Market Hari Ini 14 Oct 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Saham-saham ini Diuntungkan di Tengah Perang Dagang AS-China yang Kembali Panas

Konflik dagang dua negara tersebut menjadi momok baru bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia

Konflik dagang dua negara tersebut menjadi momok baru bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia

Ilustrasi papan pantau saham di Bursa Efek Indonesia. Foto: doc KabarBursa.com.
Ilustrasi papan pantau saham di Bursa Efek Indonesia. Foto: doc KabarBursa.com.

Daftar Isi

  1. 01 Apa yang Harus Dilakukan Investor?

KABARBURSA.COM - Pasar keuangan global kini tengah menghadapi ketegangan setelah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China kembali memanas.

Hal tersebut terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump menaikkan tarif impor dari 30 persen menjadi 130 persen terhadap produk asal China.

Pengamat Pasar Modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan konflik dagang dua negara tersebut menjadi momok baru bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

"Ketegangan ini bukan hanya mengancam rantai pasok global, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dunia yang bisa menekan ekspor dan investasi lintas negara," ujar dia dalam keterangannya yang diterima Kabarbursa.com, Senin, 13 Oktober 2025.

Bagi pasar saham Indonesia, Hendra menilai dampaknya bisa terasa  karena pelemahan sentimen risiko yang memicu aliran dana asing keluar dari aset berisiko, termasuk saham.

Sektor-sektor yang sangat bergantung pada ekspor, seperti otomotif, elektronik, dan bahan baku industri, bisa menjadi yang paling terdampak karena meningkatnya ketidakpastian global dan potensi gangguan rantai pasok akibat kebijakan proteksionis tersebut.

Di sisi lain, lanjut Hendra, ketegangan geopolitik ini bisa mendorong investor global beralih ke aset aman seperti emas dan perak, membuat harga kedua logam mulia itu melonjak tajam. Sejumlah saham yang fokus ke emas pun diuntungkan.

"Kenaikan harga ini justru menjadi katalis positif bagi saham-saham komoditas logam mulia seperti MDKA, BRMS, PSAB, dan ANTM, yang berpotensi diuntungkan dari lonjakan harga jual dan meningkatnya margin keuntungan," ungkapnya.

Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Menurut Hendra dalam situasi seperti ini, strategi terbaik bagi investor adalah selektif dan defensif. Ia kemudian merekomendasikan sejumlah sayang yang bisa dikoleksi.

Seperti TOBA (target 1.575), DKFT (target 900), OASA (target 356),  BUMI (target 168). Hendra menyebut saham-saham ini masih layak diakumulasi karena berpotensi diuntungkan dari tren naiknya harga energi dan logam.

"Di sisi lain, ada juga saham SCMA buy (target 500)," tutur dia.

Lebih jauh Hendra memandang perang dagang antara AS dan China berpotensi menjadi batu ganjalan bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun begitu, ia menyatakan investor tetap memiliki peluang yang cermat membaca arah rotasi sektor dan fokus pada emiten yang memiliki katalis fundamental kuat serta prospek komoditas global yang positif.

Secara teknikal, ia memprediksi IHSG   mulai kehilangan momentum penguatan jangka pendek setelah ditutup melemah ke level 8.227,20 pada perdagangan Senin, 13 Oktober 2025.

"Penutupan di level 8.227,20 menunjukkan IHSG sedang menguji area resistance kuat di kisaran 8.247. Dengan stochastic yang sudah masuk ke area overbought, tekanan jual masih berpotensi muncul terutama jika indeks gagal bertahan di atas level psikologis 8.211 (MA5)," katanya.

Namun jika koreksi berlanjut, Hendra memperkirakan IHSG bisa menguji area support di kisaran 8.050–8.096 (MA20) sebelum kembali mencoba rebound.

"Meskipun begitu, peluang rebound jangka pendek tetap terbuka mengingat beberapa saham berkapitalisasi kecil dan sektor komoditas masih menunjukkan aliran beli yang kuat," pungkasnya. 

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait