRY, ICBP, KLBF, UNVR, hingga SIDO. Pasar kini mulai mencermati apakah pemulihan konsumsi domestik mampu lebih kuat dibanding tekanan biaya energi yang terus meningkat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait